Romo Magnis: Lima komitmen yang harus dimiliki dalam berbangsa

Budayawan sekaligus rohaniawan Franz Magnis-Suseno atau akrab disapa Romo Magnis menyebutkan ada lima komitmen yang harus dimiliki dalam berbangsa dan bernegara.

"(Pertama) komitmen pada bangsa, tentu kita boleh mempunyai komitmen pada diri kita sendiri pada keluarga kita tetapi kalau kita mau maju, mari kita juga selalu memajukan bangsa kita, maju sebagai bagian bangsa," kata Romo Magnis dalam diskusi virtual bertajuk Kritik Atas Manifesto Politik 2022: "Mempercantik Keindahan Indonesia Dengan Akal Sehat" dipantau pada Minggu.

Ia mengatakan dengan komitmen pada bangsa diharapkan mencapai kehidupan yang adil dan makmur di masyarakat.

"Kita tidak mendewakan bangsa, bangsa bukan yang tertinggi tetapi kita ini mencintai bangsa Indonesia, kita ingin supaya bangsa Indonesia mencapai suatu kehidupan yang adil makmur, sejahtera," ucap dia.

Kedua, kata Romo Magnis, komitmen pada demokrasi.

"Komitmen pada demokrasi, butuh 50 tahun lebih sampai Indonesia akhirnya berkat reformasi mahasiswa tahun 1998, dalam proses yang kita sebut reformasi betul-betul meng-'install' demokrasi," katanya.

Ia tidak memungkiri bahwa demokrasi yang berjalan saat ini masih banyak kelemahan. Namun, tugas kita adalah memperbaikinya.

"Jangan mengizinkan demokrasi itu dibongkar lagi. Jangan kita izinkan kedaulatan rakyat itu dicabut bahwa kita akhirnya punya sistem 'one person one vote' itu suatu kemajuan yang luar biasa. Kita harus perbaiki demokrasi dan menolak segala pembongkaran," ujar Romo Magnis.

Berikutnya adalah komitmen pada hak asasi manusia (HAM).

Menurutnya, HAM adalah sikap untuk saling menghormati sesama insan manusia.

"HAM adalah segi-segi kemanusiaan yang tidak boleh dilanggar. Kita menghormati martabat manusia. Jadi bahwa reformasi memasukkan HAM lewat amendemen ke dalam undang-undang dasar kita anggap sesuatu yang sangat bagus, perlu dibela," ujar Romo Magnis.

Keempat, komitmen pada kemerdekaan beragama dan berkepercayaan.

"Kita jangan mengizinkan sesuatu yang oleh para 'founding fathers' sudah ditolak bahwa agama ditentukan oleh siapa yang kuat siapa yang menjadi mayoritas dan sebagainya, tidak. Beragama berarti menghormati orang apapun kepercayaannya. Jadi, kita memberi komitmen pada kebebasan beragama, kemerdekaan berkepercayaan," tuturnya.

Terakhir, komitmen pada keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia menekankan bahwa pembangunan harus merata agar semua masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

"Jangan kita izinkan suatu pembangunan yang bagus-bagus cemerlang tetapi orang kecil tidak terlibat. Maka dari itu, fokus pembangunan justru harus ada pada orang yang kecil pada orang yang miskin, mereka harus merasakan itu, daerah-daerah yang ketinggalan bukan pusat-pusat, ibukota macam-macam," kata Romo Magnis.
Baca juga: Pemerintah ingin santri berperan lebih kepada bangsa dan negara
Baca juga: PT Len siapkan 6.000 motor listrik buatan anak negeri untuk Kemhan
Baca juga: Menteri Agama sebut Pancasila sebagai pemersatu bangsa di forum R20