Ronaldo Tepis Isu Klan Portugal

Liputan6.com, Madrid : Bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo membantah telah terjadi friksi atau perpecahan di ruang ganti pemain Los Blancos. Bahkan, dengan tegas, Ronaldo menegaskan tidak ada klan Portugal seperti yang selama ini dispekulasikan media massa. Pernyataan itu dilontarkan CR7, julukan Ronaldo, dalam wawancaranya dengan majalah GQ. Dalam edisi terbaru yang akan dirilis ke depan publik pada 26 Februari mendatang, Ronaldo diberi kehormatan menjadi cover.

Belakangan, seiring dengan terpuruknya prestasi Madrid di La Liga, media massa dan publik Spanyol menilai faktor penyebabnya adalah hubungan yang tak harmonis antara pelatih Jose Mourinho dan para pemain plus adanya keretakan di antara para pemain bintang Los Blancos yang memang terdiri dari pemain berbagai negara.

Setelah jangkar lini tengah asal Spanyol Xabi Alonso membantah spekulasi tersebut, kini giliran Ronaldo yang angkat bicara. Ronaldo mengakui jika di periode awal dirinya tinggal di Santiago Bernabeu, ia lebih banyak berbicara dengan rekannya di Timnas Portugal, Pepe, dan bintang Brasil, Ricardo Kaka.

Saya punya teman yang banyak, tidak hanya para pemain yang satu negara dengan saya. Tentu saja, pada awalnya, saya lebih banyak berinteraksi dengan Pepe dan Kaka. Sebab, kami menggunakan bahasa yang sama. Akan tetapi, hal itu bukan berarti ada klan di ruang ganti pemain, tegas Ronaldo.

Menyusul kritikan pedas media massa dan publik terkait buruknya penampilan Madrid di musim ini, Ronaldo mengaku menerimanya dengan tangan terbuka. Kritikan adalah bagian dari pekerjaan yang kami lakukan. Akan tetapi, yang paling membuat hati saya terluka adalah mereka (media massa dan publik) mempersoalkan masalah-masalah di luar lapangan. Saya sama sekali tidak mempersoalkan adanya kritikan terhadap penampilan kami dalam pertandingan. Sebab, sayalah yang pertama menyadari jika saya tampil buruk, imbuhnya.

Selain menyoal Madrid, Ronaldo pun menjawab pertanyaan seputar mantan mentornya di Manchester United, Sir Alex Ferguson. Ronaldo mengakui jika ia sempat terlibat salah paham dengan manajer paling tertua di Liga Premier Inggris tersebut. Namun, Sebaliknya, saya bersyukur dapat dilatih Ferguson, seorang pelatih dan sosok pribadi yang luar biasa hebatnya, puji Ronaldo.

Ketika disinggung tentang rasa sakit dan kekecewaannya yang paling dalam di musim lalu, Ronaldo menunjuk kekalahan Portugal dari Spanyol di babak semifinal Piala Eropa 2012. Ketika itu Portugal kalah adu penalti dimana Ronaldo tak sempat mengeksekusi. Kalah dalam adu penalti selalu menyakitkan. Apalagi, setelah kami tampil luar biasa selama 120 menit, ujarnya. (Marca/AS)