RS Mata NTB-Australia bakti sosial dukung penurunan kasus katarak

Rumah Sakit (RS) Mata Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama dengan pemerintah Australia menggelar kegiatan bakti sosial operasi katarak di Rumah Sakit Mandalika dalam rangka mendukung penurunan kasus kebutaan di daerah setempat.

"Hari Jumat (4/11) ini kita melakukan operasi katarak sebanyak 280 orang di Kabupaten Lombok Tengah," kata Direktur RS Mata Provinsi NTB, dr Sriana Wulandari, Sp.M, usai melaksanakan kegiatan operasi katarak di RS Mandalika di Praya, Jumat.

Ia mengatakan berdasarkan data yang dihimpun oleh Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB), tahun 2014 hingga 2016 oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Badan Litbangkes Kemenkes menunjukkan angka kebutaan di Indonesia mencapai tiga persen.

Dari jumlah itu, kata dia, sebanyak 81 persen disebabkan oleh katarak. Sedangkan angka kebutaan di Provinsi NTB itu sebanyak 4 persen dan 78 persen disebabkan oleh penyakit katarak.

"Angka kebutaan di NTB itu sekitar 27 ribu. Artinya cukup tinggi," katanya.

Oleh sebab itu, kata dia, Pemerintah Provinsi NTB terus melakukan kegiatan bakti sosial operasi katarak dalam rangka mendukung penurunan kasus kebutaan di NTB. Dimana pada awal Januari operasi katarak dilakukan di Lombok Timur sebanyak 600 orang, Sumbawa 300 orang, Kabupaten Sumbawa Barat 150 orang dan Lombok Tengah sebanyak 280 orang.

"Total yang sudah dilakukan operasi katarak di 2022 hampir 1000 lebih," katanya.

Kegiatan operasi katarak juga akan kembali dilaksanakan di RS Mata pada pertengahan bulan November 2022 dengan sasaran warga kurang mampu dan tidak memiliki BPJS. Sehingga pihaknya menghimbau kepada masyarakat yang memiliki keluarga mengidap penyakit katarak bisa mendaftar ke RS Mata Provinsi NTB.

"Kegiatan bakti sosial operasi katarak ini terus rutin dilaksanakan di semua kabupaten/kota di NTB," katanya.

Ia mengatakan, penyebab katarak adalah akibat proses penuaan yang menyebabkan perubahan pada jaringan mata, sehingga lensa mata sebagian besar terdiri dari air dan protein. Kemudian bertambahnya usia, lensa menjadi semakin tebal dan tidak fleksibel. Kondisi tersebut pada akhirnya menyebabkan pandangan kabur dan tidak tajam.

"Yang rentan terkena penyakit katarak itu nelayan dan petani, karena mereka langsung terkena cahaya matahari saat bekerja," katanya.

Untuk mencegah terjadinya penyakit katarak tersebut, masyarakat dalam bekerja di lapangan diharapkan menggunakan kaca mata dan topi untuk menghindari cahaya matahari. Selain itu, masyarakat dihadapkan mengkonsumsi sayur sayuran, namun kalau sudah terkena penyakit katarak harus dilakukan operasi.

"Kalau sudah terkena penyakit katarak, harus tetap dilakukan operasi," demikian Sriana Wulandari ​​​​​​.

Baca juga: IDI NTB gelar operasi katarak gratis

Baca juga: Kemenkes: Penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia adalah katarak

Baca juga: PMI dan ICRC bantu Pemerintah Indonesia tanggulangi katarak

Baca juga: Kemenkes: 81 persen kebutaan di Indonesia karena katarak