RS Penuh, Covid-19 Renggut Nyawa Kakak Beradik di Purbalingga

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Purbalingga - Padmiarsih (65) terbaring lemah di lantai ruang tengah rumahnya di Perumahan Graha Purnawira, Kelurahan Wirasana, Purbalingga, Kamis (8/7/2021) siang. Napasnya tersengal-sengal.

Covid-19 kemudian merenggut napas terakhirnya sebelum mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Padmiarsih sudah sepekan menjalani isolasi mandiri bersama adiknya, Supridiyati (61). Mereka hanya tinggal berdua dalam satu rumah. Hari itu kondisi kedua kakak beradik ini memburuk. Mereka mulai merasakan sesak napas.

Siang itu tetangganya datang menjenguk atas permintaan keponakan yang tinggal di Jakarta. Ketika masuk rumah, kedua bersaudara itu mulai kritis. Warga sekitar kemudian melaporkan kondisi pasien ke bidan desa sebagai petugas kesehatan kelurahan setempat.

Petugas kesehatan datang dan mengecek kondisi pasien sebelum akhirnya memanggil bantuan dari Puskesmas Purbalingga. Petugas datang dengan membawa dua ambulans.

Namun, kedua pasien tak bisa dibawa ke rumah sakit karena semua penuh pasien Covid-19. Kedua pasien ini hanya bisa mendapat bantuan oksigen di dalam kabin mobil ambulans yang terparkir di depan rumah. Itupun tak lama karena persediaan oksigen yang dibawa habis setelah beberapa menit dihirup pasien.

Mereka akhirnya kembali menjalani isolasi mandiri di rumah. Mereka harus rela bergelut dengan gejala Covid-19 yang dirasa makin berat. Sore harinya, mereka kembali kolaps.

Warga yang mengetahui kondisi keduanya kembali mengundang bidan desa. Setelah tiba di rumah pasien, bidan desa mengecek kondisi keduanya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Isolasi Mandiri karena RS Penuh

Kakak beradik tarjangkit Covid-19, keduanya meninggal di waktu berbeda. (Foto: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara)
Kakak beradik tarjangkit Covid-19, keduanya meninggal di waktu berbeda. (Foto: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara)

Dari hasil pemeriksaan, ia tak mendapati tanda-tanda kehidupan pada Padmiarsih. Ia ditemukan terbaring di lantai ruang tengah. Sementara Sapridiyati masih bertahan, namun napasnya tersengal-sengal dalam posisi terbaring di kursi teras rumah.

Sampai di sini, semua orang yang berkumpul di depan rumah dua bersaudara ini merasa kebingungan harus berbuat apa. Jika hendak membawa Supridiyati ke rumah sakit, bidan desa belum mendapat kabar ada tempat tidur rumah sakit yang kosong. Semua rumah sakit rujukan penuh.

Seorang warga berinisiatif mencari oksigen untuk membantu pernapasan pasien. Kebetulan di perumahan itu ada warga yang memiliki persediaan tabung oksigen pribadi.

"Saya ingat ada tetangga yang punya persediaan tabung oksigen, saya langsung kontak dan ambil tabung itu demi keselamatan Supri," kata Toto Rusmanto, tetangga pasien.

Sedangkan jenazah Padmiarsih dibiarkan terbaring. Warga tak berani mendekat, apalagi merawat jenazah Padmiarsih. Di samping itu, warga juga tak tahu prosedur pemulasaran jenazah pasien Covid-19.

Di tengah kebingungan ini, seorang tetangga yang bekerja di Sekretariat DPRD Purbalingga menghubungi Ketua Dewan, Bambang Irawan, berharap ada solusi dari permasalahan ini. Bambang ternyata bersedia datang.

Setelah sampai di lokasi, Bambang kemudian menghubungi Plt Direktur RSUD Goeteng Taroenadibrata, Hanung Wikantono, menanyakan tempat tidur ruang ICU. Bambang juga menghubungi Kepala BPBD agar mengirim tim pemulasaran jenazah pasien Covid-19.

"Kita tidak bisa saling menyalahkan, masyarakat melihat kondisi seperti sekarang wajar jika takut," ujar Bambang, Jumat siang (9/7/2021).

Kabar dari rumah sakit tiba. Sore itu kebetulan ada pasien yang keluar rumah sakit sehingga ada tempat tidur IGD yang kosong.

Selang 10 menit, sebuah mobil ambulans datang. Dua petugas medis berpakaian hazmat lengkap berwarna putih keluar dari mobil ambulans.

Kakak Meninggal di Rumah, Adik di RS

Kedua petugas bergegas mengeluarkan tandu dengan roda dari dalam mobil untuk mengevakuasi pasien. Namun saat mengangkat pasien, kedua petugas medis ini tak kuat karena pasien memiliki postur tubuh yang besar.

Petugas medis meminta bantuan warga untuk mengangkat pasien. Namun tak satupun warga yang sore itu menyaksikan proses evakuasi bersedia membantu mengangkat Supridiyati. Warga takut terpapar jika sampai kontak fisik dengan pasien.

Melihat kondisi ini, Bambang memberanikan diri menjadi relawan. Ia mengenakan pakaian hazmat lengkap berwarna merah muda dan mengangkat Supridiyati bersama dua petugas medis. Perempuan yang bekerja di toko swalayan itu akhirnya berhasil dilarikan ke IGD RSUD Goeteng Taroenadibrata.

Bambang mengaku tidak berniat menjadi pahlawan. Dalam benaknya, ia juga merasa takut. Tetapi ia tak bisa membiarkan pasien itu terlunta-lunta lebih lama, sementara kondisinya makin kritis.

"Rasa takut ada tapi kalah oleh rasa kemanusiaan," kata Bambang.

Perkembangan terakhir Supridiyati dinyatakan meninggal dunia, Jumat (9/7/2021) pukul 20.05 WIB. Ia rencananya akan dimakamkan menggunakan protokol pemakaman pasien Covid-19 di pemakaman Kristen Lor Klawing, Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang.

Meskipun akhirnya tak selamat, namun semua upaya warga menunjukkan ada solidaritas sesama untuk pasien Covid-19. Solidaritas ini menjadi modal berharga untuk bangkit dari badai pandemi yang sedang dihadapi.

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel