RSUD Wonosari Gunungkidul memiliki alat PCR kapasitas 20 sampel/hari

Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki alat pemeriksaan polimerase chain reaction COVID-19 dengan kemampuan 20 sampel per hari.

Direktur RSUD Wonosari dr. Heru Sulistyowati di Gunungkidul, Kamis, mengatakan alat pemeriksaan polimerase chain reaction (PCR) COVID-19 yang dioperasikan mulai hari Rabu.

"Alat ini, RSUD Wonosari mampu memeriksa sekitar 20 sampel tes usap dalam sehari. Adapun dalam sekali operasi, alat tersebut mampu memeriksa empat sampel sekaligus dalam waktu satu setengah jam," kata Heru Sulistyowati.

Selama ini, kata Heru, sampel tes usap dari Gunungkidul harus dikirimkan ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta. Prosesnya terbilang lama karena harus mengantre dengan sampel kiriman dari daerah lainnya.

Baca juga: Vaksinasi COVID-19 penguat di Gunung Kidul capai 7,5 persen

Baca juga: RSUD Wonosari Gunung Kidul tingkatkan produksi oksigen

"Biasanya pemeriksaan harus dilakukan di Kota Yogyakarta, sekarang bisa kami lakukan sendiri. Saat ini proses pemeriksaan dilakukan saat jam kerja, menyesuaikan kemampuan tenaga," kata Heru.

Selain alat periksa PCR, RSUD Wonosari juga meningkatkan kapasitas produksi oksigennya. Peningkatan tersebut dibantu dengan mesin terbaru yang memiliki kapasitas produksi oksigen 250 liter per menit (lpm).

Menurut Heru, adanya mesin baru ini membuat kemampuan produksi oksigen RSUD Wonosari meningkat pesat. Sebab sebelumnya RS ini memiliki tiga mesin, yang mana dua buah mesin masing-masing mampu memproduksi 120 lpm dan satu mesin dengan kemampuan 100 lpm.

"Jadi sebelumnya kami mampu produksi sekitar 500 lpm oksigen, sekarang bertambah jadi 750 lpm oksigen," katanya.

Bupati Gunungkidul Sunaryanta meninjau langsung alat periksa PCR dan mesin produksi oksigen terbaru RSUD Wonosari.

Menurutnya, generator oksigen tersebut merupakan hibah dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.

Ia menilai peningkatan kemampuan ini bisa menjadi bagian dari antisipasi jika terjadi lonjakan pasien COVID-19. Apalagi dengan satu mesin baru ini, oksigen yang diproduksi dalam satu jam bisa mencapai 12 ribu liter.

"Tentu ini bisa dijadikan antisipasi, namun kami berharap lonjakan pasien COVID-19 tidak terjadi," kata Sunaryanta.

Baca juga: Kasus naik, Gunung Kidul wacanakan Puskesmas Ponjong II sebagai isoter

Baca juga: Pasien COVID-19 probable Omicron di Gunung Kidul sudah sembuh