WHO: Ruang untuk bendung virus corona menyempit saat jumlah kasus meningkat

Jenewa (AFP) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan Jumat bahwa ruang untuk membendung wabah virus corona yang mematikan semakin menyusut, di tengah kekhawatiran atas lonjakan kasus yang tidak memiliki kaitan jelas dengan China.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus selama berminggu-minggu menegaskan rendahnya jumlah kasus COVID-19 di luar episentrum wabah mematikan di Provinsi Hubei tengah China memberikan "ruang peluang" untuk membendung penyebaran internasional.

Tetapi ketika kasus melonjak di Timur Tengah dan di Korea Selatan pada Jumat, ia memperingatkan untuk pertama kalinya bahwa "kita masih dalam fase di mana upaya membendung masih mungkin ... ruang kesempatan kita semakin sempit."

Dia memperingatkan bahwa jika negara-negara tidak cepat bergerak untuk memerangi penyebaran virus, "wabah ini bisa mengarah ke segala arah. Bahkan bisa buruk."

Wabah yang dimulai pada bulan Desember itu telah menewaskan lebih dari 2.200 orang dan menginfeksi lebih dari 75.500 di China.

Lebih dari 1.150 orang juga telah terinfeksi dan lebih dari selusin telah meninggal di 27 negara lain.

Pada Jumat, kasus-kasus virus mematikan dilaporkan di sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk di Israel dan Lebanon untuk pertama kalinya, sementara Iran mengatakan empat orang di sana telah meninggal dan 18 orang terinfeksi wabah tersebut.

Infeksi juga hampir dua kali lipat di Korea Selatan menjadi 204 kasus, Yang menjadikannya negara yang paling terdampak di luar China.

Di Eropa, sementara itu, sebuah kota kecil di Italia utara menutup bar, sekolah dan kantor hingga lima hari untuk mencoba memadamkan ketakutan atas enam kasus virus.

Tedros menekankan bahwa jumlah kasus di luar China masih "relatif kecil".

Tetapi dia menyuarakan keprihatinan "tentang jumlah kasus tanpa hubungan epidemiologis yang jelas, seperti riwayat perjalanan ke atau kontak dengan kasus yang dikonfirmasi," mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk "sangat, sangat serius" tentang mencegah penyebaran virus.

"Kita tidak boleh menoleh ke belakang dan menyesali bahwa kita gagal memanfaatkan peluang yang kita miliki."

Sementara itu China menunjuk angka resmi yang menunjukkan kasus baru di negara itu melambat pekan ini sebagai bukti bahwa tindakan pembendungan drastisnya berhasil, tetapi infeksi baru muncul di dua rumah sakit Beijing, dan lebih dari 500 lainnya dilaporkan di penjara di seluruh negeri.

Pihak berwenang China telah menempatkan puluhan juta orang di bawah karantina di Provinsi Hubei tengah yang terpukul parah, membatasi pergerakan di kota-kota lain yang jauh dari pusat wabah dan menutup sekolah-sekolah nasional.

Pada pertemuan Politbiro yang diketuai oleh Presiden China Xi Jinping pada Jumat, pimpinan itu mengatakan puncak epidemi "belum tiba", dan situasi di Hubei dan Wuhan tetap "suram dan kompleks," menurut media pemerintah.

Banyak negara telah melarang pelancong dari China dan maskapai menunda penerbangan ke dan dari negara itu.

WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan internasional atau pembatasan perdagangan, tetapi Tedros meminta negara-negara untuk mengambil tindakan "proporsional" untuk melindungi terhadap penyebaran virus internasional.

Di Korea Selatan yang terdamoak parah, lebih dari 120 anggota Gereja Shincheonji Yesus, sebuah sekte keagamaan di kota Daegu selatan, kini telah terinfeksi.

Walikota Daegu - kota terbesar keempat Korea Selatan, dengan populasi lebih dari 2,5 juta - telah menyarankan penduduk untuk tinggal di dalam rumah.

Kebanyakan orang di jalanan mengenakan masker pada Jumat, tetapi banyak bisnis tutup dan para pekerja menyemprotkan desinfektan di luar gereja.

"Dengan begitu banyak kasus yang dikonfirmasi di sini, saya khawatir Daegu akan menjadi Wuhan kedua," kata Seo Dong-min, 24, merujuk ke ibukota Hubei, tempat virus pertama kali muncul.

Dua warga Australia dan seorang warga Israel yang dievakuasi dari kapal pesiar Diamond Princess dinyatakan positif virus corona saat kembali ke negara asal mereka, meskipun telah dinyatakan bebas di Jepang.

Kasus itu akan memicu pertanyaan tentang kebijakan Tokyo yang memungkinkan mantan penumpang Diamond Princess kembali ke rumah setelah pengujian negatif.

Dua mantan penumpang, warga Jepang dan berusia 80-an, meninggal di Jepang pada hari Kamis.

China melaporkan 118 kematian lagi pada hari Jumat, meningkatkan jumlah korban menjadi 2.236, kebanyakan dari mereka di Hubei.

Komisi Kesehatan Nasional juga mengatakan dalam pembaruan hariannya bahwa China menghitung 889 kasus baru, naik dari hari sebelumnya ketika melaporkan jumlah terendah infeksi baru dalam hampir sebulan, memicu harapan bahwa epidemi mendekati puncaknya.

Tetapi angka-angka Hubei telah menimbulkan pertanyaan karena para pejabat telah mengubah metode penghitungan kasus dua kali dan mengubah angka-angka mereka.

Seorang dokter Wuhan berusia 29 tahun meninggal pada Kamis, menjadikannya salah satu korban epidemi termuda yang diketahui dan yang kedelapan di antara pekerja medis.

Titik api baru ditemukan di beberapa penjara dan rumah sakit, yang memicu pemecatan sejumlah pejabat.