Rudy Giuliani, dari "Walikota Amerika" menjadi pedagang teori konspirasi Trump

·Bacaan 4 menit

New York (AFP) - Pewarna rambut yang meluntur di sisi wajahnya saat dia menyatakan caudillo (pemimpin) Venezuela Hugo Chavez yang telah lama meninggal dunia menjadi penyebab kekalahan Presiden Donald Trump pada pemilu telah memperjelas satu hal bahwa Rudy Giuliani bukan lagi "Walikota Amerika."

Sanjungan yang didapatkan Giuliani atas keteguhan hatinya yang menenangkan dalam memimpin Kota New York setelah serangan 11 September 2001 telah dibuyarkan oleh serangkaian tudingan yang kian aneh bahwa Demokrat, media, dan ya, mendiang diktator Venezuela, telah merampok terpilihnya lagi Trump.

Konferensi persnya Kamis yang memaksakan teori konspirasi pemilu tanpa disertai bukti adalah tampilan terbaru Giuliani yang berani dan tanpa menunjukkan fakta atas nama Trump yang kalah pada pemilu 3 November dari calon Demokrat Joe Biden namun menolak mengakui kalah.

"Kita tak boleh membiarkan penjahat-penjahat ini, karena seperti itulah mereka, mencuri pemilu dari rakyat Amerika. Mereka (rakyat AS) memilih Donald Trump. Mereka tidak memilih Joe Biden," kata Giuliani, mengabaikan selisih suara hampir enam juta yang diperoleh Biden atas Trump.

Gubernur Maryland yang berasal dari Republik, Larry Hogan, menyebut konferensi pers itu sebagai "kereta hancur".

Dan Chris Krebs, kepala keamanan pemilu AS yang baru-baru ini dipecat oleh Trump, menyebut konferensi pers itu "1 jam 45 menit di televisi yang paling berbahaya dalam sejarah Amerika. Dan mungkin yang paling gila."

Menurut New York Times pekan ini, Giuliani telah meminta dibayar 20.000 dolar AS per hari untuk penampilannya atas nama Trump, meskipun laporan yang sama mengatakan tidak jelas berapa banyak kompensasi yang pada akhirnya akan dia terima.

Selain uang, Robert Polner, editor sebuah buku tentang Giuliani, mengatakan bahwa jaksa penuntut federal yang dulu ditakuti dan kemudian beralih menjadi walikota New York itu selalu menjadi "petualang politik yang gelisah" di mana kredibilitas bukanlah prioritasnya.

Serangan 9/11 membuat Giuliani bersiap untuk hal-hal yang lebih besar di mana seorang penulis membandingkan tanggapan yang dia ambil dengan Winston Churchill.

Tetapi itu mungkin saat terbaik Giuliani.

Dia mengarahkan pandangannya untuk mencalonkan diri menjadi penguasa Gedung Putih pada 2008, tetapi strategi pemilihan pendahuluan yang dipertanyakan gagal, seperti halnya dia bersandar pada kredensial 11 September tanpa mengembangkan platform lebih luas.

"Hanya ada tiga hal yang dia sebut dalam sebuah kalimat: sebuah kata benda, sebuah kata kerja dan 9/11," kata Biden yang tahun itu berusaha menjadi calon presiden dari Partai Demokrat.

Kekalahan pencalonan presiden pada 2008 membuat dia terombang-ambing, tetapi akhirnya teman lama dia dan sekutu politiknya di New York, Trump, menawarkan jalan ke depan.

"Giuliani melihat jalan menuju kekuasaan sebagai hasil dari persahabatannya dengan Trump dan tidak pernah lagi menoleh ke belakang," kata Polner.

Energi dan kesediaannya dalam membela Trump pada segala hal membuat dia sangat penting.

Ketika sebuah rekaman yang memalukan mengancam bakal membunuh peluang Trump pada pemilu 2016, Giuliani melakukan wawancara televisi secara maraton untuk menjelaskannya yang efektif mensterilkan masalah itu.

Setelah pemilu, Trump tidak memenuhi keinginan dia menjadi menteri luar negeri, tetapi Giuliani hampir tidak menderita.

Dia memperoleh jutaan dolar dari berbagai negara dan perusahaan yang membutuhkan pelobi yang tersambung langsung ke Oval Office (kantor presiden).

Pada awal 2018, sang presiden mempekerjakan dia guna membantunya melawan penyelidikan Mueller.

Dengan kecakapan memainkan tampil di depan umum seperti dimiliki Trump, Giuliani hadir konstan di televisi guna membela presiden itu dan menuduh para penyidik dan media korup serta bias.

Tanpa lelah, dia sering berbicara begitu banyak sampai-sampai dia mesti membantah apa yang sudah dia ucapan beberapa saat sebelumnya, atau seperti pada Agustus 2018 di NBC ketika membela presiden dengan pernyataan luar biasa seperti "Kebenaran bukanlah kebenaran."

Namun upaya-upaya Giuliani juga menciptakan masalah.

Mengantisipasi kemungkinan Biden mencalonkan diri melawan Trump pada 2020, pada akhir 2018 Giuliani memimpin upaya mencari aib tokoh Demokrat ini dan putranya yang pernah berbisnis di Ukraina.

Berdasarkan temuan yang diaku Giuliani, Trump membekukan bantuan kepada Ukraina dengan meminta presiden negara itu agar menyerahkan bukti dugaan korupsi Biden.

Tindakan ilegal itu menyebabkan Trump menjadi presiden ketiga dalam sejarah AS yang dimakzulkan.

Upaya membalikkan kekalahan Trump dalam pemilihan umum sepertinya merupakan tantangan paling Sisyphean (paling licik) bagi Giuliani.

Sebuah briefing yang dia sebut acara pers besar setelah pemungutan suara diejek tanpa ampun ketika diketahui bahwa tempat tersebut bukanlah hotel mewah Four Seasons di Philadelphia seperti telah dicuit Trump, melainkan sebuah pusat taman pinggiran kota antara krematorium dan toko buku dewasa, Four Seasons Total Landscaping.

Untuk menumpuk aib, konferensi pers diadakan di saat jaringan-jaringan berita AS mengumumkan Trump kalah dalam pemilu setelah empat hari penghitungan suara.

Beberapa kasus Giuliani dicabut atau dihentikan karena tidak beralasan. Dalam persidangan pekan ini, dia terus mengecam kecurangan pemilu sampai hakim memaksa dia agar mengakui bahwa kasus yang ada tidak ada kaitannya dengan penipuan.

Dalam konferensi persnya Kamis, dia mengklaim memiliki bukti kejahatan pemilu, tetapi tidak mau menunjukkannya.

Beberapa bukti lain yang dia berikan, pernyataan-pernyataan diduga saksi, seketika dibantah oleh media.

Tetapi itu tidak menghentikan dia.

"Kami memiliki cukup bukti tanpa hal itu untuk membatalkan pemilu ini. Kami mendapatkannya dari pernyataan tertulis warga Amerika, namun saat ini yang kami bicarakan itu adalah masalah keamanan nasional," kata dia.

"Jika itu bukan berita utama besok, maka Anda tidak tahu apa itu berita utama."

pmh/st