Rumah Adat 34 Provinsi Lengkap dengan Penjelasan dan Gambarnya

·Bacaan 12 menit

VIVARumah adat 34 provinsi adalah sebuah bangunan yang dibuat dengan cara sama dari generasi ke generasi tanpa adanya perubahan. Rumah adat masih mempertahankan kegunaan, fungsi sosial, dan budaya di balik corak bangunannya. Setiap rumah adat di 34 provinsi memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Rumah ini bisa digunakan untuk hunian suatu suku bangsa atau menjadi tempat bersejarah.

Selain itu, karena negara Indonesia berada diantara benua Asia dan Australia serta berada diantara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik menjadikan negara ini memiliki keanekaragaman suku bangsa, bahasa, dan adat kebiasaan. Itulah mengapa budaya yang muncul di setiap daerah berbeda-beda.

Berbicara mengenai budaya Indonesia, tentunya sebagian besar dari kamu belum mengetahui rumah adat 34 provinsi. Seperti yang kita ketahui, rumah adat di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri yang membedakan dengan daerah lainnya. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita memiliki keahlian dalam bidang arsitek.

Rumah Adat 34 Provinsi

Provinsi Aceh: Rumoh Aceh

Rumah adat dari Provinsi Aceh adalah Rumah Krong Bade atau yang lebih dikenal sebagai “Rumoh Aceh”. Salah satu ciri khas dari rumah ini terletak pada tangga bagian rumah. Tangga ini digunakan untuk pintu masuk para tamu atau orang yang tinggal di sana. Tangga ini memiliki tinggi sekitar 2.5 sampai 3 meter dari permukaan tanah.

Selain itu, jumlah anak tangga rumah ini biasanya ganjil. Kemudian kamu juga bisa melihat dinding rumah dengan ukiran khas yang disesuaikan dengan tingkat ekonomi penghuninya. Bentuk rumah ini persegi panjang dari timur ke barat. Sedangkan untuk bagian atap menggunakan daun rumba. Bagian dalam rumah memilki tempat tersendiri seperti ruang santai, ruang inti, sampai gudang.

Provinsi Sumatera Utara: Rumah Bolon

Rumah Bolon adalah rumah khas suku Batak yang berasal dari Sumatera Utara. Pada awalnya rumah ini digunakan untuk tempat tinggal 13 raja yang tinggal di Sumatera Utara. Selain itu, terdapat beberapa jenis rumah adat ini, mulai dari Bolon Toba, Bolon Karo, Bolok Pakpak, Bolon Angkola, dan Bolon Simalungun.

Rumah adat ini memiliki bentuk persegi empat memanjang. Tinggi rumah dari permukaan tanah sekitar 1.75 meter. Kemudian untuk masuk ke dalamnya, dilengkapi dengan tangga di badan rumah. Pada setiap sudut rumah ini dilengkapi dengan tiang-tiang kokok sebagai penopangnya. Sedangkan atapnya mirip dengan bentuk pelana kuda. Selain itu, di dalam rumah Bolon terdapat salah satu ruang jabu soding yang digunakan untuk anak perempuan.

Provinsi Sumatera Barat: Rumah Gadang

Rumah adat 34 provinsi Sumatera Barat ini memiliki sebutan lain yaitu Rumah Bagonjong atau Rumah Baanjung. Apabila kamu datang ke Sumatera Barat, kamu pasti menemukan rumah ini, tapi hanya ada di beberapa daerah saja. Rumah ini berbentuk persegi panjang dengan atap yang berbentuk seperti tanduk kerbau.

Atap rumah ini terbuat dari ijuk, namun ketahanannya tidak perlu diragukan lagi. Biasanya hanya ada satu tangga dalam bangunan ini. Kemudian dinding rumah ini memakai ukiran-ukiran yang menghiasi supaya lebih indah dan sarat akan makna. Motif dari ukiran tersebut biasanya berbentuk bunga merambat, buah, atau daun.

Provinsi Riau: Rumah Melayu Selaso

Terdapat hal menarik dari rumat adat Riau ini, yaitu memiliki ukiran yang menjadi ciri khasnya. Ukiran tersebut mengambil tema lebah bergayut, pucuk rebung, selembayung, dan lain-lain. Rumah ini juga sering disebut sebagai Rumah Selaso Jatuh Kembar. Fungsi rumah ini bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk bermusyawarah.

Rumah adat Riau ini memiliki beberapa ruangan didalamnya yaitu ruang besar yang berfungsi untuk tempat tidur. Ruang anjungan, dapur, sampai ruang bersila. Sedangkan bentuknya adalah persegi panjang. Kemudian rumah ini dinamakan sebagai Selaso Jatuh Kembar karena memiliki bangunan yang lebih rendah daripada ruang tengahnya.

Provinsi Kepulauan Riau: Rumah Belah Bubung

Rumah adat Kepulauan Riau adalah Belah Bubung, rumah ini berbentuk rumah panggung dengan rangka yang terbuat dari bubung atau bambu. Selain itu, rumah ini memakai desain yang tampak terbelah, kemudian pada dinding rumah terbuat dari papan kayu dan atapnya rumbia.

Jika kita melihat ke dalamnya, rumah ini terdiri dari beberapa ruangan yaitu selasar atau pendopo yang dipakai untuk merenima tamu, rumah induk tempat ibu dan anak perempuan, ruang tengah yang digunakan untuk kamar anak laki-laki, ruang dalam digunakan untuk kamar orang tua dan dapur atau panggah.

Provinsi Jambi: Kajang Leko

Rumah ini merupakan rumah dengan desain tertua yang ada di Jambi, sehingga Kajang Leko layak dinobatkan sebagai rumah adat Provinsi Jambi. Rumah ini memiliki bentuk persegi panjang dan dilengkapi dengan dua buah tangga. Atap rumah ini dinamakan sebagai ‘Gajah Mabuk’ karena tampak seperti perahu dengan ujung atas yang melengkung.

Kemudian pada bagian dalam, rumah ini memiliki dua lantai yang terdiri atas pelamban atau ruang tamu, gaho atau dapur, masinding atau tempat bermusyawarah, balik menalam atau kamar, balik malintang, dan bauman atau zona masak saat kenduri.

Provinsi Sumatera Selatan: Rumah Limas

Sesuai namanya, rumah adat ini memiliki bentuk limas. Terdapat filosofi budaya pada tingkatan bangunan ini yang dikenal sebagai “bengkilas” oleh masyarakat setempat. Kemudian untuk tamu yang datang ke sana akan diminta untuk singgah di ruang atas atau di teras. Bukan tanpa asalan, hal ini merupakan tradisi warga setempat untuk merasakan budaya Palembang yang tampak pada ukirannya.

Dalam rumah ini terdapat 5 ruangan yang dinamakan sebagai “Kekijing”. Lima ruangan ini ternyata memiliki arti lima jenjang kehidupan manusia yaitu usia, bakat, jenis, pangkat, dan martabat. Kemudian pada tingkat pertama dinamakan sebagai “pagar tenggalung” yang tidak memiliki pembatas. Ruangan ini menyuguhkan suasana yang santai untuk menerima tamu.

Provinsi Bangka Belitung: Rumah Rakit

Terdapat tiga jenis rumah adat Bangka Belitung yaitu Rumah Rakit, Rumah Limas, dan Rumah Panggung. Ketiga rumah ini memiliki sentuhan arsitektur melayu. Saat ini, rumah tersebut banyak dibangung di tepi sungai Musi dan ditempati oleh orang Tionghoa.

Rumah ini terbuat dari material bambu, tapi bukan sembarang bambu yang dipakai. Bambu yang dipakai harus bambu manyan yang memiliki ukuran besar dan ketahanannya tidak dapat diragukan lagi.

Provinsi Bengkulu: Rumah Bubungan Lima

Sama dengan rumah panggung, rumah ini memiliki tiang pada bagian penopangnya. Rumah ini biasanya tidak digunakan seperti rumah pada umumnya melainkan digunakan untuk acara masyarakat Bengkulu. Jika menilik ke bagian dalam, rumah ini terdiri atas tiga bagian yaitu bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah.

Rumah ini terbuat dari bahan utama kayu. Namun tetap, kayu yang digunakan bukan sembarang kayu. Kayu tersebut merupakan Kayu Medang Kemuning yang dianggap memiliki kualitas terbaik. Setiap orang yang bertamu ke rumah ini harus menggunakan tangga untuk memasukinya.

Provinsi Lampung: Rumah Nuwo Sesat

Provinsi Lampung memiliki rumah adat yang dinamakan sebagai Nuwo Sesat. Rumah tersebut dibangun secara khusus untuk dipakai untuk pertemuan adat bagi penyimbang untuk bermusyawarah. Rumah ini memiliki ciri khas dari bentuknya yang panggung. Kemudian pada sisi bangunan terdapat ornamen khas dan berbeda.

Rumah adat ini biasanya memiliki ukuran yang sangat besar. Namun, apabila kamu ke lampung untuk menjumpai rumah ini akan sangat terkejut karena kebanyakan zaman sekarang ukurannya cenderung lebih kecil dari ukuran aslinya.

Provinsi Banten: Rumah Badui

Rumah Badui adalah salah satu rumah dari Provinsi Banten yang mana penghuninya adalah suku badui. Suku badui merupakan salah satu kelompok etnis yang berdomisili di Kabupaten Lebak, Banten. Rumah ini memiliki bentuk Julang Ngapak. Biasanya rumah ini terbuat dari bahan bambu dan atapnya dari ijuk.

Rumah ini digunakan untuk tempat berlindung dan mendapatkan kenyamanan. Selain itu, suku Badui juga terkenal dengan kekeluargaannya yang sangat kental. Hal ini karena dalam membuat rumah tersebut harus saling bergotong royong.

DKI Jakarta: Rumah Kebaya

DKI Jakarta juga memiliki rumah adat yang dinamakan sebagai rumah Kebaya. Rumah ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari rumah tradisional yang lain. Ciri khas ini terdapat pada atapnya yang mirip dengan pelana terlipat.

Pada bagian samping terdapat lipatan-lipatan kebaya. Kemudian untuk corak ornamennya mengusung tema corak khas Betawi. Selain itu, rumah ini juga disebut sebagai bagian dari keraton Cirebon.

Provinsi Jawa Barat: Rumah Keraton Kasepuhan

Rumah adat 34 provinsi Jawa Barat ini berdiri pada tahun 1529 yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana. Perlu diketahui sebetulnya rumah ini merupakan perluasan dari keraton sebelumnya yaitu Keraton Pakungwati. Jika kamu berkungjung ke tempat ini kamu akan disambut dengan pintu utama keraton yang cukup unik.

Ketika kamu masuk ke dalam gerbang akan melihat kreteg pangrawitan dan barulah kamu bisa melihat keraton tersebut. terdapat dua halaman yang bisa dikunjungi yaitu halaman pertama dan kedua.

Provinsi Jawa Tengah: Joglo

Rumah Joglo adalah rumah adat dari Jawa Tengah, kamu mungkin sudah sering mendengar nama rumah ini. Didalamnya terdaoat ruang depan yang disebut pendopo, ruangan ini berfungsi untuk tempat menerima tamu.

Ciri khas dari rumah adat Indonesia ini terletak pada corak ornamennya yang memiliki sentuhan kejawen. Pantas saja sebab sentuhan tersebut mengambil tema suku Jawa yang terlihat dalam beberapa sisi rumah ini.

DI Yogyakarta: Ruma Joglo

Ruma Joglo DI Yogyakarta terbagi ke dalam dua bagian yaitu rumah induk dan rumah tambahan. Kemudian di dalam rumah induk terdapat delapan bagian, sedangkan untuk rumah tambahan hanya berisi pelengkap untuk rumah induk. Di dalam rumah induk terdapat pendopo, pringitan, teras, rumah dalam, senthong kiwa, senthong tengah, senthong tengen, dan gandhok.

Provinsi Jawa Timur: Rumah Joglo

Rumah Joglo ini berbeda dengan Rumah Joglo Jawa Tengah, meskipun pada beberapa bagian terdapat kemiripan. Rumah adat ini dibangun untuk dua fungsi yaitu tempat tinggal dan beberapa peninggalan sejarah. Nuansa sejarah sangat terlihat dari bentuk dan tata ruang rumah ini.

Ciri khas rumah ini terletak pada ukuran dan bentuknya. Meskipun sederhana, rumah ini memiliki makna seni yang tinggi seperti rumah tradisional yang lain. Bentuk rumah adat Indonesia ini adalah limas atau dara geprek.

Provinsi Bali: Rumah Candi Bentar

Di dalam rumah ini terdapat dua bagian, yaitu Gapura Candi Bentar dan rumah yang digunakan untuk hunian. Terdapat aturan khusus dalam pembangunan rumah adat Bali ini, mulai dari arah, letak bangunan, dimensi pekarangan, struktur bangunan, dan konstruksi yang harus dibuat sesuai dengan aturan agama.

Provinsi Kalimantan Barat: Rumah Panjang

Rumah adat 34 provinsi asal Kalimantan Barat ini memiliki ukuran yang cukup besar di mana terdiri dari bangunan atas dan bangunan bawah. Kamu bisa merasa kagum jika berkunjung ke rumah ini. Sebab desain rumah ini sangat keren dengan nuansa modern dan tradisional yang seakan menyatu.

Ciri khas Rumah Panjang ini terletak pada arsitekturnya. Pembangunannya mengambil tema budaya suku Dayak untuk desainnya. Sentuhan tersebut bisa diketahui pada bagian-bagian sisi bangunan.

Provinsi Kalimantan Tengah: Rumah Betang

Rumah adat ini sering dihuni oleh Suku Dayak. Rumah ini memiliki bentuk yang memanjang dengan ukuran sekitar 30 sampai 150 meter. Sedangkan lebar rumah ini bisa mencapai 3 sampai 5 meter. Setiap rumah ini biasanya dihuni oleh 100 sampai 150 jiwa lho.

Provinsi Kalimantan Utara: Rumah Baloy

Rumah ini terbuat dari bahan dasar kayu ulin. Rumah Baloy harus dibangun menghadap ke utara sedangkan pintu utamanya menghadap ke selatan. Menilik ke dalam rumah ini terdpat empat ruangan yang terdiri atas ambir kiri, ambir kanan, ambir tengah, dan lamin dalom.

Provinsi Kalimantan Timur: Rumah Lamin

Rumah Lamin secara resmi dinyatakan sebagai rumah adat di Kalimantan Timur oleh pemerintah pada tahun 1967 karena gaya arsitekturnya yang unik dan khas. Ciri utama rumah adat ini adalah bangunannya yang luas, panjang 300 meter, lebar 15 meter, dan tinggi 3 meter. Atapnya dilengkapi dengan ornamen kepala naga yang terbuat dari kayu.

Provinsi Kalimantan Selatan: Rumah Bubungan Tinggi

Rumah ini menggunakan konsep rumah panggung, terbuat dari besi dan kayu ulin. Kayu ulin sendiri dianggap memiliki kekuatan yang tidak perlu diragukan lagi. Bahkan banyak yang mengatakan jika terkena air akan menjadi lebih kuat. Atap rumah ini memiliki ketinggian 45 derajat dan sudut kemiringan.

Provinsi Sulawesi Utara: Rumah Walewangko

Rumah adat Sulawesi Utara ini berasal dari suku Minahasa yang merupakan salah satu suku terbesar di Provinsi Sulawesi Utara. Seperti halnya hunian tradisional lainnya di Indonesia, hunian Wallawangko juga memiliki gaya arsitektur, dekorasi, fungsi dan nilai filosofi yang erat kaitannya dengan adat suku setempat.

Provinsi Gorontalo: Rumah Adat Dulohupa

Rumah adat ini berbentuk rumah panggung, dengan bodi utama terbuat dari panel kayu dan struktur atap bernuansa Gorontalo. Selain itu, rumah adat Dulohupa juga memiliki tiang-tiang kayu sebagai penghias dan simbol rumah adat Gorontalo, terdapat dua anak tangga di sisi kiri dan kanan rumah adat yang merupakan simbol dari tangga adat atau disebut Tolitihu.

Provinsi Sulawesi Tengah: Souraja/Rumah Raja/Rumah Besar/Rumah Tambi

Rumah Souraja memiliki tiga kamar. Yang pertama adalah aula depan (Lonta Karwana) sebagai ruang tamu. Selain itu, ruang tamu (Lonta Tata Ugana) biasanya digunakan sebagai tempat menerima tamu yang masih memiliki kerabat dengan keluarganya. Yang terakhir adalah Kamar Rahasia (Lonta Rorana).

Provinsi Sulawesi Barat: Rumah Adat Boyang

Rumah adat Boyang berbentuk bangunan panggung yang ditopang oleh beberapa tiang besar yang tingginya sekitar 2 meter. Tiang-tiang tersebut akan digunakan untuk menopang lantai dan atap. Penggunaan tiang pada rumah adat ini tidak dimasukkan ke dalam tanah, melainkan ditumpangkan pada batu datar, yang membantu mencegah kayu tumbang.

Provinsi Sulawesi Selatan: Rumah Adat Tongkonan

Tongkonan Timur adalah tempat tinggal tradisional masyarakat Toraja, dan tempat bermukim, kekuatan adat, dan tempat berkembangnya kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja. Arsitektur Tongkenan terkenal dengan keunikan struktur bawah, tengah dan atas, dan memiliki rasa keindahan dalam struktur dan struktur.

Provinsi Sulawesi Tenggara: Rumah Adat Buton/Rumah Adat Banua Tada

Rumah adat dari Sulawesi Tenggara ini terbagi menjadi 3 tipe menurut kelas sosial pemiliknya. Kamali (Malige), rumah Banua tada digunakan sebagai tempat tinggal keluarga Sudan. Tare Pata Pale, rumah ini digunakan oleh pejabat pengadilan. Memiliki 4 pilar dan atap bersusun, dengan 2 jendela di kiri dan kanan. Tare Talu Pale, rumah Banua Tada dibangun khusus untuk masyarakat biasa, dengan tiga tiang penyangga dan atap yang simetris.

Provinsi NTB: Rumah Dalam Loka

Kediaman Adat Dalam Loka merupakan kediaman raja dari Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Rumah adat di Sumbawa Loka ini juga hanya memiliki satu pintu akses besar untuk masuk dan keluar.

Provinsi NTT: Rumah Musalaki

Dari segi gaya arsitektur, rumah Musalaki terbagi menjadi dua bagian. Di lantai rumah adat Musalaki terdapat empat tiang yang disebut wisu dalam bahasa suku Ende Lio. Di tengah rumah terdapat tiang yang disebut leke raja, yang panjangnya 1,2 m.

Provinsi Maluku: Rumah Baileo

Rumah adat ini tidak memiliki dinding dan berbentuk rumah panggung. Rumah ini memiliki 9 pilar dan juga dilengkapi dengan pamali. Merupakan sejenis batu pamali, digunakan sebagai tempat pemujaan arwah leluhur.

Provinsi Maluku Utara: Rumah Sasadu

Rumah Sasadu adalah desain rumah tradisional suku Sahu yang sudah ada di Halmahera sejak zaman dahulu. Desain rumah ini mencerminkan filosofi kehidupan sosial masyarakat Sahu. Rumah adat kuno di Maluku Utara ini memiliki beberapa ciri dan keunikan dari segi desain arsitektur dan nilai filosofisnya.

Provinsi Papua Barat: Mod aki aksa

Provinsi Papua Barat juga memiliki rumat adat yang bernama Mod Aki Aksa atau lgkojei yang menjadikan salah satu rumah adat 34 provinsi terunik. Atap rumah ini dibuat dari rumput ilalang dan lantainya dari anyaman rotan. Kemudian bagian inding terbuat dari kayu yang disusun secara horizontal-vertikal serta saling mengikat. Rata-rata tinggi rumah ini sekitar 4 sampai 5 meter dengan luas tanah sekitar 8:6 meter.

Provinsi Papua: Honai

Honai adalah salah satu rumah adat Papua dengan bentuk kerucut yang ditutupi oleh ilalang atau Jerami kering. Atap rumah ini juga terlihat mirip setengah batok kelapa dengan dibuat tidak terlalu tinggi karena bertujuan untuk menghangatkan bagian dalam rumah. Untuk aktivitas lainnya dilakukan di bangunan yang berbeda seperti makan, mandi, dan menyimpan makanan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel