Rumah.com Indonesia Property Market Index Q4 2021

·Bacaan 5 menit
Rumah.com Indonesia Property Market Index Q4 2021
Rumah.com Indonesia Property Market Index Q4 2021
pgid_2021-q4_pmi_full-report_header_large
pgid_2021-q4_pmi_full-report_header_large

Meski Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sempat jadi hambatan pada kuartal ini, situasi pasar properti terlihat masih terus melaju mengikuti arus pemulihan ekonomi nasional. Data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) Q4 2021 menunjukkan adanya peningkatan harga properti pada semua tipe properti. Insentif baru dari pemerintah daerah juga turut mendorong konsumen untuk mencari hunian idaman mereka sesegera mungkin.

Situasi yang semakin membaik ini pun ikut membuat pengembang merasa lebih optimistis menghadapi prospek ke depan. Setelah sempat mengurangi suplai demi menghabiskan stok hunian yang ada, kini produksi rumah tapak dan apartemen kembali ditingkatkan. Konsumen juga tidak lagi merasakan ketakutan dan menghindari area pusat kota yang cenderung lebih padat. Pasar properti di wilayah metropolitan tampaknya tengah mencari keseimbangan baru, menyesuaikan preferensi konsumen yang kembali berubah setelah pandemi mulai terasa mereda.

Daftar isi

  1. Sudut Pandang Rumah.com: Temuan utama RIPMI Q4 2021

  2. Tinjauan Indeks Harga dan Suplai

  3. Analisis Wilayah

  4. Kesimpulan

Baca laporan digitalnya di sini:

Sudut Pandang Rumah.com: Temuan utama RIPMI Q4 2021

Rumah.com Indonesia Property Market Index Q4 2021: Analisis Harga dan Suplai

Rumah.com Indonesia Property Market Index pada kuartal ketiga 2021 mencatat indeks harga properti hunian berada pada angka 114,8, naik sebesar 1,80% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ). Pertumbuhan harga properti tampak agak melambat jika dibandingkan dengan kenaikan pada kuartal kedua 2021 (2,24%/QoQ). Berdasarkan jenis propertinya, rumah tapak dan apartemen masing-masing mengalami peningkatan sebesar 1,81% dan 0,84% dibanding kuartal sebelumnya (QoQ). Adapun secara tahunan (year-on-year/YoY), harga properti keseluruhan naik sebesar 3,24%, harga rumah tapak naik 4,39%, dan harga apartemen turun 2,57%.

Melambatnya kenaikan harga properti hunian ini sepertinya disebabkan oleh melimpahnya suplai properti hunian pada kuartal ketiga 2021. Berada pada angka 191,1, indeks suplai meningkat sebesar 9,58% secara kuartalan. Sebelumnya, suplai properti sempat turun sebesar 2,13% secara kuartalan pada Q2 2021. Berdasarkan jenis propertinya, suplai rumah tapak meningkat sebesar 9,44% sedangkan aapartemen sebesar 7,31% secara kuartalan. Pertumbuhan harga dan suplai ini tampaknya didorong oleh kondisi perekonomian nasional dan insentif pemerintah terhadap sektor properti yang kembali bertambah.

PPKM Darurat Pengaruhi Kondisi Ekonomi Nasional

Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2021 akan berada pada kisaran 4-5% secara tahunan (year-on-year/YoY), sedikit lebih rendah daripada kuartal kedua 2021 yang sempat mencapai 7,07% secara tahunan. Tampaknya, kondisi ini didorong oleh adanya kebijakan PPKM Darurat pada Juli 2021 silam.

Selain melambatkan kenaikan harga properti, PPKM juga berefek pada menurunnya tren pencarian properti di situs Rumah.com. Indeks pencarian pada kuartal ketiga 2021 turun sebesar 3,87% secara kuartalan. Penurunan paling besar terlihat pada segmen properti di bawah Rp1 miliar. Pada Q2 2021, 57% pengunjung Rumah.com menyasar hunian pada kisaran harga tersebut, namun kemudian proporsi ini turun menjadi 48%.

Perpanjangan DP Nol Persen dan Diskon BPHTB dari Pemerintah Daerah

Perpanjangan insentif Pajak Penambahan Nilai (PPN) properti diperpanjang hingga Desember 2021, diikuti dengan perpanjangan kebijakan uang muka alias down payment (DP) nol persen diteruskan sampai Desember 2022. Sementara itu, suku bunga BI 7DRR per Oktober 2021 masih menempati angka 3,5 persen.

Di sisi lain, sejumlah pemerintah daerah memberlakukan insentif tambahan berupa diskon Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan atau BPHTB. Kebijakan ini di antaranya berlaku di DKI Jakarta, Kota Tangerang, dan Kota Bogor dengan persentase dan rentang waktu yang berbeda-beda.

Analisis Wilayah: Bogor dan Tangerang Makin Diminati, Jakarta Barat Terkoreksi

Kota Tangerang Paling Prospektif di Banten

Kenaikan harga tertinggi pada kuartal ketiga 2021 masih terjadi di tiga provinsi yang masuk area Jabodetabek, yakni Banten (3,07%), Jawa Barat (2,30%), dan DKI Jakarta (1,81%). Di Banten, Kota Tangerang mencatat pertumbuhan harga tahunan paling signifikan, yakni sebesar 17,04%, diiringi dengan kenaikan suplai tahunan sebesar 39,93%. Sayangnya, tren pencarian di wilayah ini turun drastis, yakni sebesar 11,02% secara kuartalan. Selain itu, Kota Tangerang tampaknya menjadi sasaran kalangan menengah yang menargetkan hunian di kisaran harga Rp300-750 juta.

Kota Bogor Makin Diminati, Pencarian Properti Naik

Sementara itu, Kota Bogor menjadi wilayah yang semakin menarik di mata konsumen. Di saat kota lain mengalami penurunan tren pencarian pada Q3 2021, area ini justru meraup pertumbuhan di atas 20% secara kuartalan. Situasi tersebut mungkin dipengaruhi oleh harga yang cenderung stagnan selama dua kuartal berturut-turut sehingga dinilai lebih menguntungkan untuk dibeli segera, terutama jika berniat investasi. Suplai hunian di Kota Bogor juga terus meningkat agar dapat mengikuti permintaan pasar yang semakin tinggi.

Jakarta Barat Terkoreksi Paling Dalam

Di sisi lain, Jakarta Barat mencatat penurunan terbesar di DKI Jakarta. Kota administratif ini menjadi satu-satunya wilayah di DKI Jakarta yang mengalami penyusutan harga properti pada Q3 2021. Kondisi tersebut terlihat kontras dengan kuartal sebelumnya, ketika Jakarta Barat mengalami kenaikan harga terbesar secara kuartalan. Meski demikian, peluang untuk kembali bertumbuh masih tetap ada. Penurunan harga kelihatannya lebih dipengaruhi oleh peningkatan suplai properti yang begitu besar. Kenaikan suplai mencapai 11,81% pada Q3 2021, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Walaupun tren pencarian properti di area ini turun sebesar 4,53% secara kuartalan, proporsinya masih meliputi 10% dari total pencarian yang dilakukan di situs Rumah.com.

Kesimpulan

Data RIPMI kuartal ketiga 2021 menunjukkan kenaikan harga properti di semua segmen, berbarengan dengan peningkatan suplai yang cukup signifikan. Optimisme pasar sempat terganggu, seiring merebaknya varian baru Delta pada pertengahan tahun. PPKM Darurat pada Juli 2021 silam berdampak negatif terhadap kemampuan konsumen dari kalangan menengah ke bawah. Tren pencarian pun turun, khususnya untuk properti di bawah Rp1 miliar.

Kota Tangerang, Bogor, dan Jakarta Barat menjadi wilayah yang terlihat prospektif pada kuartal ini. Kota Tangerang mencatat pertumbuhan harga tertinggi. Pencarian harga properti masih berada pada kisaran Rp300-750 juta. Sementara itu, Kota Bogor menjadi lokasi yang semakin menarik, terutama bagi kalangan atas. Jakarta Barat juga punya peluang karena tengah mengalami penurunan harga.

Pengembang optimistis menambah pasokan usai pemerintah daerah turut berkontribusi dengan memberi insentif BPHTB. Dengan demikian, pasar properti sendiri secara umum masih berpihak kepada konsumen.

Selengkapnya, baca laporan Rumah.com Indonesia Property Market Index Q4 2021:

Baca juga laporan Rumah.com Indonesia Property Market Index sebelumnya di sini:

Koleksi Rumah.Com Indonesia Property Market Index
Koleksi Rumah.Com Indonesia Property Market Index

Rumah.com Indonesia Property Market Index

Koleksi Rumah.Com Indonesia Property Market Index

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel