Rumah Sakit di Kudus Belum Terima Klaim Penanganan COVID-19

·Bacaan 2 menit

VIVA – Sejumlah rumah sakit rujukan penanganan penyakit COVID-19 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, hingga kini belum menerima klaim pembayaran penanganan pasien corona meskipun sudah diajukan sejak Oktober 2020.

"Untuk klaim penanganan akhir tahun 2020 sudah kami ajukan pada bulan Oktober 2020. Termasuk untuk klaim tahun 2021 ini juga sudah diajukan periode Januari-Mei 2021 dengan nilai klaim berkisar Rp18 miliar," kata Direktur Rumah Sakit Aisyiyah Kudus, salah satu rumah sakit rujukan di Kudus, Kamis, 1 Juli 2021.

Sementara sebelum bulan Oktober 2020, kata dia, pihaknya sudah mendapatkan pembayaran klaim sebesar Rp5 miliar. Namun, penundaan pembayaran klaim yang terlalu lama juga berpengaruh terhadap arus kas rumah sakit.

Ia berharap pembayaran klaim terjadwal karena rumah sakit swasta juga membutuhkan pemasukan dan menjaga arus kasnya stabil. Sedangkan pengeluaran untuk biaya operasional sehari-hari juga tidak mungkin ditunda.

Untuk menutupi kekurangan biaya operasional, selain ditutup dengan klaim BPJS Kesehatan sekitar Rp3 miliar per bulan juga ada dana talangan untuk operasional rumah sakit.

Hal serupa juga dialami Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus. Klaim biaya penanganan pasien COVID-19 beberapa bulan pada 2020 hingga kini belum cair, sedangkan saat ini sudah memasuki Juli 2021.

Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus Abdul Aziz Achyar berharap bisa segera cair, meskipun saat ini masih memiliki dana cadangan yang berasal dari dana sisa lebih pembiayaan tahun sebelumnya hingga Rp60 miliar.

"Kami perkirakan kemampuan membayar kami masih cukup hingga bulan Agustus 2021. Karena kami juga memiliki sumber pendapatan lainnya, seperti klaim BPJS Kesehatan sekitar Rp6 miliar per bulan, serta pelayanan pasien umum karena masih tersedia dua bangsal umum, bangsal jiwa, bangsal nifas dan bersalin serta PICU-NIKU yang tidak bisa diubah menjadi tempat isolasi corona," katanya.

Mengenai biaya operasional setiap bulan, kata dia, memang lebih besar dibanding sebelumnya karena saat ini ada perubahan bangsal, menyusul ada lima bangsal yang ditutup untuk dialihkan ke bangsal khusus pasien corona yang totalnya ada delapan bangsal.

Keputusan itu otomatis mengubah alur pintu masuk dan keluar sehingga menambah beban biaya operasionalnya. Kemudian ada penambahan peralatan pendukung, seperti ventilator sehingga menambah beban biaya pengeluaran.

"Belum lagi biaya untuk keamanan tenaga kesehatan dan petugas lainnya yang setiap hari harus memakai alat pelindung diri (APD) yang pengeluarannya lebih dari Rp10 miliar," kata Achyar. (ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel