Rumah Sakit Mulai Kewalahan Tangani Pasien COVID-19, Italia Terapkan Aturan Jam Malam

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Roma - Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte telah menandatangani peraturan baru terkait pandemi, yang mencakup jam malam nasional dan pembatasan yang lebih ketat.

Melansir laman AP News, Kamis (5/11/2020), aturan tersebut berlaku di wilayah negara di mana infeksi melonjak dan rumah sakit berisiko kehabisan tempat tidur untuk pasien COVID-19.

Keputusan tersebut mulai berlaku pada Kamis, 5 November 2020. Sementara itu, wilayah yang akan dilanda batasan paling ketat akan diumumkan pada hari Rabu.

Pembatasan tersebut termasuk setidaknya larangan selama dua minggu untuk memasuki atau meninggalkan wilayah tersebut dan penutupan semua toko kecuali yang penting seperti toko makanan.

Salah satu daerah tersebut kemungkinan termasuk wilayah utara Lombardy.

Italia telah menanggung beban pandemi di awal tahun ini, dan terguncang lagi di bawah ancaman gelombang baru, terutama di ibu kota keuangannya, Milan.

Penutupan Lebih Awal

JAM MALAM DI ITALIA: Polisi berpatroli di sebuah jalan di tengah lonjakan infeksi coronavirus baru di Milan, Italia (22/10/2020). Jam malam diberlakukan terhadap lebih dari 21,7 juta warga Italia, yang mencakup sepertiga dari populasi negara itu di tengah lonjakan COVID-19. (Xinhua/Daniele Mascolo)
JAM MALAM DI ITALIA: Polisi berpatroli di sebuah jalan di tengah lonjakan infeksi coronavirus baru di Milan, Italia (22/10/2020). Jam malam diberlakukan terhadap lebih dari 21,7 juta warga Italia, yang mencakup sepertiga dari populasi negara itu di tengah lonjakan COVID-19. (Xinhua/Daniele Mascolo)

Langkah-langkah nasional yang baru termasuk penutupan pusat perbelanjaan pada akhir pekan, dan penutupan museum dan galeri sepenuhnya.

Bar dan restoran harus tutup di area berisiko tinggi, meskipun layanan pengiriman diperbolehkan dan dibawa pulang juga diizinkan sampai jam malam dimulai pada pukul 22:00.

Bar dan restoran sudah harus tutup pada pukul 6 sore secara nasional di bawah langkah-langkah yang diberlakukan akhir bulan lalu, di mana menjadi sebuah langkah yang memicu serangkaian kekerasan dan protes.

Sekolah menengah, yang sudah menjalankan sebagian besar kelasnya secara online, akan beralih ke pembelajaran jarak jauh total, seperti halnya beberapa kelas sekolah menengah di area yang dinyatakan sebagai "zona merah".

Jumlah penumpang angkutan umum juga dilaporkan akan dipotong dari 80 persen menjadi 50 persen. Orang juga diminta untuk hanya menggunakan transportasi umum jika benar-benar diperlukan atau untuk bekerja.

Badan publik dan perusahaan swasta telah meminta semua karyawannya untuk bekerja dari jarak jauh sebanyak mungkin.

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini: