Rupiah akhir pekan menguat, dibayangi tingginya yield obligasi AS

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan ditutup menguat tipis, dibayangi masih tingginya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat.

Rupiah ditutup menguat dua poin atau 0,02 persen ke posisi Rp14.408 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.410.

"Dalam sepekan ini nilai tukar rupiah ditransaksikan sangat volatile, dipengaruhi oleh faktor eksternal yield obligasi pemerintah AS 10 tahun yang masih tinggi dan perkiraan pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat," kata Pengamat Pasar Uang Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Perry Warjiyo: BI akan terus berada di pasar, jaga stabilitas rupiah

Pada hari ini imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun masih berada di level yang cukup tinggi yaitu 1,69 persen, turun dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai 1,74 persen, rekor tertinggi sejak Januari 2020.

Sementara itu indeks dollar naik ke posisi 91,91 dari posisi sebelumnya 91,86.

Ekonomi AS sedang menuju pertumbuhan terkuatnya dalam hampir 40 tahun, bahkan ketika para pembuat kebijakan bank sentral berjanji untuk tetap bertahan meskipun diperkirakan ada lonjakan inflasi.

Baca juga: IHSG akhir pekan ditutup menguat tipis, di tengah koreksi bursa global

Inflasi AS sendiri diperkirakan akan melonjak menjadi 2,4 persen tahun ini, di atas target bank sentral 2 persen. Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell mengatakan hal itu dipandang sebagai lonjakan sementara yang tidak akan mengubah janji Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan mendekati nol.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.420 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.408 per dolar AS hingga Rp14.470 per dolar AS.

Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat menunjukkan rupiah melemah Rp14.476 per dolar AS, dibandingkan posisi pada hari sebelumnya Rp14.412 per dolar AS.

Baca juga: Terkerek lonjakan imbal hasil, dolar bangkit dari penurunan pasca-Fed