Rupiah Diprediksi Kembali Tertekan di Perdagangan Esok Hari

Liputan6.com, Jakarta Rupiah diprediksi kembali tertekan pada perdagangan esok hari. Dengan rentang nilai tukar Rp 14.062 sampai Rp 14.115 per Dolar Amerika Serikat (AS).

Hingga sore ini, mata uang Garuda ditutup melemah di pasar spot, berada pada posisi 14.090 atau tertekan 0,09 persen dengan melemah 12 poin.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksi sentimen internal hingga eksternal mempengaruhi pelemahan rupiah pada hari ini.

"Laporan terbaru menyebut bahwa Cina pesimis tentang menyetujui kesepakatan, yang menunjukkan resolusi untuk mungkin risiko terbesar bagi ekonomi global tetap sulit dipahami," ujar dia, Selasa (19/11/2019).

Alasan kedua, pasar terus mengamati usai Presiden AS Donald Trump bertemu Ketua Federal Reserve AS (The Fed) Jerome Powell pada hari Senin (18/11), di tengah kritik berulang dari Trump yang menuding The Fed belum cukup menurunkan suku bunga.

"Trump selama lebih dari satu tahun menuduh Fed merusak kebijakan ekonominya, dalam pandangannya, mempertahankan suku bunga terlalu tinggi," ujar dia.

Dari domestik, sentimen penurunan bunga penjaminan sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempengaruhi gerak rupiah.

"Namun kondisi likuiditas perbankan tidak ada permasalahan. Nilai tukar rupiah dan kondisi global masih cukup stabil dan baik untuk simpanan rupiah di bank umum," ungkap dia.

Rupiah Melemah, Ini 2 Sentimen yang Mempengaruhi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan hari ini.

Mengutip Bloomberg, Selasa (19/11/2019), rupiah dibuka di angka 14.079 per dolar AS, melemah tipis jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.078 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus melemah ke 14.092 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di ksiaran 14.079 per dolar AS hingga 14.092 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih menguat 2,07 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.091 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 14.075 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa ini masih melanjutkan pelemahan. Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, dari domestik realisasi APBN 2019 per Oktober masih jauh di bawah pagu menjadi sentimen yang membuat rupiah tertekan.

Diketahui, pendapatan negara sebesar Rp 1.508,9 triliun atau 69,7 persen dari pagu dan belanja negara tercatat sebesar Rp 1.798 triliun atau 73,1 persen dari pagu.

"Dengan sisa waktu tinggal dua bulan hingga akhir tahun 2019, tampaknya pencapaian hingga akhir tahun maksimal di bawah 85 persen dari pagu. Dengan potensi ini, APBN 2019 tampaknya tidak cukup kuat mendorong ekonomi di kuartal IV 2019 ini," ujar Lana.