Rupiah Ditutup Melemah ke 14.170 per Dolar AS

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis ditutup melemah, namun disebut masih berada pada level fundamentalnya.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (12/11/2020), rupiah ditutup melemah 85 poin atau 0,6 persen ke posisi 14.170 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya 14.085 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Kamis, mengatakan pelemahan rupiah disebabkan faktor teknikal namun bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

"Rupiah masih berada pada level fundamentalmya, bahkan masih kuat. Mungkin ada faktor teknikal saja, dan investor mulai take profit," ujar Rully., seperti dikutip dari Antara, Kamis (12/11/2020).

Menurut Rully, level fundamental rupiah saat ini berada di kisaran level 14.200 per dolar AS hingga 14.300 per dolar AS.

Rully menilai, memang dalam beberapa hari terakhir, penguatan rupiah tergolong terlalu cepat sejak pemilu Amerika Serikat dan penemuan vaksin.

"Dari faktor luar negeri, juga terlihat dolar AS menguat terhadap beberapa mata uang utama lainnya," kata Rully.

Pada Jumat (13/11) besok, lanjut Rudy, mata uang Garuda diperkirakan akan sedikit melemah.

"Kalau saya melihat mungkin besok bisa sedikit melemah, tapi tidak terlalu dalam," ujar Rully.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp14.080 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran 14.080 per dolar AS hingga 14.189 per dolar AS.

Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Kamis menunjukkan, rupiah melemah menjadi 14.187 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya di posisi 14.076 per dolar AS.

Gubernur BI Sebut Rupiah Masih Undervalued

Tumpukan uang kertas pecahan rupiah di ruang penyimpanan uang
Tumpukan uang kertas pecahan rupiah di ruang penyimpanan uang

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yakin nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal terus menguat. BI melihat bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih di bawah nilai semestinya.

"Sekarang diperdagangkan sekitar 14.100 per dolar AS. Kami melihat bahwa nilai tukar rupiah masih berpotensi untuk menguat, kami melihat bahwa level sekarang secara fundamental masih undervalued," katanya dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Kamis (12/11/2020).

Menurut Perry, jika melihat fundamental ekonomi Indonesia yang ada saat ini, nilai tukar rupiah masih jauh di bawah nilai fundamental. Oleh sebab itu, dia meyakini rupiah masih akan bisa menguat.

Dia mencontohkan dari sisi inflasi, saat ini masih berkisar di level 1,44 persen secara tahunan pada Oktober 2020. Sedangkan transaksi berjalan defisit USD 2,9 miliar kuartal II-2020 dan premi risiko menurun.

"Dengan melihat bahwa inflasi rendah, transaksi berjalan defisitnya rendah, daya tarik aset keuangan Indonesia yang tinggi dan premi risiko yang menurun," tegas dia.

Menurut Perry, beberapa indikator risiko di pasar keuangan juga mulai mereda sehingga bisa mendorong rupiah. contohnya adalah Credit Default Swap (CDS) yang di posisi 73 dan VIX Index di posisi 26 meskipun ketidakpastian pasar keuangan masih tinggi.

"Di pasar keuangan global juga ketidakpastian mulai turun meski tetap tinggi karean faktor geopolitik dan second wave Pandemi COVID. VIX dan CDS turun terutama di bulan-bulan November setelah pemilu di AS," ucap dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: