Rupiah Ditutup Melemah Seiring Meningkatnya Harapan Stimulus AS

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Rupiah ditutup melemah pada perdagangan sore ini di level 14.085 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 14.058 per dolar AS.

Direktur PT Garuda Berjangka, Ibrahim Assuhaibi memperkirakan perdagangan besok rupiah kemungkinan akan dibuka fluktuatif. Namun ditutup melemah sebesar 15-100 point di level 14.050-14.120.

Kondisi ini dipicu meningkatnya harapan pada paket stimulus substansial telah meningkat di Amerika Serikat. Bantuan pemerintah Amerika Serikat ini diperlukan untuk menggerakkan ekonomi melalui periode ini.

"Program stimulus keuangan cenderung mendevaluasi dolar dan mendukung logam mulia," kata Ibrahim kepada wartawan, Jakarta, Rabu (11/11/2020).

Sejumlah negara bagian AS, termasuk California, memberlakukan tindakan virus korona yang lebih kuat sebagai tanggapan terhadap jumlah kasus yang berkembang pesat. Di Amerika Serikat saat ini terdapat 10,2 juta kasus positif Covid-19. Jumlah ini seperlima dari total global, dengan lebih dari 110.000 kasus baru per hari.

Penguatan dollar ini juga didukung kabar adanya vaksin Covid-19 yang di buat Pfizer, salah satu perusahaan farmasi di Amerika Serikat yang bekerja sama dengan BioNTech dari Jerman. Investor menyadari masih ada cara untuk melakukan taking profit sebelum vaksin tersebut memenuhi semua persyaratan untuk dirilis ke publik.

Selain itu, ada masalah logistik dalam mendistribusikan ratusan juta dosis yang sangat sensitif terhadap suhu.Disisi lain, Presiden Donald Trump menolak menerima hasil pemilihan presiden. Dia mengklaim terjadi penipuan dan kecurangan pemilu yang tidak berdasar. Hal ini membuat ekspektasi kelancaran transisi kekuasaan menjadi keraguan dan menciptakan ketidakpastian di pasar global.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah dipicu oleh perekonomian Indonesia yang memasuki tahap awal pemulihan ekonomi. Namun, vaksin yang dikabarkan akan tiba di Indonesia dalam waktu dekat belum bisa menjadi tolak ukur hilangnya virus corona tersebut.

"Vaksin hanya mengurangi risiko infeksi 30 persen dan setelah vaksinasi massal, tak serta merta masyarakat bisa leluasa beraktivitas seperti sebelum pandemi Covid-19," kata dia.

Untuk itu masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan. Mulai dari mencuci tangan, menjaga jarak dan dalam melakukan aktivitas wajib menggunakan masker.

Vaksin Masal

Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Senin (9/11/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Senin (9/11/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Adanya vaksinasi massal dianggap sebagai salah satu jalan keluar dari dampak pandemi yang telah memukul sektor perekonomian. Memerlukan upaya ekstra untuk dapat kembali pulih dan membutuhkan waktu untuk kembali pada kondisi normal khususnya pada upaya pemulihan perekonomian nasional.

Setelah mengalami kontraksi kinerja pertumbuhan ekonomi pada dua kuartal berturut-turut, saat ini Indonesia mengalami resesi ekonomi. Pandemi telah menggerus dua sisi perekonomian, baik dari sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand).

Bank Indonesia menilai fungsi intermediasi perbankan perlu ditingkatkan karena pertumbuhan kredit bank hanya mencapai 1,49 persen sampai akhir semester I 2020. Pertumbuhan kredit minim karena terjadi penurunan dari sisi penawaran dan permintaan kredit saat stabilitas sistem keuangan nasional masih terjaga di tengah pande Covid-19.

Pandangan ini merujuk pada kondisi ekonomi Indonesia sampai semester I 2020. Perlambatan ini terjadi, seiring menguatnya perilaku risk-averseness perbankan di tengah risiko kredit yang meningkat. Sehingga bank semakin selektif dalam menyalurkan kredit dan perilaku wait-and-see korporasi serta RT yang mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pembiayaan.

Ibrahim menilai sangat wajar jika pandemi Covid-19 saat ini telah mengakibatkan aktivitas perekonomian mandek, pengangguran meningkat, dan menurunkan pendapatan masyarakat. Sementara di pasar keuangan, pandemi membuat investor panik, sehingga menyebabkan aliran modal keluar (capital outflows) yang besar dan melemahkan nilai tukar di dunia, termasuk mata uang garuda.

Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: