Rupiah Ditutup Menguat Meski Pertumbuhan Ekonomi Terkontraksi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup di level 14.380 per dolar AS pada Kamis sore. Angka ini menguat 185 poin ke jika dibandingkan penutupan sebelumnya di level 14.565 per dolar AS.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuhaibi memprediksi, pada perdagangan besok rupiah rupiah masih akan menguat dengan kisaran 30-200 poin. Namun nilai tukar rupiah akan ditutup menguat sebesar 30-170 poin di level 14.330 per dolar AS hingga 14.420 per dolar AS.

Meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi nasional kontraksi 3,49 persen (yoy), tetapi hal ini tidak terlalu berpengaruh pada nilai tukar rupiah. Kontraksi ekonomi ini dianggap lebih baik dari pada kuartal sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 5,23 persen.

Kontraksi pertumbuhan ekonomi ini justru menunjukkan proses pemulihan ekonomi nasional dan pembalikan arah atau turning point dari aktivitas ekonomi nasional menunjukkan arah zona positif.

"Pertumbuhan Ekonomi Kuartal Ketiga yang terjadi kontraksi, namun masih menunjukkan perbaikan," kata Ibrahim di Jakarta, Kamis, (5/11/2020).

Ibrahim mengatakan seluruh komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) membaik pada kuartal III-2020 dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini ditopang realisasi belanja bantuan sosial dan dukungan dunia usaha terutama UMKM.

Percepatan belanja negara meningkat pesat pada triwulan III ini telah membantu peningkatan atau pembalikan dari pertumbuhan konsumsi pemerintah yang mengalami pertumbuhan positif 9,8 persen (yoy). Angka pertumbuhan 9,8 persen turning point lebih 17 persen sendiri. Namun yang masih menjadi pekerjaan rumah yaitu mendongkrak konsumsi rumah tangga. Pada Kuartal Ketiga, konsumsi rumah tangga masih tumbuh negatif 4,04 persen (yoy).

Kondisi ini disebabkan konsumsi masyarakat menengah ke atas terbatas karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Selain itu, konsumsi rumah tangga menengah-atas didominasi barang dan jasa yang sensitif terhadap mobilitas.

"Covid-19 membuat mobilitas terbatas maka konsumsi menengah-atas tertahan," kata dia.

Dia berharap pada Kuartal Keempat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap mempertahankan masa PSBB-Transisi sampai pendistribusian vaksin yang direncanakan awal Desember 2020. Sehingga ada harapan PSBB-Transisi berubah menjadi new normal dan masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa.

Sentimen Luar

Petugas bank menghitung uang dollar AS di Jakarta, Jumat (20/10). Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih belum beranjak dari level Rp 13.500-an per USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas bank menghitung uang dollar AS di Jakarta, Jumat (20/10). Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih belum beranjak dari level Rp 13.500-an per USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain menguatnya penutupan perdagangan sore ini juga dipengaruhi oleh pemilihan presiden Amerika Serikat. Kandidat dari Partai Demokrat, Joe Biden memiliki 264 dari 270 suara elektoral yang diperlukan untuk menyatakan kemenangan. Sementara itu Petahana Donald Trump baru mengantongi 214 suara elektoral.

Ibrahim menilai pada pilpres kali ini sangat bergantung pada penghitungan suara beberapa negara bagian yang tersisa. Sementara itu, Trump sudah mengajukan tuntutan hukum dan penghitungan ulang di Pennsylvania dan Michigan.

"Harapan kemenangan Biden akan mengambil nada yang sedikit lebih lembut pada kebijakan perdagangan kemungkinan akan melemahkan dolar terhadap mata uang negara-negara yang sering menghadapi ancaman tarif selama pemerintahan Trump," tutur Ibrahim.

Bahkan jika Biden berhasil mengatasi tantangan hukum dari Trump untuk menjadi presiden berikutnya, Partai Republik tampaknya akan mempertahankan kendali Senat dan dapat menggunakannya untuk menghalangi agenda kebijakan fiskal Biden. Pada Pemilu 3 November Partai Republik menguasai mayoritas atas Senat.

Sehingga dalam pelaksanaan nanti, Program-program Pemerintahan akan mendapatkan tantangan. Apalagi Joe Biden akan menaikkan pajak perusahaan. Namun, pemerintah yang terpecah juga mengurangi kemungkinan stimulus fiskal yang besar, yang dapat dilihat sebagai hal yang negatif.

Sementara itu, pasar juga akan menunggu keputusan kebijakan moneter dari Federal Reserve dan Bank of England. Kemungkinan akan menurunkan suku bunga negatif, yang akan dirilis malam ini yang kemungkinan akan memberikan informasi yang positif untuk pasar pasca Covid-19.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan video pilihan berikut ini: