Rupiah ditutup stagnan, seiring ekspektasi kebijakan ketat The Fed

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu ditutup stagnan seiring ekspektasi kebijakan moneter ketat yang agresif oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed).

Rupiah ditutup stagnan atau sama dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.843 per dolar AS.

"Dolar AS menguat dibalik prospek akan berlanjutnya kebijakan moneter ketat yang agresif dari Federal Reserve," kata Analis Monex Investindo Futures Faisyal dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Dolar AS menguat di tengah sentimen optimisnya data ekonomi AS serta pernyataan yang cenderung hawkish dari pejabat The Fed.

Semalam data ekonomi AS seperti tingkat keyakinan konsumen dan jumlah lowongan pekerjaan AS hasilnya lebih baik dari estimasi yang terlihat tidak terpengaruh oleh kebijakan pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed dan meningkatkan peluang untuk berlanjutnya kebijakan tersebut.

Baca juga: Rupiah Rabu pagi melemah 7 poin

Penguatan dolar AS juga ditopang oleh pernyataan yang disampaikan oleh Presiden The Fed New York John Williams yang mengatakan bahwa bank sentral kemungkinan akan perlu untuk membawa kebijakan suku bunga di atas 3,5 persen dan sangat tidak mungkin menurunkan suku bunga pada 2023.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan 70 persen peluangnya untuk The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada September mendatang.

Selanjutnya pada hari ini pasar akan mencari katalis dari pidato anggota FOMC Lorretta Mester dan data ekonomi AS seperti ADP Nonfarm Employment Change pada malam ini.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat ke posisi Rp14.845 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.834 per dolar AS hingga Rp14.860 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu menguat ke posisi Rp14.853 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.875 per dolar AS.

Baca juga: BI tarik dari peredaran Uang Rupiah Khusus tahun 1995