Rupiah jelang akhir pekan berpotensi menguat, ditopang bunga ECB naik

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta jelang akhir pekan menguat, seiring kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB).

Rupiah pagi ini menguat 26 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.875 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.901 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah berpotensi menguat hari ini terhadap dolar AS seiring dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Eropa semalam sebesar 75 basis poin," kata Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Bank Sentral Eropa naikkan bunga 75 basis poin, demi perangi inflasi

Menurut Ariston, kenaikan suku bunga acuan ECB sedikit banyak mengurangi tekanan penguatan dolar AS. Indeks dolar AS terlihat mengalami koreksi.

Tapi di sisi lain, lanjut Ariston, pergerakan nilai tukar terhadap dolar AS masih belum lepas dari isu kenaikan lanjutan suku bunga acuan AS.

Semalam Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell masih menegaskan bahwa fokus bank sentral adalah menurunkan tingkat inflasi AS secara signifikan mendekati target 2 persen.

"Ini artinya kenaikan suku bunga acuan sebagai alat moneter untuk mengendalikan inflasi bakal terus dijalankan. Hal ini masih akan memberi tekanan ke rupiah," ujar Ariston.

Baca juga: Dolar naik terhadap yen dan euro jatuh, The Fed perkuat sikap hawkish

Dari dalam negeri, Ariston menilai pelaku pasar masih mengamati isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan inflasi yang bisa memberikan tekanan ke rupiah.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak di kisaran level Rp14.850 per dolar AS hingga Rp14.920 per dolar AS.

Pada Kamis (8/9) lalu rupiah ditutup menguat 17 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp14.901 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.918 per dolar AS.


Baca juga: Harga emas berbalik turun 7,60 dolar, setelah pernyataan Ketua The Fed
Baca juga: Harga minyak bangkit dari terendah, saat Rusia ancam setop ekspor