Rupiah Kian Melemah di Akhir Pekan, Ini Penyebabnya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat, 18 Juni 2021. Rupiah kembali bergerak di kisaran atas Rp14.380 per dolar AS.

Di pasar spot, hingga pukul 09.50 WIB, rupiah telah ditransaksikan di level Rp14.385 per dolar AS. Melemah 0,21 persen dari level penutupan perdagangan kemarin Rp14.355.

Sementara itu, data terakhir kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menetapkan nilai tengah rupiah di level Rp14.378, melemah dari hari sebelumnya Rp14.257.

Pelemahan rupiah hari ini masih dipengaruhi sentimen pelaku pasar keuangan terhadap lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia serta hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Sebagaimana diketahui, WHO pada Kamis 17 Juni 2021 menilai, naik pesatnya tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit di Indonesia bagi pasien COVID-19 harus menjadi perhatian utama.

Sementara itu, hasil rapat FOMC yang memberikan sinyal kenaikan suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) pada 2023 masih menjadi perhatian pelaku pasar.

"Sehingga selama 4 hari perdagangan, tercatat Rupiah telah melemah 1,2 persen," kata Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro dikutip dari daily economic and market review-nya hari ini.

Baca juga: Menko Luhut Bangga Puncak Waringin Akan Jadi Bagian KTT G20

Kondisi ini juga dikatakannya memicu ruang penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia, BI-7 day reverse repo rate semakin mengecil. BI juga baru saja mempertahankan suku bunga acuan di level rendah 3,5 persen.

"Kebijakan ini masih sejalan dengan ekspektasi inflasi yang tetap rendah dan pergerakan nilai tukar Rupiah yang stabil. BI juga tetap berkomitmen terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," paparnya.

Andry menekankan, pelemahan rupiah ini juga seiring dengan depresiasi pada mata uang negara berkembang lainnya, antara lain Peso Filipina, Thai Baht, Rupee India dan Lira Turki.

Masing-masing dikatakannya telah melemah 1,5 persen, 1,1 persen, 1,4 persen, dan 3 persen dalam empat hari perdagangan terakhir. Ini sebagian besar dipicu oleh rencana pengetatan kebijakan moneter di AS.

"Hal ini disebabkan oleh estimasi kebijakan moneter dan kondisi ekonomi yang dikeluarkan oleh The Fed. Pasar SBN juga terpengaruh dari pengumuman hasil rapat FOMC hari Rabu," tuturnya.

Dengan perkembangan tersebut, Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan berada di interval Rp14.318-14.383 per dolar AS. (dum)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel