Rupiah lanjut melemah masih dibayangi "tapering" The Fed

·Bacaan 2 menit

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore ditutup melemah masih dibayangi sentimen tapering oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed.

Rupiah ditutup melemah 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.313 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan Rabu (29/9/2021) yang Rp14.293 per dolar AS.

"Dolar AS menguat dibalik ekspektasi pemangkasan kebijakan moneter oleh The Fed dalam waktu dekat," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Prospek pengetatan kebijakan lebih awal oleh The Fed mendorong indeks dolar AS ke level tertinggi sejak November 2020.

The Fed mengisyaratkan pekan lalu bahwa mereka dapat mulai mencabut stimulus besar era pandemi pada November dan mengakhiri program pada pertengahan 2022.

Selain itu, The Fed mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan cenderung menaikkan suku bunga pada 2022.

Dari dalam negeri, jumlah kasus harian COVID-19 pada Rabu (29/9/2021) bertambah 1.954 kasus sehingga total jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 4,21 juta kasus.

Sedangkan jumlah kasus meninggal akibat terpapar COVID-19 mencapai 117 kasus sehingga totalnya mencapai 141.826 kasus.

Sementara itu, jumlah kasus sembuh bertambah sebanyak 3.077 kasus sehingga total pasien sembuh mencapai 4,03 juta kasus. Dengan demikian, total kasus aktif COVID-19 mencapai 37.412 kasus.

Untuk vaksinasi, jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin dosis pertama mencapai 89,82 juta orang dan vaksin dosis kedua 50,41 juta orang dari target 208 juta orang yang divaksin.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.317 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.312 per dolar AS hingga Rp14.333 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis melemah ke posisi Rp14.321 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.307 per dolar AS.

Baca juga: Saham Korsel naik, namun catat rugi bulanan terbesar sejak Maret 2020
Baca juga: Saham Jepang rugi 4 hari beruntun, Nikkei ditutup merosot 0,31 persen
Baca juga: IHSG berpotensi menguat ikuti kenaikan bursa saham global

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel