Rupiah Masih di Level Rp14.500 Per Dolar AS, BI: Kemurahan

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVABank Indonesia (BI) menyatakan, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang saat ini bertengger di kisaran Rp14.500 per dolar AS masih sangat kemurahan. Artinya tidak sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyatakan, seharusnya nilai tukar rupiah saat ini menguat atau tidak bertengger di posisi Rp14.500 per dolar AS. Menrutunya indikator-indikator ekonomi Indonesia menunjukkan kondisi ini.

"Rupiah kita seharusnya lebih menguat saat ini. Jadi dengan melihat gambaran saat ini harusnya rupiah lebih bagus dari level saat ini di level Rp14.500 juga ada indikator lain seperti rupiah kita saat ini terlampau murah," jelas dia secara virtual, Selasa, 6 April 2021.

Oleh sebab itu, BI ditegaskanya masih terus melakukan intervensi terhadap pergerakan rupiah beberapa hari terakhir. Intervensi dilakukan untuk mengarahkan pergerakan rupiah ke nilai fundamentalnya.

"Oleh karena itu menjadi tugas kita, BI, harus terus untuk mencoba menstabilkan rupiah dengan mengarahkan rupiah ke nilai fundamentalnya," tegas Dody.

Adapun indikator-indikator yang menurutnya bisa memperkuat rupiah saat ini diantaranya inflasi Indonesia yang rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi Maret 2021 secara bulanan hanya 0,08 persen.

Selain itu, defisit transaksi berjalan diprakirakan tetap rendah yaitu sekitar 1-2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) 2021, sehingga dianggap akan terus mendukung ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia.

"Bagaimana inflasi kita rendah jadi rupiah tidak hanya dilihat dari transaksi berjalan, neraca pembayaran tapi juga bagaimana inflasi suatu negara itu terjadi. Jadi rendahnya inflasi itu jadi fenomena rupiah kita ini harusnya lebih kuat," papar dia.

Adapun salah satu faktor yang menurutnya menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS beberapa hari terakhir ini dipicu oleh tidak meratanya pemulihan ekonomi dunia. Sebab, ekonomi pulih secara cepat hanya terjadi di AS.

Kondisi ini membuat para investor global menarik dananya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia untuk ditempatkan di Amerika Serikat, sebab ekonomi AS lebih cepat pulih sehingga inflasi diperkirakan naik dan imbal hasil surat utangnya juga meningkat.

"Kalau ekonomi AS dalam proyeksi akan tumbuh dan membaik biasanya diikuti dengan kenakan inflasi dan kenaikan dari pada yield surat utang AS. Dua indikator ini menjadi indikator utama di pasar keuangan," tutur dia.

Sebagai informasi, di pasar spot, hingga pukul 10.00 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp14.514 per dolar AS. Menguat tipis, 0,01 persen dari level penutupan perdagangan kemarin Rp14.515.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mematok nilai tengah rupiah kemarin di level Rp14.533. Menguat dari akhir pekan lalu Rp14.577 dan belum ada pembaruan hingga saat ini.