Rupiah Melemah Jelang Pertemuan Bank Sentral AS

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Selasa ini. Pelemahan ini terjadi jelang rapat bank sentral AS atau The Federal Reserve (the Fed).

Nilai tukar rupiah pada pukul 10.10 WIB, bergerak stagnan alias sama dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di angka 14.483 per dolar AS.

Analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya menjelaskan, gerak rupiah akan dipengaruhi oleh faktor eksternal terutama dari AS.

"Perkembangan rupiah terutama akan dipengaruhi oleh perkembangan global, menjelang rapat FOMC dua hari ke depan. Terpengaruh juga olah volatilitas nilai tukar dolar AS dan arus modal asing yang cenderung keluar dalam dua hari terakhir," ujar Rully, dikutip dari Antara, Selasa (27/7/2021).

Nilai tukar dolar AS sedikit melemah terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin kemarin. Hal tersebut karena investor memposisikan diri mereka menjelang pertemuan kebijakan The Federal Reserve.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan terhadap enam mata uang utama saingannya turun 0,261 persen menjadi 92,654.

Investor akan mencermati setiap komentar tentang kapan pengurangan pembelian aset bank sentral dapat dimulai.

Rully mengatakan rupiah hari ini akan cenderung melemah ke kisaran 14.468 per dolar AS hingga 14.532 per dolar AS.

Bank Indonesia Catat Uang Beredar Juni 2021 Capai Rp 7.119,6 Triliun

Tumpukan uang kertas pecahan rupiah di ruang penyimpanan uang
Tumpukan uang kertas pecahan rupiah di ruang penyimpanan uang

Sebelumnya, Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2021 tumbuh meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Bank Indonesia mencatat posisi M2 hingga Juni 2021 sebesar Rp 7.119,6 triliun, tumbuh 11,4 persen (yoy).

"Posisi M2 pada Juni 2021 tercatat sebesar Rp7.119,6 triliun atau tumbuh 11,4 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,1persen (yoy)," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, Jakarta, Jumat (23/7).

Erwin menuturkan peningkatan tersebut terutama didorong oleh akselerasi komponen uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi. Komponen M1 pada Juni 2021 tumbuh sebesar 17 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Mei 2021 sebesar 12,6 persen (yoy).

"Pertumbuhan uang kuasi juga meningkat, dari 6,8 persen (yoy) pada bulan sebelumnya menjadi 9,6 persen (yoy) pada Juni 2021," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel