Rupiah Melemah ke 14.390 per Dolar AS, Dibayangi Lonjakan Kasus Covid-19

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Jumat ini. Pelemahan rupiah ini dibayangi sikap dari Bank Sentral AS hingga kenaikan kasus Covid-19.

Mengutip Bloomberg, Jumat (18/6/2021), rupiah dibuka di angka 14.375 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.355 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus melemah ke 14.387 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.375 per dolar AS hingga 14.390 per dolar AS. jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 2,40 persen.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi terkoreksi, masih dibayangi sikap bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed), yang memajukan proyeksi kenaikan suku bunga.

"Isu-isu seputar nilai tukar belum ada perubahan. Isu The Fed yang bakal mempercepat kenaikan tingkat suku bunga acuan masih mendorong penguatan dolar AS dan menekan nilai tukar lainnya," kata Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra dikutip dari Antara.

The Fed tetap mempertahankan suku bunga di angka 0,25 persen bulan ini, namun mengisyaratkan potensi kenaikan lebih cepat pada 2023, serta sinyal adanya pembahasan rencana pemangkasan pembelian obligasi.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 91,861. Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 1,523 persen.

"Sementara dari dalam negeri, isu kenaikan kasus Covid-19 yang menaikkan tingkat okupansi rumah sakit ke keadaan yang mengkhawatirkan, juga masih menjadi isu penekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," ujar Ariston.

Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi melemah ke kisaran 14.380 per dolar AS hingga 14.400 per dolar AS dengan potensi menguat di kisaran 14.330 per dolar AS.

Nilai Tukar Rupiah Perkasa di Juni 2021, Naik 0,49 Persen

Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )
Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Sebelumnya, nilai tukar Rupiah menguat seiring kembali masuknya aliran modal asing dan langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan catatan BI, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada 16 Juni 2021 menguat 0,49 persen secara rerata dan 0,30 persen secara point to point dibandingkan level Mei 2021.

"Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik, seiring dengan penurunan ketidakpastian pasar keuangan global dan persepsi investor yang membaik terhadap prospek ekonomi domestik," jelas Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam konferensi pers pada Kamis (17/6/2021).

Dari perkembangan tersebut, Rupiah terdepresiasi sekitar 1,32 persen (ytd) sampai dengan 16 Juni 2021 dibandingkan dengan level akhir 2020. Ini relatif lebih rendah dari negara lain di kawasan, seperti Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia.

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamental dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar," tutur dia.

Lebih lanjut, Perry mengatakan jika BI terus menjaga ketersediaan dan kualitas uang Rupiah, serta memberikan layanan kas prima di seluruh wilayah Indonesia. Untuk itu, BI mendorong efisiensi di dalam distribusi pengedaran uang di daerah 3T, termasuk melalui penguatan kelembagaan Kas Titipan.

BI mencatat, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada Mei 2021 mencapai Rp 851,3 triliun, meningkat 6,6 persen (yoy) sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang kartal pada periode Hari Raya Idulfitri 1442 H.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel