Rupiah melemah seiring kekhawatiran gelombang kedua COVID-19

Faisal Yunianto

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore, melemah seiring kekhawatiran pasar terhadap serangan gelombang kedua pandemi COVID-19.

Rupiah ditutup melemah 10 poin atau 0,07 persen menjadi Rp14.905 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.895 per dolar AS.

"Pasar cemas dengan perkembangan dialog dagang antara Amerika Serikat dan China serta risiko serangan gelombang kedua," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa.

Presiden AS Donald Trump mengesampingkan negosiasi perjanjian dagang yang sudah ditandatangani dengan China. Bahkan dalam konferensi persnya, ia berujar sudah tak tertarik melakukan itu lagi.

Pernyataan Trump tersebut membuat proses perdamaian perang dagang terancam. AS dan China sebelumnya terjebak perang tarif selama dua tahun lebih dan saat itu ekonomi dunia sangat terpengaruh oleh pertikaian kedua negara.

Sementara itu, data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menyebutkan jumlah pasien COVID-19 di Negeri Paman Sam itu per 10 Mei mencapai 1,3 juta orang, naik 2,09 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dari laju kenaikan harian pada 9 Mei yaitu 2,08 persen. Oleh karena itu, timbul ketakutan bahwa akan terjadi serangan pandemi COVID-19 jilid 2 di AS.

Selain di AS, Jerman dan Korea Selatan juga melakukan pembukaan kembali ekonomi mereka, walaupun warganya sudah diperingatkan untuk tetap menjalankan pembatasan sosial.

Klab malam di Itaewon menjadi klaster baru penyebaran COVID-19 di Korea Selatan. Jumlah konfirmasi positif COVID-19 yang terkait dengan klab malam itu naik menjadi 86 orang.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah di posisi Rp14.940 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.905 per dolar AS hingga Rp14.970 per dolar AS.

Kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp14.978 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.936 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah menguat seiring pencabutan penguncian negara maju
Baca juga: Rupiah awal pekan menguat seiring kembalinya aktivitas ekonomi
Baca juga: Cetak atau tidak cetak Rupiah?