Rupiah Melemah Usai Digoyang Postur APBN 2022 dan Ekonomi AS

Dusep Malik
·Bacaan 2 menit

VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berfluktuasi pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat, 30 April 2021. Rupiah ditransaksikan di kisaran level Rp14.450 per dolar AS.

Di pasar spot, hingga perdagangan 11.00 WIB hati ini, rupiah telah ditransaksikan di level Rp14.454 per dolar AS. Sementara itu, pada pembukaan perdagangan pagi tadi sempat menyentuh level Rp14.300 per dolar AS.

Adapun data terakhir kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor) Bank Indonesia pada pukul 15.15 WIB kemarin telah menetapkan nilai tengah rupiah di level Rp14.468 dari hari sebelumnya Rp14.510.

Mengutip analisis ulasan ekonomi dan pasar harian Samuel Aset Manajemen sentimen positif yang memengaruhi pelaku pasar keuangan hari ini adalah postur APBN 2022 yang kemarin di sampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dalam pemaparannya, Sri menampakkan bahwa defisit APBN dalam postur makro fiskal 2022 akan berada dalam rentang 4,51-4,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau Rp808,2 triliun hingga Rp879,9 triliun.

"Pemerintah juga menargetkan, ekonomi Indonesia pada 2022 tumbuh 5,2-6 persen, sedikit lebih tinggi dari target dalam asumsi dasar ekonomi makro APBN 2021 yang sebesar 5 persen," tulis ulasan tersebut hari ini.

Adapun sentimen yang berasal dari faktor eksternal, disebutkan berasal dari AS di mana kenaikan harga konsumen yang sifatnya dinilai hanya sementara tidak akan membuat The Federal Reserve menarik stimulus moneter yang telah digelontorkan ke dalam ekonomi AS selama pandemi.

"Gubernur The Fed Jerome Powell dalam konferensi persnya Rabu (29/4) waktu setempat memastikan stimulus itu akan berlanjut," ungkapnya.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra menambahkan rupiah berpotensi melemah pada akhir perdagangan hari ini karena sentimen rilis pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang berada di atas ekspektasi.

Kondisi ini menurutnya malah akan memicu tingkat imbal hasil (yield) surat utang AS, US Treasury ikut terkerek dari kisaran 1,61 persen ke 1,64 persen. Sehingga mendorong penguatan lebih lanjut terhadap dolar AS.

"Ini mendorong penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya, termasuk rupiah. Rupiah bisa kembali ke kisaran Rp14.500 dengan support di kisaran Rp14.430 per dolar AS," ucap Ariston.