Rupiah Menguat Seiring Turunnya Imbal Hasil Surat Utang AS

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Rabu ini. Kurs rupiah berpeluang menguat seiring turunnya imbal hasil (yield) surat utang atau obligasi Amerika Serikat.

Mengutip Bloomberg, Rabu (10/3/2021), rupiah dibuka di angka 14.390 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.405 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus bergerak melemah ke 14.402 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.390 per dolar AS hingga 14.405 per dolar AS. jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 2,51 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.421 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.468 per dolar AS.

"Penurunan indeks dolar dan yield US treasury kemungkinan akan membantu penguatan rupiah," kata analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail dikutipm dari Antara, Rabu (10/3/2021).

Menurut Ahmad, indeks dolar kemungkinan melemah ke level 91,5 hari ini, di tengah penurunan imbal hasil obligasi AS yang diperkirakan akan kembali stabil dan masih rendahnya optimisme sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di AS.

The NFIB Small Business Optimism Index yang masih cukup rendah pada Februari sebesar 95,8 dibandingkan proyeksi sebesar 96 menunjukkan belum cukup pulihnya optimisme pengusaha menengah bawah di AS terhadap prospek ekonomi negara tersebut.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kemungkinan turun ke level 1,5 persen. Proses pembelian obligasi AS oleh The Fed diperkirakan mulai berdampak terhadap penurunan imbal hasil obligasi AS (US Treasury/UST) jangka panjang yang kemungkinan akan menekan tren kenaikan imbal hasil obligasi yang berlangsung sejak awal tahun.

"Para pelaku pasar berekspektasi bahwa kebijakan The Fed akan efektif dalam menekan yield UST jangka panjang dengan program pembelian UST. Para pelaku pasar juga akan menanti data CPI AS Februari untuk melihat arah inflasi ke depan," ujar Ahmad.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar dengan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) diperkirakan menguat ke level Rp14.100 per dolar AS.

Pada Selasa (9/3) lalu, rupiah ditutup melemah 45 poin atau 0,31 persen ke posisi Rp14.405 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.360 per dolar AS.

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

Sri Mulyani Prediksi Rupiah di Kisaran 15.300 per Dolar AS pada 2021

Petugas menghitung uang rupiah di Bank BRI Syariah, Jakarta, Selasa (28/2). Rupiah dibuka di angka 13.355 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.341 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas menghitung uang rupiah di Bank BRI Syariah, Jakarta, Selasa (28/2). Rupiah dibuka di angka 13.355 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.341 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan terus menunjukkan penguatan. Ia pun memperkirakan rupiah bakal berada di kisaran 14.500 per dolar AS hingga 15.500 per dolar AS di 2020 dan terus menguat ke 14.900 per dolar AS hingga 15.300 per dolar AS di 2021.

Sri Mulyani menjelaskan, sejak awal tahun hingga hari ini nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi 8,9 persen. Namun dalam catatan dia, gerak nilai tukar pada minggu kedua April ini masih lebih kuat jika dibandingkan dengan posisi Maret lalu.

“Tentu karena kita semua tahu bahwa kondisi ini masih sangat tidak pasti maka kisaran proyeksi akan terlihat akan sangat bervariasi dari institusi ke institusi untuk nilai tukar rupiah kami perkirakan untuk 2021 ada di kisaran 14.900 per dolar AS hingga 15.300 per dolar AS,” kata Sri dalam Rapat kerja Komisi XI DPR membahas Asumsi Dasar dalam KEM PPKF RAPBN 2021, Senin (22/6/2020).

Lebih lanjut, ia mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari negara-negara lain, maka nilai tukar rupiah akan cenderung menguat. Hal tersebut terjadi karena pemulihan ekonomi yang baik akan menarik arus modal masuk.

Namun, ia juga tak memungkiri bahwa pemulihan ekonomi negara maju khususnya Amerika Serikat akan menentukan likuiditas dolar AS di pasar global.

“Kondisi saat ini rupiah jauh lebih kondusif dibandingkan Februari-Maret 2020 ketika terjadi volatilitas yang sangat tinggi. Proyeksi nilai tukar dalam dokumen KEM PPKF perlu disesuaikan,” ujarnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: