RUPST SMCB Setujui Penerbitan 1,38 Juta Saham Baru

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk atau SBI (SMCB) berencana untuk melakukan penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) kepada para pemegang saham Perseroan melalui mekanisme Penambahan Modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) pada 2021.

Rencana ini telah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan hari ini.

"Kami akan melakukan HMTD yang diharapkan akan selesai tahun ini,” kata Presiden Direktur SBI, Aulia Mulki Oemar dalam public expose, Selasa (30/3/2021).

Dalam paparannya, perseroan berencana melepas sebanyak-banyaknya 1,38 juta saham baru dengan nilai nominal Rp 500 per lembar saham.

Selanjutnya, RUPST menyetujui pemberian kuasa dan wewenang kepada Direksi perseroan dengan hak substitusi. Baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk menetapkan detil pelaksanaan HMETD atau rights issue.

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk adalah sebuah perseroan terbuka yang mayoritas sahamnya (98,31 persen) dimiliki dan dikelola oleh PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIIB) – bagian dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG, produsen semen terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.

Belanja Modal 2021

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk/SBI (SMCB) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 500 miliar pada 2021. Presiden Direktur, Aulia Mulki Oemar mengatakan, dana yang digunakan sebagai modal belanja itu berasal dari kas perseroan.

"Pada tahun 2021 kami anggarkan capex sekitar Rp 500 miliar kurang sedikit. Asalnya dari internal kas perseroan,” kata dia dalam public expose, Selasa (30/3/2021).

Pada 2021, perseroan optimistis dapat mencatatkan laba yang lebih baik dari 2020. Namun, Aulia belum bisa memastikan berapa kisaran pastinya.

"Mengenai besarannya, kami belum bisa memberikan jawaban. Kami berharap pertumbuhan kami paling tidak sama dengan pertumbuhan ekonomi indonesia,” kata Aulia.

Adapun pada 2020, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 650,98 miliar. Dari jumlah ini, 30 persen atau sekitar Rp 195,2 miliar ditetapkan sebagai dividen. Sementara 70 persen sisanya, atau sekitar Rp 455,6 miliar akan digunakan untuk mendanai kegiatan operasional perseroan.

Teken Perjanjian dengan TCC

Pekerja tengah melintas di dekat papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Pada penutupan perdagangan saham, Jumat (29/12/2017), IHSG menguat 41,60 poin atau 0,66 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah melintas di dekat papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Pada penutupan perdagangan saham, Jumat (29/12/2017), IHSG menguat 41,60 poin atau 0,66 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, perjanjian pengalihan dan penyertaan modal serta induk jual beli semen (perjanjian offtake) dilakukan oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) dengan PT Semen Indonesia Industri Bangunan serta Taiheiyo Cement Corporation (TCC).

Perjanjian diteken pada Selasa, 26 Januari 2021 tersebut mengatur penyertaan modal oleh TCC pada SMCB melalui penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Dilansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Rabu, (27/1/2021), Aulia Mulki Oemar, Presiden Direktur Solusi Bangun Indonesia menyebut, investasi yang akan digelontorkan TCC rencananya mencapai USD 220 juta.

"Pelaksanaan penerbitan saham baru dengan HMETD akan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku," tulis keterangan tersebut.

Bersamaan dengan rencana investasi TCC, Perseroan juga menandatangani Perjanjian Offtake dengan TCC dalam rangka peningkatan utilisasi pabrik semen.

"Perjanjian Offtake adalah perjanjian induk jual beli semen, yang mana dalam pelaksanaannya Perseroan akan memperhatikan ketentuan perundangundangan yang berlaku," tulisnya.

Dengan penandatanganan perjanjian offtake ini, struktur permodalan dan posisi perseroan diharapkan akan terus meningkat, terlebih saat melaksanakan kegiatan usahanya.

"Bahwa selain dari pada informasi yang telah kami ungkapkan diatas pada saat ini tidak terdapat kejadian, informasi atau fakta material lain yang tidak kami ungkapkan, selain informasi tersebut," ujar keterangan tersebut.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini