Rusia bawa pertarungan melawan larangan empat tahun gara-gara doping ke pengadilan

·Bacaan 3 menit

Lausanne (AFP) - Rusia akan berusaha membatalkan larangan tampil empat tahun dalam turnamen olahraga internasional pekan ini dalam bab terbaru dari saga berkepanjangan dan kontroversial mengenai kasus doping bersanksi negara.

Badan anti-doping global WADA pada Desember tahun lalu menyatakan Badan Anti-Doping Rusia (RUSADA) tidak patuh setelah dituduh memanipulasi data pengujian.

Larangan itu mengartikan negara itu bakal melewatkan Olimpiade Tokyo dan Piala Dunia sepak bola di Qatar pada 2022 dan Olimpiade Musim Dingin 2022 di China.

Sidang Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pekan ini yang diperkirakan berlangsung sampai Jumat telah menimbulkan perpecahan.

"WADA telah meminta agar sidang diadakan di depan umum tetapi untuk hal itu semua pihak harus sepakat dan itu tidak terjadi," kata WADA.

Sebaliknya, dan dengan tetap menangani kasus ber-'gaya Perang Dingin', sidang akan dilangsungkan di balik pintu tertutup dan di sebuah lokasi rahasia.

Setiap putusan yang muncul hanya akan diumumkan pada tanggal yang dirahasiakan.

Rusia menganggap larangan terhadapnya itu tidak bisa dibenarkan secara hukum.

Mantan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menggambarkan penangguhan itu sebagai "histeria anti-Rusia yang kronis".

Persidangan itu dianggap sebagai pekan penting bagi olahraga Rusia dan upaya anti-doping global.

WADA yang dibentuk pada 1999 juga terancam bahaya setelah AS mengancam akan menarik pembiayaan tahunannya sebesar 2,7 juta dolar AS.

Parlemen Amerika menuduh WADA gagal menerapkan reformasi tata kelola dan mengkritik penanganan skandal Rusia oleh mereka.

Juga, Komite Olimpiade Internasional dan federasi-federasi olahraga tengah mengharapkan perintah tegas dari CAS, delapan bulan sebelum digelarnya Olimpiade Tokyo yang sudah dijadwal ulang.

"WADA tak mendapatkan sedikit pun persiapan menghadapi sidang ini dan kami berharap bisa berkesempatan mempresentasikan kasus kami dengan jelas dan adil kepada panel," kata presiden WADA Witold Banka.

"Saya tetap yakin Komite Eksekutif WADA membuat rekomendasi yang tepat dalam kasus ini Desember lalu."

"Seperti pada setiap tahap lainnya, kami mengikuti proses yang semestinya terkait dengan prosedur kepatuhan RUSADA karena kami secara efektif terus menangani masalah rumit ini."

Ini adalah saga yang kini sudah memasuki tahun kelima.

Pada Mei 2016, Grigory Rodchenkov, mantan kepala laboratorium anti-doping Moskow, meniup peluit terkait doping bersponsor negara dalam Olimpiade Sochi 2014.

Hampir dua pekan sebelum Olimpiade 2016 pada Juli tahun itu, WADA menyeru agar Rusia dilarang mengikuti Olimpiade Rio.

Walaupun demikian IOC tak mau langsung menerapkan larangan dan mengatakan federasi-federasi secara individual akan memutuskan apakah akan mengizinkan atlet Rusia untuk turut berlomba.

Pada 2017, IOC melarang Komite Olimpiade Rusia mengikuti Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018, tetapi membolehkan atlet-atlet Rusia yang bersih doping untuk ambil bagian sebagai peserta netral.

Sebanyak 168 atlet Rusia akhirnya turut berlomba.

Kemudian, pada September 2018, WADA secara kontroversial mencabut larangan terhadap RUSADA meskipun tidak diberi akses ke laboratorium Moskow yang tercemar doping.

Rusia akhirnya menyerahkan data laboratorium kepada WADA pada Januari 2019.

Namun, dalam putaran lain pada September, WADA memberi waktu tiga pekan kepada Rusia guna menjelaskan "ketidakkonsistenan" dalam datanya.

Atletik Dunia mengumumkan telah menangguhkan proses pemulihan atletik Rusia dan mempertimbangkan untuk mengeluarkan sepenuhnya negara itu dari turnamen olahraga karena masalah doping.

WADA kemudian memutuskan melarang Rusia selama empat tahun karena data yang sudah dimanipulasi.

cfe/jr-dj/jc