Rusia dilarang dua tahun karena doping tapi 'olahraga bersih' terpukul keras

·Bacaan 4 menit

Lausanne (AFP) - Pengadilan tertinggi olahraga pada Kamis melarang Rusia tampil di panggung internasional selama dua tahun, termasuk Olimpiade Tokyo tahun depan dan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, tetapi pengurangan separuh masa hukuman dari putusan awal itu menjadi "pukulan dahsyat bagi atlet bersih dan integritas olahraga".

Vonis Pengadilan Arbitrase Olahraga itu mengurangi masa larangan empat tahun karena doping sistematis yang diputuskan oleh Badan Anti-Doping Dunia (WADA).

"Panel ini memberlakukan konsekuensi untuk mencerminkan sifat dan keseriusan akibat ketidakpatuhan ... dan untuk memastikan integritas olahraga melawan momok doping dijaga," kata CAS dalam amar putusannya.

Dalam pernyataan itu CAS menambahkan: "Konsekuensi yang diputuskan oleh Panel agar diberlakukan tidak seekstensif seperti diminta oleh WADA."

"Namun demikian, ini tidak boleh diartikan sebagai validasi untuk perilaku RUSADA (badan anti-doping Rusia) atau otoritas Rusia."

Larangan itu berlaku sampai 16 Desember 2022, termasuk putaran final Piala Dunia sepak bola di Qatar yang berakhir dua hari kemudian.

Berdasarkan putusan ini, Rusia masih dibolehkan tampil namun hanya sebagai pihak netral seandainya mereka dapat membuktikan tidak ada hubungan dengan doping.

Putusan CAS itu memicu kecaman luas.

"USADA menerima putusan yang meremukkan ini ... dalam kasus Rusia yang membuat WADA dan atlet-atlet bersih mengalami kerugian besar," kata kepala eksekutif Badan Anti-Doping AS Travis Tygart.

"Pada tahap ini dalam kasus doping bersponsor negara Rusia yang kotor ini, yang sekarang sudah berlangsung hampir satu dekade, tidak ada penghiburan dalam putusan lemah dan tak berdaya ini," tambah dia.

Dia menyebut putusan itu "pukulan dahsyat untuk atlet-atlet bersih, integritas olahraga, dan supremasi hukum".

Tygart menambahkan dalam sebuah wawancara dengan AFP bahwa putusan CAS adalah "tragedi" bagi perjuangan global melawan kecurangan karena menggunakan doping dan mengecam putusan itu sebagai "putusan yang lemah dan penuh celah."

Badan Atlet Global itu mengatakan: "Fakta bahwa Atlet Rusia boleh tampil sebagai 'Atlet Netral dari Rusia' adalah fasad menggelikan lainnya yang mengolok-olok sistem."

"Jika atlet-atlet dari Rusia masih bisa bertanding, itu bukan sanksi. Rusia tidak dilarang; mereka cuma berganti nama."

Namun, Mikhail Bukhanov, penjabat kepala badan anti-doping Rusia RUSADA, mengatakan: "Putusan hari ini adalah kemenangan bagi Rusia."

"Pengadilan telah memutuskan untuk tidak menerima tesis yang dituntut WADA. Tentu ini preseden besar," tambah dia.

Putusan CAS itu menyusul sidang arbitrase empat hari antara WADA dan Badan Anti-Doping Rusia (RUSADA) di sebuah lokasi rahasia bulan lalu.

Pertarungan di depan tiga hakim CAS itu terjadi menyusul keputusan WADA tahun lalu yang menyatakan RUSADA tidak patuh setelah badan Rusia itu dituduh memanipulasi data tes doping.

Presiden WADA Witold Banka memuji putusan CAS yang berbasis di Lausanne tersebut.

"WADA senang telah memenangkan kasus penting ini," kata Banka. Dia menambahkan putusan tersebut telah "dengan jelas mendukung temuan kami bahwa pihak berwenang Rusia terangan-terangan dan secara ilegal telah memanipulasi data Laboratorium Moskow dalam upaya menutupi skema doping yang dilembagakan."

Rusia menganggap larangan kepadanya itu tak bisa dibenarkan secara hukum.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam putusan itu karena putusan yang "bermotivasi politik" itu "bertentangan" dengan Piagam Olimpiade.

Kisah Rusia merebak pada 2016 ketika Grigory Rodchenkov, mantan kepala laboratorium anti-doping Moskow, membeberkan doping yang didukung negara dalam Olimpiade Musim Dingin 2014 yang diselenggarakan di resor Laut Hitam Rusia di Sochi.

Pengacara Rodchenkov mengecam pengurangan sampai separuhnya masa larangan olahraga kepada Rusia itu dengan menyebutnya "tidak masuk akal."

Dalam sebuah pernyataan, Jim Walden mengatakan putusan CAS dalam mengurangi larangan kepada Rusia dari empat tahun menjadi dua tahun menunjukkan pengadilan itu "tidak mau dan tidak bisa menangani dengan baik kejahatan sistematis dan terus menerus yang dilakukan Rusia."

Setelah tuduhan menghebohkan dari Rodchenkov dan hampir dua pekan sebelum Olimpiade Rio 2016 dimulai Juli tahun itu, WADA menyeru agar Rusia dilarang mengikuti Olimpiade tersebut.

Namun demikian IOC tak mau seketika mengeluarkan larangan dan mengatakan masing-masing federasi-federasilah yang akan memutuskan apakah membolehkan atlet-atlet Rusia berkompetisi.

Pada 2017, IOC melarang Komite Olimpiade Rusia mengikuti Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018, tetapi membolehkan atlet-atlet Rusia yang bersih untuk ambil bagian sebagai peserta netral.

Sebanyak 168 Rusia akhirnya turut berkompetisi.

Pada September 2018, WADA secara kontroversial mencabut larangannya kepada RUSADA sekalipun tidak diberi akses masuk ke laboratorium Moskow yang tercemar kasus doping.

Rusia akhirnya menyerahkan data laboratorium kepada WADA pada Januari 2019.

Dalam langkah kontroversial lainnya, September tahun lalu WADA memberi Rusia waktu tiga pekan untuk menjelaskan "ketidakselarasan" dalam data laboratorium itu.

Badan penegakan aturan doping global olah raga itu kemudian menjatuhkan larangan empat tahun kepada Rusia gara-gara data yang sudah dimanipulasi itu Desember silam.

Sementara itu, badan pengelola atletik global telah memberi waktu kepada federasi Rusia sampai Maret tahun depan agar membuat rencana menyeluruh dalam memberantas doping dan kemudian boleh berkompetisi olahraga lagi, atau menghadapi pengusiran.

Sementara putusan CAS Kamis itu sangat penting bagi Rusia, WADA juga mempertaruhkan banyak hal.

Organisasi yang didirikan pada 1999 itu dikritik oleh para wakil rakyat AS karena caranya menangani skandal tersebut dan kegagalannya dalam mereformasi tata kelola.

Akibatnya, AS mengancam akan menarik pendanaan tahunan sebesar 2,7 juta dolar AS.

Pengumuman Kamis itu ditunggu dengan penuh minat oleh Komite Olimpiade Internasional dan federasi-federasi olahraga yang mengharapkan arahan jelas dari CAS, delapan bulan sebelum digelarnya Olimpiade Tokyo.


cfe/nr-dj/bsp