Rusia Kerahkan Lumba-Lumba untuk Antisipasi Serangan Bawah Laut

Merdeka.com - Merdeka.com - Rusia mengerahkan lumba-lumba terlatih di pangkalan angkatan lautnya di Laut Hitam. Lumba-lumba ini dilatih militer dan dikerahkan untuk melindungi armada Angkatan Laut Rusia dari serangan bawah laut, menurut analisis baru citra satelit.

Institut Angkatan Laut AS (USNI) mengkaji citra satelit pangkalan angkatan laut di pelabuhan Sevastopol, dan menyimpulkan dua ekor lumba-lumba dipindahkan ke pangkalan itu pada Februari saat Rusia menginvasi Ukraina, dikutip dari The Guardian, Kamis (28/4).

Rusia memiliki riwayat melatih lumba-lumba untuk tujuan militer. Mamalia laut itu dilatih untuk menyelamatkan objek dan menghalangi penyelam musuh.

Pangkalan Sevastopol penting bagi militer Rusia. Pasalnya, pangkalan itu berada di ujung selatan Krimea, wilayah yang dicaplok Moskow dari Ukraina pada 2014.

Menurut analisis USNI, banyak kapal Rusia berlabuh di Sevastopol. Walaupun kapal-kapal itu jauh dari jangkauan rudal, tapi rentan menjadi target serangan bawah laut.

Ukraina juga pernah melatih lumba-lumba di sebuah akuarium dekat Sevastopol. Ini merupakan program yang bermula dari skema era Soviet tapi diabaikan pada kurun 1990-an. Program Sevastopol dibangkitkan kembali pada 2012 oleh angkatan laut Ukraina, tapi lumba-lumba itu jatuh ke tangan Rusia setelah pencaplokan Krimea pada 2014.

Ukraina gagal menuntut pengembalian lumba-lumba tersebut dan Moskow berencana memperluas skema tersebut.

"Spesialis kami mengembangkan perangkat baru untuk mengubah deteksi target bawah laut oleh lumba-lumba menjadi sinyal ke monitor operator. Angkatan Laut Ukraina kekurangan dana untuk hal itu, dan beberapa proyek harus dihentikan," jelas salah satu sumber kepada kantor berita RIA Novosti.

Dua tahun kemudian, angkatan laut Rusia mengumumkan rencana membeli lima lumba-lumba lagi, membuka proses penawaran untuk kontrak 1,75 juta rubel – sekitar Rp 303 juta – untuk mengirim lumba-lumba ke pangkalan Sevastopol pada akhir musim panas. Tidak jelas apakah lumba-lumba yang diyakini berada di Sevastopol hari ini adalah lumba-lumba yang sama yang keluar dari kontrak ini.

Paus beluga

Citra satelit dari 2018 juta mengungkapkan Rusia menggunakan lumba-lumba di pangkalan angkatan lautnya di Tartus, Suriah, selama perang Suriah.

Selama perang dingin, baik AS dan Uni Soviet menggunakan lumba-lumba untuk mendeteksi benda bawah laut seperti ranjau, mengingat hewan itu memiliki kemampuan ekolokasi atau kemampuan mendeteksi objek di lingkungannya.

AS menghabiskan dana sedikitnya USD 28 juta atau Rp 405 miliar untuk pemeliharaan pasukan lumba-lumba dan singa lautnya yang juga terlatih.

Militer Rusia tidak hanya melatih lumba-lumba, tapi juga paus beluga. Seeokor paus beluga terlihat di lepas pantai Norwegia pada 2019 yang diyakini untuk dilatih angkatan laut Rusia. Nelayan melaporkan seekor paus beluga dengan sebuah pengikat yang diduga untuk memasang kamera menyerang kapal mereka. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel