Rusia Minta Tentara Ukraina di Mariupol Menyerah Jika Ingin Hidup

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Pertahanan Rusia menyampaikan kepada pasukan Ukraina yang masih bertempur di kota Mariupol yang terkepung agar menyerahkan senjata mereka mulai Minggu pukul 06.00 waktu Moskow jika ingin tetap hidup.

Klaim sebelumnya dari Rusia menyatakan tentaranya telah membersihkan area urban di Mariupol, lokasi pertempuran tersengit dan bencana kemanusiaan terburuk. Namun klaim ini tidak bisa diverifikasi, seperti dilansir Reuters.

Mariupol akan menjadi kota besar pertama yang jatuh ke tangan pasukan Rusia sejak invasi 24 Februari.

Moskow menyampaikan, pasukan yang masih ada di Mariupol baik pasukan Ukraina maupun asing, terjebak di pabrik baja Azovstal.

"Mempertimbangkan situasi mengerikan yang telah berkembang di pabril metalurgi Azovstal, juga didorong oleh prinsip kemanusiaan yang murni, Angkatan Bersenjata Rusia menawarkan batalion nasional militan dan tentara bayaran asing dari pukul 06.00 pada 17 April 2022, untuk menghentikan pertempuran dan meletakkan senjata mereka," jelas Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan.

"Semua yang meletakkan senjata mereka dijamin nyawanya akan selamat."

Berdasarkan ketentuan perjanjian yang diusulkan Rusia pada Sabtu, pasukan yang tersisa di pabrik Azovstal akan meninggalkan tempat itu antara pukul 06.00 dan 13.00 waktu Moskow, tanpa senjata dan amunisi.

Mulainya penyerahan diri akan ditandai dengan mengibarkan bendera.

"Dari pihak Rusia, merah; dari pihak Ukraina, putih - di sekitar seluruh perimeter Azovstal," jelas kementerian tersebut.

Belum ada tanggapan Kiev terkait tawaran tersebut.

Pada Sabtu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menuduh Rusia "dengan sengaja berusaha menghancurkan siapapun" di Mariupol dan mengatakan pemerintahannya menjalin komunikasi dengan pasukan Ukraina di sana. Namun dia tidak menyebut soal klaim Moskow yang mengatakan pasukan Ukraina tidak lagi ada di distrik perkotaan.

Mariupol, dengan lokasi strategisnya di pantai Laut Azov, telah menjadi target sejak awal perang. Mariupol terletak di jalur antara Krimea yang dicaplok Rusia di barat, dan wilayah Donestk di timur, yang sebagian dikuasai separatis pro Rusia sejak 2014.

Kementerian Pertahanan Rusia juga mengatakan pihaknya telah "mengevakuasi" 168.000 orang dari Mariupol. Ukraina mengatakan ribuan orang dipaksa keluar dari kota itu.

Upaya untuk mengevakuasi warga sipil dari Mariupol - beberapa kali dengan bantuan Komite Palang Merah Internasional - berulang kali gagal, dan kedua belah pihak saling menyalahkan.

Perebutan total Mariupol akan memberi Rusia pilihan untuk membangun jembatan darat ke Krimea dan mengendalikan seluruh pantai utara Laut Azov. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel