Rusia perkokoh peran sebagai 'gembong' gas dengan tiga pipa saluran baru

Moskow (AFP) - Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin China Xi Jinping pada Senin meluncurkan satu pipa saluran gas yang merupakan yang pertama dari tiga proyek ambisius yang dimaksudkan untuk mengukuhkan peran Moskow sebagai pengekspor gas utama.

Putin dan Xi dijadwalkan meresmikan melalui hubungan video pipa saluran "Power of Siberia", yang menghubungkan dan mengirim gas Siberia ke China dalam tindakan yang akan memperkuat hubungan mereka di tengah bentrokan Moskow dengan Barat.

Rusia juga berencana untuk segera meluncurkan dua lagi pipa saluran gas yang akan meningkatkan pasokan ke Eropa sementara melewati Ukraina.

TurkStream, yang Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan harapkan bisa diluncurkan pada Januari, akan mengirim gas Rusia ke Turki.

Nord Stream-2, yang akan menggandakan volume gas Rusia ke Jerman, diperkirakan akan melalui daring pada pertengahan 2020.

Banyak pengulas mengatakan ketiga proyek itu memiliki keuntungan politik dan ekonomi jangka-panjang buat Rusia, yang telah memasukkan dirinya di antara pasar Eropa ke barat dan pasar China yang berkembang ke timur.

"Rusia bukan hanya menciptakan aliran penghasilan baru, tapi memagari taruhannya dan mendukung posisinya secara strategis," kata pengulas energi Andrew Hill.

"Kemampuan untuk memainkan peran melawan yang lain takkan kalah baik buat Gazprom maupun Kremlin," tulis Hill, yang memimpin tim pengulas energi dan gas S&P Global Plastts EMEA, di dalam satu unggahan blog.

Ia menyatakan ketiga proyek tersebut adalah tanda bahwa industri gas Rusia --"gembong sektor gas global ini"-- menjadi lebih matang.

Juru Bicara Putin, Dmitry Peskov, mengatakan kepentingan pipa saluran sejauh 3.000 kilometer (1.850 mil) Power of Siberia, yang membentang dari wilayah terpencil Siberia Timur ke Blagoveshchensk di perbatasan China sulit untuk ditaksir terlalu tinggi.

"Ini penting buat negara kami, ini penting buat China," kata Peskov sebelum peluncuran. Ia menegaskan proyek tersebut akan menciptakan lapangan kerja dan prasarana di Far East Rusia.

Pipa saluran itu, yang telah Putin sebut "proyek pembangunan terbesar di dunia", memahkotai bertahun-tahun perundingan berat dan pekerjaan dalam kondisi sulit.

Kesepakatan bernilai 400 miliar dolar AS selama 30-tahun ditandatangani pada 2014, setelah satu dasawarsa pembicaraan yang melelahkan. Itu adalah kontrak terbesar buat raksasa gas Rusia, Gazprom.

Gazprom akan memasok gas ke China sebanyak 38 miliar meter kubik (1,3 triliun kaki kubik) setiap tahun ketika pipa saluran tersebut sepenuhnya beroperasi pada 2025.

Gasprom menekankan bahwa pipa saluran itu membentang melalui daerah yang berawa, pegunungan, secara seismik aktif, bersalju dan berbatu dengan kondisi lingkungan hidup ekstrem".

Temperatur di sepanjang jalur tersebut merosot 60 Dejarat Celsius di bawah nol di Yakuti dan minus 40 C di Wilayan Amur di Far East Rusia.

Ketika berbicara di Moskow pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri China Le Yucheng mengatakan pipa saluran itu akan mendorong kerja sama dan memungkinkan kedua negara terus "meningkatkan kekuatan satu sama lain dan mewujudkan peremajaan bersama".

Sebelum peluncuran, para pejabat juga mengatakan perkerjaan telah diselesaikan pada jembatan jalan pertama antara Rusia dan China.

Jembatan itu, yang direncanakan dibuka tahun depan, akan menghubungkan kota Blagoveshchensk dan Kota Heihe di China Utara.

Peluncuran Power of Siberia dilakukan di tengah pertengkaran yang berlanjut mengenai Nord Stream 2.

Pipa saluran bernilai 9,5 miliar euro (10,6 miliar dolar AS) itu telah menghadapi penentangan dari banyak negara di Eropa Tengah dan Timur, Amerika Serikat dan terutama Ukraina sebab itu tampaknya akan meningkatkan ketergantungan Eropa atas gas alam Rusia.

Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan menjatuhkan sanksi atas Nord Stream 2 dan mereka yang memiliki hubungan dengannya.

Meskipun memuji proyek gas Rusia dengan China dan Turki, Thierry Bros, seorang pengulas energi di Davis Center for Russian and Euasian Studies di Harvard, mengatakan hubungan energi Baltik telah menjadi korban penentangan kuat dari banyak negara di Barat.

"Nord Stream 2 tidak berhasil," katanya kepada AFP. Ia menyatakan bahwa sulit untuk mengatakan kapan Gazprom akan bisa sepenuhnya memodali penanaman modalnya.