Rusuh 3 Jam hingga Polisi Kewalahan, 5 Fakta Serbuan Massa Donald Trump ke Capitol Hill

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Washington D.C - Kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol Hill, Washington D.C, Amerika Serikat telah menjadi isu paling hangat di dunia politik saat ini.

Tak hanya di Amerika Serikat, para pemimpin dunia pun ikut memberikan reaksi mereka terkait hal ini.

Diketahui, insiden pada Rabu 6 Januari waktu AS itu terjadi ketika Kongres hendak mengesahkan kemenangan presiden terpilih Joe Biden. Seketika, massa pendukung Donald Trump pun menyerbu gedung tersebut dan menyatakan ketidakterimaan mereka terkait hal tersebut.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah sejumlah fakta soal kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol Hill, Washington D.C, Amerika Serikat:

1. Terjadi Ketika Kongres Hendak Sahkan Kemenangan Joe Biden

Polisi berdiri dekat pintu sambil menodongkan pistol saat pengunjuk rasa mencoba masuk ke Gedung Capitol Hill di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Beberapa di antara pengunjuk rasa nekat menerobos dan berusaha memasuki gedung. (AP Photo/Andrew Harnik)
Polisi berdiri dekat pintu sambil menodongkan pistol saat pengunjuk rasa mencoba masuk ke Gedung Capitol Hill di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Beberapa di antara pengunjuk rasa nekat menerobos dan berusaha memasuki gedung. (AP Photo/Andrew Harnik)

Para pengunjuk rasa naik ke tangga Capitol sekitar 14.15 waktu setempat (19.15 GMT), mendorong melewati barikade dan petugas dengan perlengkapan anti huru hara untuk menembus gedung.

Tindakan itu menargetkan sesi gabungan Kongres yang diadakan untuk mengesahkan kemenangan pemilihan Biden pada 3 November. Invasi itu membuat anggota Kongres berebut untuk berlindung di bawah kursi mereka saat gas air mata ditembakkan.

Massa, yang beberapa di antaranya mengenakan pelindung tubuh - menggunakan bahan kimia yang mengiritasi untuk menyerang polisi, menurut Kepala Polisi Metropolitan Washington Robert Contee.

Mereka berteriak dan melambaikan bendera pro-Trump dan AS saat mereka menjelajahi aula, menuntut hasil pemilihan presiden dibatalkan.

2. Polisi Kewalahan hingga Temuan Bom Pipa

Anggota parlemen berlari mengevakuasi diri saat para pengunjuk rasa mencoba masuk ke Gedung Capitol Hill di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Gedung Capitol Hill berhasil diamankan oleh polisi dan sejumlah demonstran dikeluarkan dari area gedung. (AP Photo/J. Scott Applewhite)
Anggota parlemen berlari mengevakuasi diri saat para pengunjuk rasa mencoba masuk ke Gedung Capitol Hill di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Gedung Capitol Hill berhasil diamankan oleh polisi dan sejumlah demonstran dikeluarkan dari area gedung. (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Beberapa ribu pasukan Garda Nasional, agen FBI, dan Dinas Rahasia AS dikerahkan untuk membantu polisi Capitol yang kewalahan.

Dalam insiden tersebut dua bom pipa berhasil ditemukan, satu dari kantor Komite Nasional Demokrat, tidak jauh dari Capitol, dan satu dari markas besar Komite Nasional Republik di dekatnya.

3. Kerusuhan Berlangsung Kurang Lebih 3 Jam

Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump memanjat dinding barat Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Seorang pria juga dilaporkan dalam kondisi kritis setelah jatuh dari perancah di Capitol Hill. (AP Photo/Jose Luis Magana)
Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump memanjat dinding barat Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Seorang pria juga dilaporkan dalam kondisi kritis setelah jatuh dari perancah di Capitol Hill. (AP Photo/Jose Luis Magana)

Pendudukan di Gedung Capitol berlangsung lebih dari tiga jam sebelum gedung itu diamankan oleh penegak hukum.

Tetapi ada sedikit tanda bahwa para pengunjuk rasa mengindahkan seruan Trump untuk pulang, meskipun jam malam di seluruh kota diumumkan oleh walikota dari pukul 18:00 hingga 06:00.

4. 52 Orang Ditangkap dan 4 Orang Tewas

Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump memanjat dinding barat Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Wanita yang ditembak di dalam Gedung Capitol Hill selama kerusuhan Rabu 6 Januari 2021 sore dinyatakan meninggal di sebuah rumah sakit. (AP Photo/Jose Luis Magana)
Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump memanjat dinding barat Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Wanita yang ditembak di dalam Gedung Capitol Hill selama kerusuhan Rabu 6 Januari 2021 sore dinyatakan meninggal di sebuah rumah sakit. (AP Photo/Jose Luis Magana)

Empat orang tewas di halaman Capitol Amerika Serikat pada Rabu (6/1) dan 52 orang telah ditangkap, Kepala Departemen Kepolisian Metropolitan Robert J Contee mengatakan pada Rabu malam.

Dalam konferensi pers larut malam, Contee menolak untuk mengidentifikasi wanita yang ditembak dan dibunuh oleh petugas Kepolisian Capitol dengan mengatakan pemberitahuan dari keluarga terdekat masih menunggu.

Wanita itu ditembak ketika massa mencoba menerobos pintu yang dibarikade di Capitol di mana polisi bersenjata di sisi lain. Dia dirawat di rumah sakit dengan luka tembak dan kemudian meninggal.

Tiga orang lainnya meninggal pada Rabu karena keadaan darurat medis, tambah Contee.

5. Akun Media Sosial Donald Trump Ditangguhkan

Donald Trump menyerukan boikot Apple karena Apple menolak membantu FBI terkait informasi pelaku penembakan. Tapi ia justru memakai iPhone.
Donald Trump menyerukan boikot Apple karena Apple menolak membantu FBI terkait informasi pelaku penembakan. Tapi ia justru memakai iPhone.

Twitter pada Rabu 6 Januari 2021 menghapus beberapa twit Presiden Donald Trump yang bereaksi terhadap kekerasan di Capitol Hill AS.

Di antara twit yang dihapus adalah video yang diposting Donald Trump Rabu sore kepada para pendukungnya. Termasuk yang mengatakan Wakil Presiden Mike Pence tidak memiliki "keberanian" untuk melakukan apa yang diperlukan.

Penghapusan tersebut dilakukan setelah Facebook dan YouTube menghapus video Trump teruntuk para pendukungnya, dan di tengah seruan oleh Anti-Defamation League dan NAACP agar akun media sosial Trump segera ditangguhkan.

Tak lama kemudian, Twitter mengatakan pihaknya telah mengunci akun Presiden Trump selama 12 jam, dan memperingatkan untuk pertama kalinya bahwa bisa saja ditangguhkan secara permanen.

Kunci sementara mencerminkan pelanggaran Donald Trump terhadap aturan Twitter, kata perusahaan itu.

"Kami telah meminta penghapusan tiga Tweet @realDonaldTrump yang diposting sebelumnya hari ini karena pelanggaran berat dan berulang terhadap Kebijakan Integritas Sipil kami," kata Twitter.

"Ini berarti akun @realDonaldTrump akan dikunci selama 12 jam setelah penghapusan twit ini. Jika twit tidak dihapus, akun tersebut akan tetap terkunci."

Twitter menambahkan bahwa "pelanggaran di masa mendatang ... akan mengakibatkan penangguhan permanen akun @realDonaldTrump".

Pengumuman tersebut menandai eskalasi besar-besaran oleh Twitter terhadap akun Trump dan menanggapi seruan oleh kelompok hak sipil agar Trump dilarang dari platform tersebut.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: