Rusuh Perang Tanding Tiga Hari di Adonara

Laporan Wartawan Pos Kupang, Syarifah Sifah

TRIBUNNEWS. COM, LARANTUKA -- Perselisihan antara warga Desa Redon Tena dan warga Desa Adobala, Kecamatan Kelubagolit, Adonara, Kabupaten Flores Timur (Flotim), merebut tanah, Selasa (4/6/2013), kembali memanas. Warga dua desa bertetangga itu perang tanding selama tiga hari berturut-turut sejak Selasa hingga Kamis (4-6/6/2013), namun tidak ada korban jiwa.

Warga dua desa itu saling mengklaim tanah sengketa di wilayah perbatasan yang kini menjadi kebun dan dikelola oleh warga dari dua desa itu. Mereka saling membakar pondok yang dibangun di kebun serta semak belukar. Pembakaran pondok memicu perang tanding yang selama ini ditunda karena pesta politik Pemilihan Gubernur NTT.

Kapolres Flotim, AKBP Wahyu Prihatmaka, S.H, bersama perwira dan empat pleton anggota, termasuk Brimob Maumere, terjun langsung ke lokasi sengketa. Brimob yang tiba di Adonara, Rabu (5/6/2013), dapat meredam situasi di wilayah sengketa.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian itu bermula pada Selasa (4/6/2013) pagi sekitar pukul 05.00 Wita. Saat itu warga Adobala dan warga Redon turun ke lokasi sengketa dan terjadi aksi saling kejar diikuti pembakaran padang dan pondok- pondok di kebun. Aksi itu membuat warga kedua belah pihak saling siaga.

Kedua pihak saling melempar batu dan benda-benda tajam, namun tidak ada korban luka. Massa dua desa berteriak-teriak dan warga tetangga dua desa itu, termasuk pengendara sepeda motor dan mobil yang melintasi jalan mendengar ada letusan di lokasi perang tanding.

Perang tanding berlangsung hingga sore hari. Menjelang malam perang berhenti. Perang dimulai lagi pada Rabu (5/6/2013) pagi dan selanjutnya perang berhenti pada siang hari setelah aparat keamanan turun ke lapangan. Pada Kamis (6/6/2013) pagi situasi dikendalikan Brimob Maumere.

Wakapolres Flotim, Komisaris Polisi (Kompol) David F Joseph, didampingi Kasat Lantas Polres Flotim, Rabu (5/6/2013) mengatakan, sebelum menjemput Brimob dari Maumere ada kejadian perang tanding itu. "Kondisi saat ini sudah aman. Pak Kapolres langsung mengendalikan personel di lapangan," kata David. Ia berharap masyarakat tidak main hakim sendiri, tetapi menyerahkan persoalan untuk diselesaikan secara bersama.

Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Flotim, Abdul Razak Jakra, kepada wartawan mengatakan, pemerintah bersama Muspida sudah turun ke lapangan untuk meredam situasi. Peristiwa ini terjadi karena perebutan lahan di perbatasan antar dua desa itu. Saling klaim antar warga sehingga memicu terjadinya ketegangan antara mereka.

Pemerintah, kata Jakra, sudah turun langsung ke lokasi perbatasan bersama masyarakat dua desa itu. Namun masih saja terjadi peperangan. "Pak bupati yang turun langsung menemui warga dua desa. Kita berharap warga dua desa tahan diri agar tidak melanjutkan peperangan. Pemerintah akan terus mencari solusi untuk warga dua desa itu," ujarnya. Untuk diketahui, pada tahun 1982 lalu pernah terjadi perang tanding antar warga dua desa itu hingga menelan korban jiwa. (*)

Baca Juga:

  • Persijap Jepara Ditahan Imbang Tanpa Gol Persepar Palangkaraya
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.