Rutan Pandeglang dengan Sederet Cerita Kelam

·Bacaan 2 menit

VIVA - Saat Pemerintahan Belanda berkuasa, Pandeglang merupakan salah satu daerah administratif di bawah keresidenan Banten. Pusat pemerintahan daerah Pandeglang saat itu berada di daerah yang saat ini juga menjadi pusat Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.

Tata Kota Jaman Kolonial di daerah adminitratif tergolong hampir memiliki kemiripan. Biasanya tata di pusat pemerintahan akan terdapat Alun-alun, Rumah Asisten Residen, Pusat Perdagangan, Masjid dan Rumah Tahanan (Rutan).

Tata kelola semacam ini pula terdapat di Pandeglang saat itu. Hingga kini tata kota masih terbilang sama, hanya saja sudah ada penambahan bangunan-bangunan baru.

Salah satu bangunan di daerah ini yang masih kokoh adalah Rutan Pandeglang. Terletak di Jalan Masjid Agung Nomor 3, Pandeglang, Rutan ini perkirakan berdiri pada Tahun 1981 oleh Pemerintahan Belanda.

Seperti dilansir VIVA.co.id dari akun Instagram @infopandeglang, diera sebelumnya, para pelanggar hukum disiksa secara fisik seperti potong tangan, ditarik dengan kuda, atau dibuang keluar daerah dan diperintahkan untuk menjadi pekerja pakasa atau rodi.

Tak hanya pelanggar hukum, rumah tahanan ini juga dijadikan tempat mengurung tahanan Politik. Sekitar tahun 1926 lalu, ada pemberontakan ulama di Banten yang berkongai dengan PKI sebagai satu satunya partai yang berani melawan belanda secara prontal. Tak heran, rutan - rutan kala itu dipenuhi para ulama, tokoh - tokoh bahkan banyak yang dibuang keluar Banten.

Kisah serupa sempat terulang pada Tahun 1977. Kala itu, seorang ulama kharismatik Pandeglang yaitu Abuya Dimyathi ditangkat oleh aparat karena dianggap bersebrangan dan mengkritim sitem kampanye partai yang berkuasa kala itu yaitu partai yang berlambang pohon beringin.

Dikutip VIVA.co.id dari buku "Manakib Abuya Cidahu Dalam Pesona Langkah di Dua Alam" karangan Abuya Murthado, Ayahnya ditangkap dan ditahan di Rutan Pandeglang. Beliau dianggap subversif dan dijatuhi hukuman enam bulan penjara.

Peristiwa penahanan Abuya Dimyhati ini membuat masyarakat Pandeglang meradang, dan hampir melakukan tindakan membebaskan paksa Abuya yang dipimpin oleh dua jawara murid beliau yaitu Jaro Kamid dan Ahmad Waluh.

Tindakan itu urung setelah abuya menulis surat yang intinya meminta masyarakat tenang karen beliau justru merasa tenang berada didalam penjara dan bisa melanjutkan perjuangan dakwahnya baru pada sesama warga binaan di dalam Rutan. Beliau menolak dibebaskan karena ingin menunjukan kepatihannya kepada Pemerintah kala itu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel