Rutinitas Bersepeda pada Pagi Hari Hadirkan Kebahagiaan Tersendiri

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: Martya Putri

Sudah lebih dari satu tahun kita menghadapi pandemi covid-19. Banyak sekali perubahan yang terjadi, berbagai penyesuaian pun harus dilakukan demi menjaga stabilitas nasional. Anak-anak kita harus sekolah dan belajar dari rumah, baik daring (online), luring (offline) maupun campuran daring dan luring. Orang-orang harus bekerja dari rumah, semua aktivitas yang berhubungan dengan orang banyak di batasi.

Protokol kesehatan diterapkan guna menjaga kehidupan bersama. Awal sekali keadaan sungguh mencekam, aku tetap tinggal dirumah, bekerja dari rumah. Sebulan berlalu, dua bulan berlalu, hingga berbulan-bulan keadaan tetap begitu. Wajar saja jika kejenuhan melanda, bukan berarti tidak lagi memperdulikan protokol kesehatan tapi ingin pandemi ini segera berlalu. Bagaimanapun juga manusia adalah makhluk sosial, ia berhubungan dengan manusia yang lain untuk hidup dan memenuhi kebutuhan hidup.

Beberapa bulan awal aku masih betah berdiam diri di rumah, bekerja, mengurus rumah, mengurus anak, bahkan ke pasar pun kulakukan seminggu sekali. Tapi lama kelamaan aku merasa aku perlu sedikit aktivitas diluar rumah yang bisa menurunkan tingkat stresku sendiri, sebuah aktivitas yang tidak berkumpul dengan orang banyak, tidak melanggar protokol kesehatan, tidak perlu banyak modal tapi berdampak positif bagiku. Akhirnya aku memutuskan untuk bersepeda di pagi hari.

Tak perlu membeli baju khusus untuk bersepeda, pakai saja pakaian olahraga yang ada di rumah. Rutenya pun tak perlu jauh. Aku sengaja memilih rute dari rumah, ke pasar subuh, taman kota, lalu sepanjang sungai dekat pelabuhan, pasar PPM, dan balik lagi ke rumah. Bersepeda sekitar 40 menit sudah cukup bagiku. Berangkat setelah salat subuh sekitar jam lima, keliling-keliling dan sampai rumah paling lambat jam enam pagi, pas anakku bangun.

Mensyukuri Banyak Hal

Jalan pagi./Copyright Martya Putri
Jalan pagi./Copyright Martya Putri

Pada awalnya aku hanya bersepeda begitu saja, berangkat, keliling-keliling, lalu pulang. Sampai rumah melakukan aktivitas ibu rumah tangga seperti biasa lalu kerja dari rumah, begitulah setiap hari.

Lama kelamaan aku mulai memperhatikan apa yang ada di sepanjang perjalananku bersepeda. Ada petugas kebersihan yang menyapu jalan raya, sepanjang yang aku lihat di jalan semuanya perempuan. Ada satu atau dua orang petugas kebersihan membawa anaknya yang masih balita. Aku perhatikan anak-anak itu mengikuti ibunya menyapu. Sesekali mereka terlihat tertawa, anak-anak memang seringkali adalah sumber tawa orang tuanya.

Di jalan lain di dekat pelanuhan aku melihat bapak-bapak yang bertugas di TPS, pagi-pagi sekali sudah bergumul dengan sampah yang tentu saja bau mengingat kebiasaan masyarakat masih tidak memilah sampahnya. Di pasar para pedagang sudah sibuk menata dagangannya, mulai dari yang menjual sayur sampai yang menjual ikan. Di sepanjang jalanan pasar terlihat beberapa sepeda berjejer di sebelah trotoar. Bukan sepeda seperti yang aku naiki, sepeda itu penuh dengan sayur-sayuran, dan kebutuhan memasak lain sepertinya, aku lihat ada kerupuk juga.

Di sini masih banyak penjual sayur keliling yang bersepeda, sejauh yang aku lihat semuanya perempuan. Dangangannya memang tidak banyak, tapi aku yakin itu usah terbaik yang bisa mereka lakukan. Di sisi lain ada juga beberapa sepeda motor dengan lebih banyak dagangan, aku lihat ada ayam dan juga buah tergantung di keranjang belakang sepeda motor itu. Sepanjang pagi biasanya yang aku lihat berjualan sayur dengan sepeda motor ini adalah bapak-bapak.

Yang aku pikirkan setelah semua pemandangan pagi itu adalah sebagai manusia aku harus lebih banyak bersyukur. Bersyukur aku bersepada pagi hari untuk menyegarkan pikiranku sementara perempuan lain ada yang pagi-pagi sekali harus berdesakan membeli dagangan dipasar untuk dijual kembali.

Aku harus bersyukur aku bisa fokus bekerja di sekolah karena ada mama mertuaku yang menjaga anakku di rumah sehingga anakku tidak perlu ikut aku bekerja sementara perempuan lain harus bekerja sambil membawa anak mereka. Aku harus bersyukur diberi waktu luang untuk sekadar bersepeda sambil mendengarkan musik di pagi hari dan menghirup udara segar sementara yang lain pagi-pagi sekali harus sudah menyelesaikan urusan rumah tangga karena kebetulan dia bekerja di toko yang tidak mengikuti bekerja dari rumah. Aku harus selalu bersyukur diberi kesehatan sementara yang lain ada yang sedang berjuang melawan sakitnya bahkan antara hidup dan mati.

Tak hanya udara segar yang aku dapatkan dari perjalananku bersepeda pagi, badan pun rasanya lebih fit. Tidak perlu pergi ke gym karena berisiko bertemu dengan orang banyak, cukup bersepeda saja. Awalnya memang kaki terasa capek karena tidak terbiasa bersepeda, aku ingat terakhir kali aku bersepeda jauh adalah ketika aku sekolah SMP, sudah 17 tahun yang lalu. Tapi percayalah semua hanya lelah di awal, pada akhirnya semua akan terasa nyaman karena telah terbiasa.

Aku juga bisa melihat pemandangan pagi yang indah di sepanjang sungai, sunrise di pinggir sungai cukup indah untuk dinikmati, tak perlu berwisata jauh selama pandemi. Awal yang baik di pagi hari bisa membangun mood baik kita sepanjang hari.

Tak ada yang sempurna di dunia ini, kita tetap manusia biasa yang punya cela. Pada akhirnya sebagai hamba rasa syukurlah yang akan membuat kita lebih dekat dengan Sang Pencipta. Tak boleh terlalu fokus pada hal negatif, kita harus selalu menemukan sisi positif dari semua yang terjadi. Meskipun pandemi ini merupakan ujian yang berat, tapi Tuhan tak pernah pergi. Pada akhirnya kita hanya harus tetap berusaha tanpa meninggalkan doa. Itu saja.

#ElevateWomen