Saat Berdoa Minta Rezeki, Sertai dengan Minta Hati yang Selalu Merasa Cukup

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Pernah dengar atau bacaan pernyataan yang kurang lebih seperti ini? "Saat berdoa minta rezeki, jangan lupa minta hati untuk selalu merasa cukup." Mungkin kita pernah menjumpainya di lini masa media sosial, atau ada seseorang yang pernah mengatakan langsung hal itu kepada kita untuk menenangkan hati kita.

Sering kita berdoa minta diberi rezeki yang cukup (atau bahkan lebih). Setiap waktu kita merasa butuh lebih banyak rezeki. Lebih banyak uang, harta, hingga lebih banyak barang. Hanya saja kita lupa atau mungkin kurang memperhatikan bahwa meminta hati yang selalu merasa cukup itu juga penting.

TERKAIT: Di Akhir Usia 20an, Perempuan Bisa Mengalami 5 Perubahan Ini

TERKAIT: 5 Cara Elegan Hadapi Pertanyaan Kapan Nikah yang Terus Berulang

TERKAIT: 5 Bahayanya Menggantungkan Kebahagiaan pada Perhatian Orang Lain

Kita akan Selalu Merasa Butuh Lebih Banyak

"If you look to others for fulfillment, you will never be fulfilled. If your happiness depends on money, you will never be happy with yourself. Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the world belongs to you." - Lao Tzu

Sebagai manusia, kita akan selalu merasa butuh lebih banyak. Jarang bisa puas hanya pada satu titik atau satu pencapaian. Bahkan saat sebenarnya semua kebutuhan kita sudah terpenuhi dengan baik, kita masih saja merasa kurang. Masih saja merasa butuh lebih banyak. Hanya mengikuti ego belaka cuma bakal bikin kita lelah sendiri, sebab itu tak ada ujungnya.

Selalu Ada Perbandingan Baru yang Muncul di Benak Kita

ilustrasi./Copyright Kay chompen/Shutterstock
ilustrasi./Copyright Kay chompen/Shutterstock

"Our capacity to draw happiness from aesthetic objects or material goods in fact seems critically dependent on our first satisfying a more important range of emotional or psychological needs, among them the need for understanding, for love, expression and respect." - Alain De Botton

Makanan yang sedang tersaji di piring kita akan terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan unggahan seseorang di media sosial yang baru saja mengunjungi sebuah kafe baru. Baju nyaman yang kita kenakan akan tampak "rendahan" saat kita membandingkannya dengan unggahan seseorang di story barunya yang baru saja dapat kado kejutan gaun baru dari kekasihnya. Setiap saat dan setiap waktu kita akan terus membuat perbandingan, terlebih saat ini kita hidup di era media sosial. Jadi, akan selalu ada perbandingan yang muncul di benak kita. Selalu saja ada yang lebih "wah" dari semua hal yang sudah kita punya.

Hati yang Tenang, Sumber Kebahagiaan

"Happiness cannot be traveled to, owned, earned, worn or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude." - Denis Waitley

Semakin dewasa kita akan semakin menyadari betapa pentingnya punya hati yang tenang dan perasaan tenteram. Tidak dihantui kegelisahan dan kecemasan merupakan sebuah kebahagiaan luar biasa. Maka dari itu, setiap kali kita berdoa, sertai pula dengan memohon untuk mendapatkan hati yang selalu merasa cukup. Memohon untuk selalu diberi hati yang kuat dan tegar. Hati yang senantiasa bersyukur.

Setiap saat kita bisa berdoa. Berdoa apa saja. Meminta apa saja. Kita semua pun punya cara dan pilihan sendiri saat menuturkan serangkaian doa. Kalau menurut Sahabat Fimela sendiri, sepenting apakah memiliki hati dan perasaan yang cukup dalam keseharian berdoa kita?

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel