Saat Bolton berbicara, Kongres tak peduli, fokus pada pemilihan

Washington (AP) - Kongres tampaknya sudah tidak peduli dengan John Bolton.

Sikap itu terlepas dari dugaan mencengangkan yang diungkapkan mantan penasihat keamanan nasional itu soal mantan bosnya, Presiden Donald Trump, dalam sebuah buku baru. Buku itu yang merinci keberadaan Bolton di Gedung Putih selama 17 bulan. Bolton menulis bahwa Trump “memohon” kepada Presiden China Xi Jinping, selama KTT 2019, untuk membantunya terpilih kembali dalam pemilihan presiden AS. Menurut Bolton, Trump juga terlibat dalam suatu pola yang menyerupai tindakan “menghalangi hukum sebagai cara hidup.”

Trump mengecam buku Bolton, sosok yang dikenal luar biasa sebagai pencatat informasi, sebagai "kompilasi kebohongan dan cerita karangan."

Betapapun mengejutkannya dugaan tersebut, Bolton membuat dugaan tersebut bisa mengarah ke pemakzulan di tengah pandemi dan ketegangan rasial yang meluas serta kurang dari lima bulan sebelum Hari Pemilihan. Anggota parlemen dari kedua belah pihak sepakat bahwa relevansi Bolton dengan penyelidikan apa pun di kongres tentang Trump sudah berlalu.

"Saya tidak akan membeli suatu buku yang merupakan pengganti kesaksian di depan Kongres," kata Ketua DPR Nancy Pelosi kepada wartawan. “Presiden Trump jelas secara etis tidak mampu dan secara intelektual tidak siap untuk menjadi presiden Amerika Serikat. Tampaknya itu tidak menjadi masalah bagi Partai Republik di Senat Amerika Serikat."

"Tidak akan membuat perbedaan pada saat ini. Kita menghadapi pemilihan dalam 4,5 bulan," kata Senator Mike Braun dari Republik-Indiana. "Menurut saya ada banyak masalah yang lebih penting: reformasi polisi dan mungkin kembali ke beberapa hal yang kami lakukan bahkan sebelum pemakzulan, seperti mereformasi perawatan kesehatan."

Buku Bolton adalah kisah yang sudah diketahui para anggota Kongres. DPR memakzulkan dan Senat membebaskan Trump atas tuduhan pelecehan dan gangguan peradilan terkait tekanan Trump terhadap presiden Ukraina untuk memberikan bantuan politik.

Enam bulan lalu, Demokrat mendesak Bolton untuk memberikan kesaksian, namun ia menolak melakukannya.

Sekarang setelah Bolton berbicara, Demokrat tidak menyebutkan akan memaksanya bersaksi atau mengambil tindakan lain, beberapa bulan sebelum pemilihan untuk memusatkan perhatian pada virus dan krisis rasial yang sedang melanda di negara itu.

Pelosi mengatakan "ini tidak selalu tentang apakah kita memanggil" Bolton. Ketua Komite Intelijen DPR Adam Schiff, Demokrat-California, yang memimpin penyelidikan DPR dan penuntutan di Senat, mengatakan bahwa komite itu "akan terus meminta pertanggungjawaban Trump", tetapi dia sedang melakukan pembahasan dengan Pelosi tentang langkah-langkah selanjutnya.

Ketika ditanya apakah Bolton harus diundang untuk bersaksi, Senator Mark Warner, anggota asal Demokrat di komite intelijen, hanya mengatakan bahwa ia dan ketua Marco Rubio sedang "membahas secara teratur."

Tetapi Rubio, Republik-Florida, mengatakan sekarang pemilihan adalah tempat yang tepat untuk menentukan nasib Trump. Ia mengatakan bahwa kalau Senat memanggil Bolton selama persidangan pemakzulan awal tahun ini, "kita sekarang mungkin masih menjalani proses di pengadilan, di tengah pandemi dan segala sesuatu yang sedang terjadi."

Demokrat mengakui bahwa buku itu tidak mungkin akan membuat para senator Republik tergerak. Sebagian besar dari senator Republik itu selama ini menghindar dari sikap untuk mengkritik Trump.

Senator Chris Murphy, Demokrat-Connecticut, menyebut tuduhan Bolton “mengejutkan dan juga sama sekali tidak mengejutkan.” Ia mengatakan Bolton tetap harus dipanggil, "soal buku-buku sejarah."

Partai Republik, yang mengamati prospek politik mereka sendiri dan pemimpin partai mereka, tidak akan banyak membicarakannya.

"Saya tidak mau ikut berebut makanan," kata Senator Ron Johnson, Republik-Wisconsin, yang kerap menjadi sekutu Trump.

"Saya tidak bisa mengatakan apa-apa soal (buku) itu," kata Senator John Cornyn, Republik-Texas.

Senator dari Idaho, James Risch, yang merupakan ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, mengatakan kepada wartawan bahwa "Saya tidak mau diwawancarai soal John Bolton."

Senator Todd Young, Republik-Indiana, menjadi kesal ketika ditanya tentang Bolton. Ia tiga kali mengatakan bahwa "tidak ada yang lain" soal buku itu sampai ia diberi kejelasan apakah buku itu berisi informasi rahasia, seperti yang ditegaskan Gedung Putih.

David Perdue dari Georgia dan Susan Collins dari Maine juga menolak berkomentar.

Mereka yang berkomentar tidak tertarik untuk meninjau kembali masa lalu.

"Adakah yang mengaku menyaksikan pengkhianatan dan menghalangi keadilan dan menceritakannya dalam sebuah buku?" kata Senator Lindsey Graham, Republik-South Carolina. "Sebagian besar Demokrat akan kesulitan mengembangkan kasus di sekeliling Bolton. Mereka tahu itu."

Senator Lisa Murkowski, Republik-Alaska, mengatakan ia berjuang untuk bagaimana berbicara tentang penanganan Trump terhadap virus serta ketegangan rasial, yang berasal dari pembunuhan polisi terhadap George Floyd di Minneapolis. Namun, ia mengatakan pada Kamis bahwa ia tidak menyesal memilih untuk menolak memanggil saksi-saksi seperti Bolton.

"Tidak ada jalan untuk kembali," katanya. "Saya tidak menyesali keputusan itu."