Saat Ingin Menyerah dalam Berkarier, Ingat Lagi Niat Awal Kita Memulainya

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: N - Bandung

Aku memulai karier di Jakarta, mulai dari lulus kuliah sampai berpindah-pindah tempat kerja selalu di Jakarta. Hidupku sangat menyenangkan. Aku menikmati pekerjaanku di Jakarta sampai akhirnya menikah, hingga kami mempunyai satu anak. Suamiku tinggal di kota yang berbeda denganku. Dia pulang setiap akhir minggu untuk menyambangiku dan anak kami satu-satunya.

Di awal menikah, kami harus tinggal terpisah, kami ditempatkan di kota yang berbeda. Akhirnya aku mulai menikmati membesarkan anakku di Jakarta dengan keuntungan anakku dijaga oleh orang tuaku, sekaligus menikmati segala fasilitas yang kudapatkan dengan mudah di ibu kota ini. Pekerjaanku yang semakin aku kuasai walaupun tidak terlalu selaras dengan jurusan kuliahku, relasi yang semakin banyak, kantor di daerah Jakarta Selatan dikelilingi dengan café baru yang happening, gampang pesan makanan maupun minuman yang sedang terkenal setiap hari menggunakan aplikasi ojek online, kantor juga dekat dengan mal megah, mau pergi ke mana pun akses transportasi gampang, MRT hinga TJ persis di depan kantor.

Namun, pada suatu hari aku sampai di titik bahwa anakku mulai tidak menerima melihat ayahnya harus kembali ke kotanya setiap hari minggu malam. Dia mulai menangis setiap hari, bermimpi hingga mengigau mencari ayahnya. Akhirnya aku putuskan sudah saatnya aku harus pindah mengikuti suamiku, dikabulkanlah permintaanku untuk pindah per 1 Januari 2020.

Kantor Baru

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tibalah aku di kota baru. Kota ini sebetulnya bukan tempat yang asing bagiku, juga kantor ini. Aku kuliah di kota ini. Saat aku masih di Jakarta, aku juga sering sekali ke kantor ini untuk mengurus banyak hal, rasanya sudah banyak aku kenal orang di kantor ini dan mungkin banyak juga orang kantor ini yang sudah mengenalku, pikirku. Ternyata keadaan tidak seindah di bayanganku.

Di minggu pertamaku aku banyak termenung, banyak hal yang ternyata aku dan suamiku tidak sejalan. Rencana kami yang rasanya sudah matang saat di Jakarta ternyata berantakan saat dipraktikkan di sini. Tidak ada orang tua, keluarga, juga kemudahan fasilitas yang selama ini aku dapat di Jakarta.

Setiap malam aku hanya memikirkan resign dari kantor ini. Aku menangis juga saat salat membayangkan apa yang aku hadapi di kantor baru ini. Pekerjaanku benar-benar berbeda dengan apa yang kukerjakan selama ini di Jakarta. Pekerjaan ini sebetulnya sesuai dengan background kuliahku yang kental dengan pekerjaan lapangan, tapi rasanya sudah tidak sesuai dengan passion-ku yang sudah terlena hidup enak di Jakarta dan sudah mempunyai anak.

Membayangkan apa yang akan aku lakukan for the rest of my life di kantor ini membuatku ngeri. Aku akan banyak menghabiskan waktuku di lapangan, naik gunung, turun gunung, mendaki lereng, terjun ke sungai dan sebagainya. Bagaimana nasib anakku jika harus sering kutinggal untuk waktu lama? Begitu pikirku.

Lalu, kantor ini ternyata begitu luas, begitu besar. Jarang sekali aku melihat manusia lalu lalang saking besarnya. Bahkan untuk membeli sebotol air minum saja aku harus jalan begitu jauh untuk sampai ke kantin, keluhku pada saat itu. Di hari pertama aku bingung harus makan apa, akhirnya aku buka aplikasi online untuk memesan makanan. Tapi yang kutemukan tidak seperti yang di Jakarta.

Aku harus menebak-nebak apakah tempat makan ini enak, ini makanan apa, apakah ini terkenal, apakah ini, apakah itu, karena susah sekali mencari restoran yang “terkenal” di area kantorku. Lalu di mana orang-orang yang dulu kami sering bertemu baik di Jakarta atau pun di kantor ini dan selalu mengajakku untuk pindah ke kantor ini dengan hangatnya dan tangan terbuka? Rasanya aku tidak bertemu dengan mereka satu pun.

Bangkit Lebih Kuat

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Setelah minggu pertamaku, akhirnya aku mulai bangkit. Melihat anakku bahagia setiap hari saat bertemu dengan ayahnya sepulang kantor, sangat tak tergantikan dengan apa pun. Kemudian aku menetapkan hati, aku meyakini bahwa aku yang meminta ini semua, Tuhan sudah mengabulkan permintaanku dan ini pasti yang terbaik, demi keluarga kecilku.

Aku mulai dengan belajar lagi seperti di masa kuliah, aku ulangi lagi pelajaran dasar yang rasanya aku sudah lupa. Ternyata aku tak sebodoh itu, pikirku. Aku mulai membuat catatan-catatan pelajaran untuk diriku sendiri, aku menyiapkan fisik diriku jika mendadak suatu saat aku harus berangkat ke lapangan, mencari pengasuh dan daycare yang cocok untuk anak kami.

Aku buka jendela di sebelah mejaku untuk melihat keindahan alam di luarnya, karena persis di sebelah jendelaku ada danau buatan dan banyak sekali pohon, cukup rindang dan asri memang kantorku. Aku mulai makan di kantin mengajak beberapa teman yang kukenal. Aku bertukar cerita. Aku meminta untuk dimasukkan ke grup percakapan ibu-ibu di kantor ini. Aku juga mencari teman untuk olahraga mulai dari lari di area kantor hingga Zumba. Aku juga akhirnya menemukan teman yang hobi pesan makanan/minuman melalui aplikasi ojek online (itu salah satu hiburan untukku). Semuanya menyenangkan ternyata saat aku melihat dari sisi yang lebih positif.

Sekarang perasaanku untuk pergi ke kantor menjadi lebih ringan, aku mulai terbiasa dengan pola kehidupanku disini. Aku juga akan tetap berusaha untuk menjadi lebih baik lagi di tahun ini, mencintai pekerjaanku yang baru, menguasai pekerjaanku yang baru, serta targetku di tahun ini yang terdekat adalah untuk menghafalkan seluruh orang yang ada di lingkungan kantor yang sangat besar ini, hehe.

Jadi… dearest 2020, here I come bigger, stronger, and better.

#GrowFearless with FIMELA