Saat 'Jaksa Masuk Sekolah' Beri Edukasi Hukum untuk Siswa SMP di Garut

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Garut - Jarak ratusan kilometer (km) yang ditempuh rombongan Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut, Jawa Barat ke wilayah Garut selatan, tidak menghalangi tekad para jaksa dalam memberikan pengetahuan dan informasi mengenai hukum bagi masyarakat khususnya kalangan pelajar.

Bertempat di Aula terbuka SMPN 1 Cibalong, rombongan "Jaksa Masuk Sekolah" yang dipimpin Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Garut Neva Susanti tersebut, blusukan ke sekolah untuk memberikan pengetahuan hukum bagi siswa.

"Ayo adek-adek siapa yang bercita-cita menjadi jaksa?" ujar Neva membuka pembicaraannya di depan puluhan siswa SMPN 1 Cibalong, dalam kunjungan jaksa masuk sekolah, beberapa waktu lalu.

Menurut Neva, jaksa masuk sekolah merupakan ikhtiar lembaga Adhiyaksa untuk membumikan dan memberikan informasi mengenai hukum bagi kalangan dunia pendidikan, terutama pelajar sekolah.

"Anak-anak juga diharapkan mulai paham hukum, ada UU narkotika, UU peradilan anak, UU pidana dan lainnya," kata dia.

Dalam pelaksanaan aturan di masyarakat, sejak penetapan undang-undang ditandatangi Presiden, maka seluruh warga negara wajib mematuhi tanpa terkecuali.

“Mau mengerti atau tidak mengerti, mau dibaca atau tidak undang-undang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh," kata dia.

Selain itu, kehadiran jaksa di sekolah diharapkan memberikan motivasi bagi pelajar agar tertib hukum, dan lebih waspada menjauhi perbuatan yang berpotensi melanggar aturan.

"Mungkin 15 tahun lagi ke depan, enggak mustahil adik-adik di sini bisa menjadi pemimpin bangsa," ujar dia memotivasi.

Neva mencontohkan perjuangan Presiden ke-3 BJ Habibie yang berasal dari sebuah kota kecil Pare-pare di wilayah Sulawesi, hingga menjadi tokoh bangsa dan menjadi salah satu cendekiawan muslim dunia.

"Jangan lupa belajar bersungguh-sungguh, kenali hukum dan jauhi hukuman," ujar Neva kembali menyemangati para siswa.

Imbauan Bagi Siswa

Kajari Garut Neva Susanti memberikan bingkisan kenang-kenangan kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Cibalong, Garut, Jawa Barat Ridwan, beberapa waktu lalu. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)
Kajari Garut Neva Susanti memberikan bingkisan kenang-kenangan kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Cibalong, Garut, Jawa Barat Ridwan, beberapa waktu lalu. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Kepala Sekolah SMPN 1 Cibalong Ridwan menyambut baik kehadiran jaksa masuk sekolah. Menurutnya, pengetahuan kalangan pendidikan termasuk siswa dinilai masih awam mengenai persoalan hukum.

"Ibu Kajari ini orang besar, bisa menjadi pemimpin di bidang hukum di Garut, kalian bisa tanya langsung," ujar dia.

Menurutnya, meningkatnya pemahaman hukum di kalangan pelajar diharapkan mampu memberikan peringatan dan efek jera bagi mereka yang akan berani mencoba melanggarnya.

"Lebih baik jika jaksa masuk sekolah menjadi agenda rutin pihak kejaksaan," pinta dia.

Neva menambahkan, sebagai generasi muda yang tengah fokus dalam mengejar mimpi dan cita-cita, para pelajar mesti fokus belajar, meninggalkan hal yang tidak penting termasuk melawan hukum.

"Jangan kumpul-kumpul di luar jam sekolah, boleh sekali-kali tapi jangan keseringan, biasanya yang suka merokok awalnya dikasih gratis, lama-lama nanti beli sendiri, begitu juga narkoba," ujar dia mengingatkan.

Neva kemudian memberikan contoh ancaman bagi pengguna atau pemakai ganja atau psikotropika lainnya dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun.

"Nanti yang melanggar pasti ditangkap polisi setelah polisi nangkap, nanti ibu dan para jaksa yang akan pelajari berkasnya," ujar dia menjelaskan fungsi jaksa dalam penanganan perkara.

Kelengkapan berkas itu, ujar dia, diteliti mulai barang bukti, kronologi kejadian hingga data lainnya, untuk selanjutnya menetapkan tuntutan hukum sesuai perkara yang dihadapi.

"Setelah oke semua baru dimasukkan ke pengadilan, selama proses persidangan pelaku terlebih dahulu sudah ditahan ya," ujar dia.

Jauhi Perundungan Siswa

Kajari Garut Neva Susanti melakukan penanaman bibit tanaman selepas deklarasi anti perundungan di SMPN 1 Cibalong, Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)
Kajari Garut Neva Susanti melakukan penanaman bibit tanaman selepas deklarasi anti perundungan di SMPN 1 Cibalong, Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Khusus pelajar, Neva mengingatkan untuk lebih santun terhadap sesama dan jauhi perkara bully atau perundungan selama belajar di sekolah.

"Awas jangan saling bully, itu pasalnya bisa juga dijerat UU ITE, semua ada aturannya," kata dia.

Selama memberikan materi, terlihat antusiasme para siswa. Selain menjadi pengalaman berharga dan langka, mereka bisa bertanya langsung mengenai fungsi aparat penegak hukum di Indonesia.

"Silakan bertanya hakim itu kerjanya apa, jaksa itu kerjanya apa, pengacara itu kerjanya apa termasuk bapak polisi yang hadir di sini kerja apa biar diketahui adik-adik semua," kata dia.

Manda, 13 tahun misalnya, pelajar kelas VII itu menanyakan bagaimana cara menjadi seorang jaksa dan penegak hukum.

"Bagaimana menjadi jaksa itu seru enggak, Bu?" yang dijawab dengan spontan, "Seru sekali, bisa ketemu dengan seluruh lapisan masyarakat, mulai dai penjahat sampai presiden," ujar Neva.

Untuk meningkatkan semangat siswa, dia mengajak pihak sekolah dan para siswa mengunjungi kantor Kejaksaan Negeri Garut.

"Jarang-jarang adik-adik ke kantor kami, silahkan lakukan visit study ke Kejari Garut, dengan senang hati siap menerima," dia menandaskan.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel