Saat Letjen TNI Prabowo Merasa Berdosa Gara-gara Ilmu Bela Diri

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menguasai ilmu bela diri sudah menjadi suatu keharusan bagi setiap prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). Apalagi bagi seorang Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo, yang pernah menjadi anggota pasukan elite Komando Pasukan Khususu (Kopassus).

Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Kopassus, jebolan Akademi Militer (Akmil) 1974 ini diketahui pernah menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, periode 1 Desember 1995 hingga 20 Maret 1998.

Jauh sebelum memimpin pasukan elite TNI Angkatan Darat itu, Prabowo kenyang dengan pengalaman tempur. Beberapa diantaranya adalah saat diterjunkan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur, dan Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma Papua.

Selain mahir menggunakan senjata, Prabowo tentu andal dalam penguasaan ilmu bela diri. Ternyata, Prabowo pernah mempelajari berbagai ilmu bela diri yang berasal dari Jepang, semisal judo dan karate.

Namun demikian, pria yang saat ini menjabat Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) sempat merasa kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia. Pasalnya, saat belajar ilmu bela diri karate dan judo Prabowo harus mengikuti tata cara dan istilah Jepang.

"Saya waktu prajurit itu memang ada komandan-komandan saya yang suruh belajar karate, judo, dan saya ikut juga menyenangi. Tapi, akhirnya kita harus ikut hormat secara Jepang, pakai istilah Jepang. Saya kok merasa, di mana pride kita sebagai bangsa Indonesia?" ucap Prabowo.

Timbul di benak Prabowo untuk kembali ke akar. Ya, pada akhirnya pria kelahiran 17 Oktober 1951 ini menerima anjuran dari sang senior, Mayjen TNI Mung Parahadimulyo, yang diketahui pernah menjadi Danjen Kopassus ke-4 jauh sebelum Prabowo.

Diceritakan Prabowo, Mung lah sosok yang berjasa membawa perguruan pencak silat ternama, Merpati Putih, untuk menjadi bela diri utama di Kopassus. Pada akhirnya, Prabowo pun ikut serta membesarkan bela diri pencak silat di kalangan TNI Angkatan Darat.

Sebagai seorang nasionalis, Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa pencak silat adalah budaya asli Indonesia yang akan memperkuat karakter bangsa. Menurutnya juga, budaya bangsa akan terkikis jika putra-putri bangsa tidak ikut serta melestarikannya.

"Padahal kita punya bela diri dari bangsa kita sendiri, yang hormatnya sesuai dengan budaya kita. Di situ waktu itu, senior-senior di tentara Pak Mung Parahadimulyo terutama. Beliau orang yang sangat nasionalis, patriotik. Beliau menganjurkan kita kembali ke pencak silat," kata Prabowo melanjutkan.

"Dan di situ lah, beliau bawa Merpati Putih ke Kopassus dan akhirnya saya ikut dalam arus itu.K ita harus kembali ke akar, siapa lagi yang harus menghormati budaya kita kalau bukan putra-putrinya sendiri. Kalau kita tidak punya jati diri, saya kira karakter kita tidak akan kuat," ujarnya.