Saat Perusahaan China Berlomba-lomba Investasi Augmented Reality

Merdeka.com - Merdeka.com - Teknologi Augmented Reality (AR) telah berkembang selama beberapa tahun terakhir. Di masa lalu, peralatan AR terutama didasarkan pada pasar B-end. Investasi di pasar AR C-end relatif terbatas. Namun, sekitar satu tahun terakhir, di bawah tren metaverse, AR adalah salah satu teknologi terpenting. Bahkan, pasar AR konsumen sedang meningkat lagi.

AR ini adalahteknologi yang menggabungkan benda-benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata dan bersifat real-time.

"Saat ini, perusahaan di industri AR memiliki lebih banyak hal konkret dan produk. Ini adalah siklus industri yang besar," kata Li Hongwei, CEO Inovasi Thunderbird seperti dikutip In China dari GizChina, Senin (31/10).

Sama seperti seluruh dunia, perusahaan-perusahaan Cina juga memiliki minat besar pada AR. Pada kuartal ketiga tahun 2022, Nreal, Thunderbird Innovation, dan Rokid adalah merek AR China teratas.

Nreal menempati urutan pertama dengan pangsa pasar AR sebesar 34,5 persen. Thunderbird Innovation berada di urutan kedua dengan pangsa pasar 28,6 persen. Thunderbird Innovation, yang menjadi populer dalam waktu satu tahun sejak didirikan, adalah lambang industri AR. Dalam dua tahun terakhir, dengan meledaknya konsep metaverse, AR menjadi teknologi utama.

Menurut data, lebih dari 10 kacamata AR dirilis atau terdaftar pada paruh pertama tahun ini. Ada investasi besar dalam teknologi AR. Investasi AR China mencapai rekor tertinggi baru sebesar USD37,4 miliar. Beberapa merek AR China telah memperoleh pembiayaan. Orang-orang seperti Liangfengtai, Nreal, Rokid dan Yingmu semuanya memiliki investor yang layak.

Pada Maret tahun ini, Rokid mengumumkan bahwa mereka telah menerima total 700 juta yuan atau USD97 juta dalam pembiayaan Seri C. Nreal juga mengumumkan penyelesaian putaran pembiayaan C+ senilai USD 60 juta. Dalam waktu kurang dari setengah tahun, Nreal menerima investasi strategis dari GENTLE MONSTER, dengan jumlah pembiayaan USD 15 juta.

Sebelumnya, konsep AR telah dikenalkan oleh Google saat merilis Google Glass. Google Glass ini baik adegan yang digambarkan dalam film fiksi ilmiah, kacamata ini memungkinkan pemakainya memperoleh informasi secara real-time.

Fitur-fitur yang tersedia seperti pengunggahan gambar, panggilan video, dan pemeriksaan cuaca. Produk ini diterima oleh laboratorium dan perusahaan film dan televisi. Namun, itu tidak pernah mampu merangsang minat konsumen biasa. Untuk konsumen biasa, kacamata AR memiliki tiga masalah utama. Itu mahal, memiliki masa pakai baterai yang pendek dan aplikasinya jauh dari sempurna.

Karena itu, Google Glass gagal membantu Google membuka pasar AR konsumen. Pada Januari 2015, Google Glass dihentikan. Pada saat yang sama, Google menutup proyek terkait. Kala itu, CFO Google Patrick Pichet menyatakan pesimisme tentang masa depan Google Glass.

Diakuinya, Google Glass tidak akan meluncurkan versi konsumen untuk saat ini. Namun, Google juga mengklaim bahwa teknologi AR sangat penting, dan Google akan terus mengembangkannya. Google sekarang sedang mengembangkan headset AR baru dan nama kodenya adalah "Project Iris". Dari spekulasi, produk ini akan tersedia paling cepat 2024.

China Tak Main-main dengan Metaverse

China memilih jalan berbeda dengan negara-negara lain dalam mengembangkan teknologi metaverse. Mereka menyebutnya sebagai 'Chinaverse'. Bahkan, dilaporkan Jing Daily & GlobalTimes, Selasa (25/10), negara ini menekankan slogan metaverse yakni 'gunakan virtual untuk meningkatkan yang nyata, gunakan virtual untuk memperkuat yang nyata'.

Lain hal dengan negara lainnya di mana metaverse lebih berpusat pada hiburan serta teknologi Web 3.0, yang memampukan terciptanya komunitas dunia secara virtual. Seperti di New York Fashion Week terakhir, ketika beberapa merek dan desainer memanfaatkan metaverse dan blockchain untuk mengoleksinya.

Prioritas China dalam memaanfaatkan teknologi metaverse di berbagai sektor industri. Dengan artian, China ingin meningkatkan kekuatan nasionalnya melalui metaverse.

Kedirgantaraan, biomedis, kendaraan otonom, pembangkit listrik tenaga nuklir, dan perlindungan kehutanan disebut sebagai bidang menjanjikan bagi metaverse China. Sampai-sampai, Universitas Sains dan Teknologi Informasi Nanjing mengganti nama Fakultas Teknik Informasi menjadi Fakultas Teknik Metaverse.

Hal ini berindikasi, China tidak mengembangkan metaverse di ranah pendidikan seni, desain, ataupun fesyen. Melainkan pada bidang sains, teknologi, teknik, matematika (STEM) dan meteorologi.

Namun, bukan berarti metaverse China mengesampingkan sisi hiburan di dalamnya. Hanya saja, China menempatkan sektor hiburan sebagai kepentingan sekunder dalam pendekatan Web 3.0 negara ini.

Diharapkan bahwa pasar metaverse di China akan mencapai 40 triliun yuan (USD5,79 triliun) pada tahun 2030, setara dengan 20 persen dari PDB China, dan produk elektronik dan perangkat yang dapat dikenakan di metaverse akan bernilai USD100 miliar. [faz]