Saat vaksin diluncurkan sejumlah pertanyaan masih bergelayut

·Bacaan 3 menit

Paris (AFP) - Negara-negara Eropa mengikuti Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara lain untuk mulai meluncurkan vaksin virus corona.

Perkembangan sangat cepat dan persetujuan vaksin telah disanjung di seluruh dunia, pertanyaan masih tentang ketersediaan, efektivitas dan efek samping dari suntikan vaksin itu.

Biasanya dibutuhkan sekitar 10 tahun untuk membuat dan memasarkan vaksin baru, tetapi proses itu dipercepat untuk Covid-19.

Vaksin yang dibuat oleh perusahaan Amerika Pfizer dan perusahaan Jerman BioNTech telah disetujui digunakan di Inggris pada 2 Desember. Ribuan orang lanjut usia sudah menerima dosis pertama.

Sebanyak 16 negara dan Uni Eropa telah memberikan lampu hijau kepada vaksin buatan Pfizer-BioNTech itu.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS memberikan otorisasi darurat untuk vaksin Pfizer-BioNTech dan suntikan vaksin lainnya dari perusahaan Amerika Moderna.

Rusia mulai vaksinasi 5 Desember dengan vaksin domestiknya Sputnik V yang masih dalam tahap ketiga uji klinis. China telah memberikan lampu hijau untuk penggunaan darurat beberapa vaksinnya meskipun belum ada yang disetujui secara resmi.

Sebanyak 16 vaksin sedang dalam tahap akhir pengembangan, termasuk yang sudah ada di pasaran, kata Organisasi Kesehatan Dunia.

Vaksinasi bisa dimulai Minggu setelah disetujuinya vaksin buatan Pfizer-BioNTech oleh European Medicines Agency (EMA).

Setiap negara anggota akan mengikuti dalam menentukan prioritas peluncuran vaksin mereka.

Tetapi tiga negara anggota -Jerman, Hungaria dan Slovakia- memulai vaksinasi sehari lebih awal pada Sabtu.

Sejak 9 November, empat produsen telah mengumumkan bahwa vaksin mereka efektif: Pfizer-BioNTech, Moderna, aliansi Inggris AstraZeneca-Universitas Oxford dan lembaga negara Rusia Gamaleia.

Pengumuman-pengumuman ini didasarkan pada uji klinis fase 3 yang melibatkan puluhan ribu relawan.

Namun, data rinci dan tervalidasi baru tersedia untuk vaksin buatan Pfizer-BioNTech dan AstraZeneca-Oxford.

Jurnal ilmiah The Lancet mengkonfirmasi pada 8 Desember bahwa vaksin AstraZeneca rata-rata efektif 70 persen.

FDA mengkonfirmasi vaksin Pfizer-BioNTech memiliki kemanjuran 95 persen, sedangkan Moderna mengklaim angka kemanjuran 94,1 persen untuk vaksinnya. Rusia mengklaim keampuhan 91,4 persen untuk vaksin Sputnik V.

Vaksin AstraZeneca-Oxford adalah yang paling murah sekitar 2,50 euro per dosis. Vaksin buatan Moderna dan Pfizer/BioNTech memiliki kendala logistik, karena hanya bisa disimpan dalam jangka panjang pada suhu yang sangat rendah (minus 20 derajat Celcius untuk Moderna dan minus 70 derajat Celcius untuk yang vaksin Pfizer/BioNTech).

Para pakar menegaskan bahwa mengingat uji klinis yang dilakukan terhadap puluhan ribu relawan, maka risiko besar apa pun pasti sudah terdeteksi. Tetapi efek samping yang lebih jarang atau yang mempengaruhi profil pasien tertentu, tidak boleh dikesampingkan.

Menurut FDA, vaksin buatan Pfizer-BioNTech dapat menyebabkan reaksi nyeri pada lengan tempat suntikan dilakukan. Efek samping lain yang tidak diinginkan termasuk kelelahan, sakit kepala, kram dan, lebih jarang lagi, demam.

Yang terpenting adalah kemanjuran dalam jangka panjang.

Penny Ward dari King's College di London mengatakan pertanyaan kuncinya adalah berapa lama perlindungan bakal bertahan dan dapatkah virus itu akhirnya bermutasi serta tidak lagi tercakup vaksin tersebut?

Pertanyaan penting lainnya adalah apakah vaksin itu bekerja secara berbeda pada populasi yang paling berisiko, dimulai dari manula yang lebih mungkin mengalami Covid-19 dalam bentuk serius.

Juga masih harus dilihat apakah vaksin ini menghalangi penularan virus dan juga mengurangi tingkat keparahan penyakit itu untuk mereka yang menerima suntikan vaksin.

Para pakar Uni Eropa meyakini bahwa vaksin untuk melawan Covid-19 yang ada saat ini tetap efektif melawan jenis virus baru yang terdeteksi di Inggris dan di tempat lain yang dianggap lebih menular.

"Saat ini tak ada bukti yang menunjukkan" bahwa vaksin Pfizer-BioNTech "tidak efektif melawan varian baru itu", kata EMA.

Co-director laboratorium BioNTech di Jerman, Ugur Sahin, mengamini pesan itu seraya menambahkan bahwa perusahaannya bagaimanapun juga akan berada dalam posisi menyediakan vaksin untuk jenis baru Covid-19 dalam kurun enam pekan.

bur-abb-arb/spm-har