Sabar Menjemput Berkah di Raudhah

Merdeka.com - Merdeka.com - Subuh berjemaah baru saja selesai di Masjid Nabawi pagi itu. Tetapi area pelataran masih cukup ramai.

Kebanyakan jemaah memang tidak langsung pulang. Banyak hal mereka lakukan. Tetap beribadah di masjid seperti mengaji dan salat sunah. Atau sekadar menikmati suasana fajar di Nabawi sambil merekam video dan swafoto dengan ponselnya.

Salah satu momen paling ditunggu jemaah usai salat subuh adalah ketika payung-payung raksasa di pelataran masjid mengembang secara perlahan. Banyak jemaah kemudian mengabdikan momen itu.

"MasyaAllah, oo begini ternyata kalau mau mengembang payungnya," kata Wati, jemaah kloter 16.

sabar menjemput berkah di raudhah
sabar menjemput berkah di raudhah

Jemaah duduk di Masjid Nabawi. ©2022 Merdeka.com/Lia Harahap

Wati adalah salah satu dari sekian banyak jemaah Indonesia yang bertahan di Masjid Nabawi pagi ini. Di sudut lainnya, sekumpulan ibu-ibu berbusana muslim sudah duduk manis di karpet di depan pintu pagar 337. Padahal, jam masih menunjukkan pukul 6 lebih waktu Arab Saudi. Pendar matahari pun masih terlihat samar.

Keberadaan mereka demi mengantre masuk Raudhah, tempat di antara mimbar dan makam Rasulullah yang ada di dalam Masjid Nabawi. Raudhah disebut juga sebagai tempat mustajabnya doa.

Mereka memilih datang lebih awal, karena sadar jemaah dari penjuru dunia yang tiba ke Madinah pasti ingin ke Raudhah.

"Kita belum pulang mau antre Raudhah," kata Sartika, jemaah dari JKG 11.

Sistem Digital dan Tasrih

Sejak pandemi, Arab Saudi menerapkan sistem digital untuk jemaah yang ingin masuk ke Raudhah. Bisa mendaftar lewat aplikasi eatmarna. Cara lainnya, menggunakan tasrih atau surat izin di mana data jemaah yang akan ke Raudhah sudah diinput termasuk waktu dan jamnya berdasarkan kloter. Hari itu, Sartika dan jemaah JKG 11 akan masuk Raudhah menggunakan tasrih.

Penggunaan tasrih bertujuan memudahkan jemaah haji Indonesia yang terkendala menggunakan layanan aplikasi eatmarna. Melalui tasrih, jemaah tidak lagi perlu mengeluarkan ponsel. Apalagi untuk mereka yang waktunya sudah mepet dengan keberangkatan ke Makkah.

Sembari menunggu waktu diizinkan masuk, jemaah tampak sesekali mengobrol satu sama lain. Raut lelah tak bisa ditutupi dari wajah mereka. Tetapi dikalahkan dengan semangat ingin mendatangi Raudhah.

"Saya mau panjatkan doa-doa terbaik di Raudhah," katanya.

Lebih Nyaman dan Tertib

sabar menjemput berkah di raudhah
sabar menjemput berkah di raudhah

Petugas memberi pengarahan kepada jemaah. ©2022 Merdeka.com/Lia Harahap

Petugas dari tenaga pendukung juga memberikan arahan bagaimana dan apa yang harus dilakukan jemaah ketika berada di Raudhah. Jangan sampai, waktu yang dibatasi habis tetapi jemaah tidak memahami niatnya ke Raudhah.

"Sudah tiga kali gagal, semoga hari ini bisa masuk," kata jemaah lainnya.

Sartika mengaku baru sekali masuk Raudhah. Dia berharap semua jemaah yang sudah atau belum waktunya, mau bergantian memberikan pada yang belum masuk Raudhah. Itu sebabnya, kata dia, penggunaan tasrih sangat membantu jemaah lebih tertib dan nyaman ketika ibadah di Raudhah karena pengunjung dibatasi.

"Keren tasrih buat jemaah lebih tertib dan nyaman. Tinggal sabar sedikit dan mau tertib, karena kalau tidak tertib, waktu sempit, dan banyak orang, sehingga pelaksanaannya tidak maksimal."

Diberi Waktu 10 Menit

Petugas Masjid Nabawi akhirnya memberi instruksi Raudhah sudah dibuka. Jemaah masuk satu per satu dengan membuat satu baris ke belakang. Tak hanya yang muda, para lansia tak kalah semangatnya.

Mereka masuk dari salah satu pintu masjid area perempuan. Setelah di dalam masjid, jemaah kemudian diarahkan ke titik tunggu. Sampai akhirnya mereka dipersilakan masuk Raudhah dan diberikan waktu 10 menit untuk beribadah.

Jemaah merasa senang. Tasrih yang dibuat pemerintah dan Saudi sangat membantu jemaah.

"Makanya tadi saya di dalam puas-puasin tu 10 menit salat sunah dan doa," ungkapnya.

Pintu Berbeda untuk Jemaah Laki-Laki

sabar menjemput berkah di raudhah
sabar menjemput berkah di raudhah

Antrean jemaah laki-laki. ©2022 Merdeka.com/Lia Harahap

Antrean menuju Raudhah menggunakan tasrih juga dilakukan jemaah laki-laki. Tetapi antrean dilakukan di tempat berbeda. Pintu menuju Raudhahnya berbeda, begitu pula jamnya.

Pantauan tim MCH beberapa hari lalu, lokasi mengantre tidak berdekatan dengan lokasi payung raksasa. Kondisi tersebut membuat jemaah ekstra sabar karena sembari membuat barisan rapi, mereka harus terpapar teriknya matahari sore itu. Tak hanya jemaah Indonesia, jemaah dari negara lain juga melakukan hal yang sama. Ada yang menutup kepala dengan syal, ada pula yang menggunakan payung. Tetapi mereka tetap bersabar.

"Ini lebih tertib, saya sudah pernah sekali sebelumnya malam ke Raudhah," kata Atang, jemaah kloter JKS-6.

"Betul, begini lebih terarah tertib walaupun harus sabar menunggu antre," timpal jemaah Atang asal JKS-6 lainnya.

Tetapi sedikit kendala terjadi. Setelah beberapa saat antre, waktu masuk Raudhah untuk jemaah laki-laki Indonesia dikabarkan selesai. Mereka terpaksa putar balik dengan wajah kecewa.

Padahal sebelumnya, mereka senang penggunaan tasrih bisa memudahkan masuk Raudhah.

Tasrih Banyak Dipuji

sabar menjemput berkah di raudhah
sabar menjemput berkah di raudhah

Jemaah sabar menunggu giliran masuk Raudhah. ©2022 Merdeka.com/Lia Harahap

Kasektorsus Masjid Nabawi Miftahudin Djabby menambahkan, secara pribadi dirinya sempat pesimis penggunaan tasrih berhasil. Tetapi fakta di lapangan, katanya, justru banyak dipuji, khususnya oleh jemaah perempuan karena lebih mudah.

"Saya awalnya diskusi panjang lebar dan khawatir berjalan tidak baik. Tapi Alhamdulillah laporan kita terima lebih baik dan teratur, katanya.

Sementara untuk jemaah laki-laki, katanya, proses izin tasrih menjadi tanggung jawab ketua kloter dan bimbingan ibadah kloter. Meski demikian, pihaknya tetap memantau dan melaporkan kondisi di lapangan pada kantor daker.

"Keluhan kami terima banyak tidak teratur, agak kurang teratur. Tapi sudah kami laporkan ke daker," jelasnya.

Keistimewaan Raudhah

Raudhah menjadi salah satu lokasi tujuan jemaah saat berada di Kompleks Masjid Nabawi. Selain mengerjakan arbain, hal yang paling ditunggu-tunggu jemaah adalah bisa berkunjung ke Raudhah. Keinginan jemaah dari berbagai dunia mendatangi Raudhah bukan tanpa alasan. Sebab Raudhah juga disebut sebagai taman surga. Karena letaknya di antara mimbar dan makam Rasulullah.

"Rasullullah mengatakan seperti ini mungkin secara tasawuf, tempat itu kalau ditarik garis lurus ke atas tempatnya surga," kata konsultan ibadah haji Daerah Kerja Madinah, Kiai Wazir.

Itu sebabnya, dia menyarankan jemaah yang berada di Madinah menyempatkan diri mendatangi Raudhah dan berziarah ke makam Rasulullah.

"Secara etika, jemaah haji itu tamunya Allah sekaligus tamunya Rasulullah SAW. Oleh karena itu, jemaah haji yang menginjakkan kakinya di Madinah setidaknya sowan ke yang punya rumah. Jangan sampai sudah seminggu di Madinah tidak ziarah. Secara etika tidak baik," katanya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel