Sabisa, Terobosan Memajukan Ekonomi Desa Jawa Barat di Era Digital

Mohammad Arief Hidayat, Adi Suparman (Bandung)
·Bacaan 1 menit

VIVA – Para pelaku usaha di pelosok desa di Jawa Barat didorong untuk mengubah pola berdagang dengan digitalisasi agar mampu menyentuh pasar global dan mengangkat potensi desa. Pelaku usaha yang dinaungi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dilatih dalam program Sakola Bisnis Desa (Sabisa) untuk meningkatkan keterampilan enterpreneur atau kewirausahaan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa Barat Bambang Tirtoyuliono menjelaskan, pelatihan itu ditargetkan bagi pelaku usaha mampu menciptakan model wirausaha baru meningkatkan ekonomi pelosok.

"Melalui Sabisa diharapkan BUMDesa mampu bertransformasi menjadi model usaha yang lebih profesional untuk memajukan perekonomian masyarakat pedesaan," ujar Bambang.

Dinas mencatat terdapat 4.921 BUMDes dari 5.312 desa di Jawa Barat. Bambang mengakui belum semua perangkat desa sulit mempunyai keterampilan meningkatkan wirausaha pada level domestik dan nasional. "Mereka diajari cara menggali potensi desanya seperti apa, bagaimana cara untuk menjual produknya, termasuk dengan membentuk pasarnya seperti apa," katanya.

Menurutnya, para pelaku usaha harus mampu menciptakan produk yang dibutuhkan pasar di tengah pandemi COVID-19. "Harus menciptakan produk yang dibutuhkan pasar, yang akan laku di pasar. Ada rantai nilainya juga, berperan dari hulu ke hilir. Mana desa berperan di hulu, mana di hilir. Jadi bisa membenahi rantai pasok," katanya.

Para pelaku usaha itu juga harus mampu keluar dari ketergantungan produk atau komponen impor dan harus terbiasa berinovasi dari potensi daerahnya. Mereka diharapkan menjadi contoh bagi BUMDesa yang lain tentang pengelolaan dan model bisnis yang bagus.

Bambang juga menekankan perangkat desa untuk berperan aktif dalam meningkatkan derajat ekonomi pelosok. Dia tidak ingin situasi bahwa pada dasarnya warga desa ingin maju tetapi pemerintah desa tidak mendukung mereka.

Di era digital seperti sekarang, kata Bambang, para kepala desa dan pengurus BUMDes harus mampu melihat dan memanfaatkan perubahan. “Perlu kolaborasi, [karena] saat ini kekuatannya di sumber daya manusia yang harus kreatif.