Saham Asia akhir pekan dibuka melemah, yen stabil jelang keputusan BoJ

Saham-saham Asia melemah pada awal perdagangan Jumat, karena investor bergulat dengan laporan pendapatan perusahaan yang beragam, sementara yen Jepang bertahan menjelang tinjauan kebijakan Bank Sentral Jepang (BoJ).

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,32 persen, bersiap untuk menghentikan kenaikan beruntun tiga hari. Indeks turun hampir 3,0 persen untuk bulan ini dan 30 persen untuk tahun ini.

Nikkei Jepang merosot 1,33 persen, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia kehilangan 0,55 persen. Pasar saham China turun 0,60 persen, dengan Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,5 persen.

Saham China mengalami minggu yang berat, dengan investor terhuyung-huyung dari aksi jual brutal Senin (24/10/2022). Angka laba industri yang suram dan meluasnya wabah COVID-19 juga membebani sentimen.

Pada Kamis (27/10/2022), Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga lagi, tetapi mengatakan kemajuan "substansial" telah dibuat dalam upayanya untuk melawan lonjakan inflasi.

Komentar yang kurang hawkish dari ECB menambah ekspektasi bahwa bank-bank sentral kemungkinan akan memperlambat laju kenaikan suku bunga mereka, terutama setelah Bank Sentral Kanada (BoC) mengejutkan pasar dengan memberikan kenaikan suku bunga yang lebih kecil dari perkiraan pada Rabu (26/10/2022).

Ahli Strategi Mata Uang Senior National Australia Bank, Rodrigo Catril, mengatakan ECB memberikan kenaikan 75 basis poin seperti yang diperkirakan, tetapi kedengarannya kurang berkomitmen pada kenaikan suku bunga di masa depan.

Pasar suku bunga mendukung gagasan potensi perlambatan dari bank-bank sentral dalam hal laju kenaikan suku bunga, Catril menambahkan.

Baca juga: Saham Asia jatuh, pasar kehilangan selera risiko & yield obligasi naik

Fokus sekarang bergeser ke keputusan kebijakan moneter pada Jumat dari BoJ, ketidaksepakatan dovish di antara bank-bank sentral utama dunia, bersama dengan pengarahan pasca-pertemuan Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda.

Bank Sentral Jepang diatur untuk mempertahankan suku bunga ultra-rendah dan mengingatkan pasar akan tetap menjadi pengecualian dovish di antara gelombang pengetatan kebijakan moneter bank-bank sentral.

Inflasi konsumen inti di ibu kota Jepang Tokyo, yang dianggap sebagai indikator utama angka nasional, mencapai tertinggi 33 tahun di 3,4 persen pada Oktober, data menunjukkan pada Jumat. Inflasi di wilayah Tokyo dengan demikian melebihi target 2,0 persen bank sentral selama lima bulan berturut-turut.

"Kami tidak berpikir tingkat inflasi yang jauh lebih cepat pagi ini akan mengubah keputusan kebijakan BoJ hari ini," kata ekonom ING dalam sebuah catatan, menambahkan bank sentral Jepang mengambil pandangan yang berbeda dari ECB.

"Jika inflasi tidak didorong oleh faktor sisi permintaan, mereka tidak akan mengubah sikap kebijakan yang longgar dan sepertinya mereka percaya ini akan menjaga kredibilitas mereka."

Kebijakan ultra-longgar BoJ telah membantu memicu penurunan tajam yen yang meningkatkan biaya impor bahan bakar dan bahan baku yang sudah mahal, mendorong pemerintah untuk intervensi di pasar untuk menopang mata uang.

Yen terakhir dibeli 146,47 per dolar, dan berada di jalur untuk kenaikan mingguan hampir 1,0 persen, terbesar sejak Agustus.

Euro naik 0,18 persen pada 0,998 dolar, menyusul penurunan lebih dari 1,0 persen semalam, setelah nada dovish dari ECB.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama laiinya, turun 0,1 persen setelah naik hampir 0,8 persen semalam.

Sementara itu Amazon.com memperkirakan perlambatan pertumbuhan penjualan untuk musim liburan, sementara Intel memangkas perkiraan laba dan pendapatan setahun penuh, memicu lebih banyak kekhawatiran akan perlambatan ekonomi.

Hasil suram dari Amazon pada Kamis (27/10/2022) menambah serangkaian laporan suram dari perusahaan Big Tech, dengan lebih dari 200 miliar dolar AS nilai pasar saham AS menguap dalam perdagangan yang diperpanjang pada hari itu.

Baca juga: Saham Asia naik, terkerek perubahan kebijakan fiskal Inggris