Saham Asia beragam di tengah kekhawatiran Omicron dan inflasi

·Bacaan 2 menit

Pergerakan pasar saham di sejumlah negara di Asia bervariasi pada perdagangan Senin, dengan ekuitas Malaysia dan Filipina jatuh paling banyak, sementara mata uang melemah karena kekhawatiran atas varian Omicron dan inflasi menekan sebagian besar mata uang negara berkembang di hari pertama perdagangan tahun ini.

Indeks saham Malaysia (KLSE) turun sebanyak 1,18 persen untuk menandai penurunan harian terburuk dalam dua bulan ketika negara tersebut mengalami situasi banjir yang parah di beberapa negara bagian, sementara saham di Korea Selatan, Indonesia dan India mencatatkan kenaikan moderat.

Di antara mata uang, won Korea Selatan tergelincir hingga 0,4 persen ke level terendah dalam hampir dua minggu, sementara ringgit Malaysia, dolar Singapura dan rupiah Indonesia melemah sekitar 0,2 persen.

Investor di pasar Asia yang sensitif terhadap risiko mengamati dengan cermat bagaimana Federal Reserve AS akan mengurangi kebijakan moneternya, ketika AS menghadapi risiko ekonomi dari varian Omicron dan kenaikan tingkat inflasi.

Di Asia, bank-bank sentral ingin mempertahankan suku bunga rendah untuk mengimbangi dampak pada ekonomi mereka dari lonjakan kasus COVID-19, tanpa membiarkan mata uang mereka rentan terhadap kekuatan dolar yang berlebihan ketika The Fed mulai menarik stimulus.

Analis di Mizuho Bank memperkirakan pemulihan ekonomi global "tidak sinkron" dimana pasar negara berkembang mengikuti pasar negara maju, rentan terhadap penularan, pengetatan moneter AS atau risiko kredit China.

"Dilema kebijakan untuk EM (emerging markets) Asia akan memburuk karena kebijakan fiskal, meskipun bandwidth-nya melebar, tetap menjadi andalan untuk dukungan pertumbuhan, sementara kebijakan moneter terjebak dalam gelombang yang berbeda dari pemulihan ekonomi domestik yang lebih lambat dan kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed," kata analis di Mizuho Bank.

Di antara ekuitas regional, saham Korea Selatan terangkat 0,37 persen, didukung oleh data ekspor yang kuat, sementara ekuitas Indonesia melonjak 1,27 persen dan Nifty 50 India naik hampir 1,6 persen dalam sesi dengan volume perdagangan yang tipis.

Saham Filipina jatuh 1,14 persen setelah pemerintah pada Jumat malam (31/12/2021) mengatakan akan memberlakukan pembatasan yang lebih ketat di wilayah ibu kota selama dua minggu mendatang untuk membatasi infeksi Omicron.

Saham Singapura (STI) terangkat 0,34 persen karena data menunjukkan ekonomi negara kota itu berkembang pada laju tahunan tercepat dalam lebih dari satu dekade pada tahun 2021, menunjukkan tanda-tanda bahwa pemulihan sedang berlangsung setelah catat resesi terburuk.

Analis di Citi memperkirakan peningkatan yang berkelanjutan dalam cakupan vaksinasi yang sudah tinggi di Singapura untuk memfasilitasi transisi bertahap ke fase endemik, membatasi kerusakan dari kekambuhan infeksi di masa depan, termasuk dari Omicron.

"Dengan momentum kuartal keempat yang kuat yang meningkatkan titik awal untuk 2022, kami memperkirakan risiko positif ke perkiraan PDB 4,0 persen untuk 2022, terutama jika pembukaan kembali secara bertahap menjaga momentum pertumbuhan di atas tren pada paruh pertama 2022," tambah mereka.

Pasar di Thailand, Vietnam, China, Jepang, Australia dan Selandia Baru ditutup untuk hari libur.

Baca juga: Saham Asia lesu, penyebaran Omicron bayangi hari perdagangan terakhir
Baca juga: Saham Asia tergelincir saat investor bersiap untuk akhir tahun 2021
Baca juga: Saham Asia naik dan yen jatuh, investor abaikan kekhawatiran Omicron

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel