Saham Asia beragam, sementara minyak turun karena prospek COVID China

Pasar saham Asia bervariasi pada awal perdagangan Selasa pagi, dan minyak melemah karena investor berusaha mencerna implikasi ekonomi dari penyesuaian kebijakan COVID China dan paket penyelamatan untuk sektor properti negara yang sedang kesulitan.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,1 persen, menyusul penurunan ringan untuk Wall Street semalam.

Indeks S&P/ASX 200 saham Australia kehilangan 0,28 persen, sedangkan indeks saham Nikkei Jepang turun 0,16 persen. Di Hong Kong, Indeks Hang Seng datar, sementara indeks saham unggulan CSI300 China melemah 0,3 persen.

Beberapa kota di China telah mulai menghentikan pengujian komunitas rutin, beberapa hari setelah China mengumumkan pelonggaran beberapa tindakan virus corona yang berat. Namun, pada saat yang sama, jumlah kasus COVID di negara tersebut telah bertambah.

Saham properti China menyerah dari beberapa kenaikan tajam yang dibuat sehari sebelumnya di tengah paket penyelamatan.

Kepala Investasi China Credit Suisse, Jack Siu, mengatakan bahwa "sementara perubahan COVID dan paket perumahan akan meringankan beberapa risiko penurunan, itu belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi China secara berarti."

Baca juga: Saham China perpanjang kerugian, Indeks Shanghai turun 0,07 persen

Data China yang keluar pada Selasa juga tidak menggembirakan.

Produksi industri naik 5,0 persen pada Oktober dari setahun sebelumnya, melambat dari laju 6,3 persen yang terlihat pada September sementara penjualan ritel turun 0,5 persen, penurunan pertama sejak Mei ketika Shanghai di bawah penguncian seluruh kota. Analis memperkirakan penjualan ritel naik 1,0 persen.

Minyak turun di tengah kekhawatiran China dapat memberlakukan penguncian lebih lanjut di beberapa kota. Minyak mentah AS turun 0,43 persen menjadi 85,43 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent turun 0,2 persen menjadi 92,81 dolar AS per barel.

China melaporkan 17.909 infeksi COVID-19 baru pada 14 November dibandingkan dengan 16.203 sehari sebelumnya.

"Jumlah kasus yang melonjak terus menjadi risiko utama penurunan. Putaran penguncian lainnya tidak dapat dikesampingkan jika kasus terus meningkat," kata ekonom ANZ pada Selasa.

Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Presiden AS Joe Biden pada pertemuan G20 di Bali pada Senin (14/11/2022) malam, tetapi pembicaraan tersebut gagal memicu reaksi pasar keuangan utama.

Pada jam Asia, Bitcoin naik 1,1 persen menjadi 16.593 dolar AS. Regulator A.S membuka penyelidikan atas runtuhnya bursa kripto FTX, sementara bursa kripto besar lainnya telah bergegas untuk meyakinkan investor tentang stabilitas mereka dalam kejatuhan FTX. Bitcoin tetap turun 64,2 persen sejauh tahun ini.

Inflasi di Amerika Serikat tetap menjadi perhatian utama banyak investor global yang menunggu data indeks harga produsen pada Selasa nanti.

Dolar naik 0,34 persen terhadap yen menjadi 140,15. Masih jauh dari level tertinggi tahun ini di 151,94 pada 21 Oktober.

Baca juga: Dolar AS "rebound," menguat setelah penurunan tajam minggu sebelumnya

Mata uang tunggal Eropa turun 0,1 persen pada 1,0317 dolar, setelah naik 4,4 persen dalam sebulan, sementara indeks dolar, yang melacak greenback terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama lainnya, sebagian besar datar di 106,99.

Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun naik menjadi 3,8686 persen dibandingkan dengan penutupan AS sebesar 3,867 persen pada Senin (14/11/2022).

Imbal hasil dua tahun, yang naik bersama ekspektasi pedagang akan suku bunga dana Fed yang lebih tinggi, menyentuh 4,4014 persen dibandingkan dengan penutupan AS sebesar 4,408 persen.

Emas sedikit lebih rendah, dengan emas spot diperdagangkan di 1.768,22 dolar AS per ounce.

Baca juga: Harga emas terdongkrak 7,50 dolar, dipicu komentar pejabat The Fed