Saham Asia dibuka naik tipis, dolar stabil, fokus pada data IHK AS

Pasar ekuitas Asia sedikit lebih tinggi pada awal perdagangan Rabu pagi, sementara dolar stabil karena investor bersiap untuk data inflasi AS yang akan mempengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang menguat 0,28 persen, sementara indeks Nikkei Jepang dibuka naik 1,0 persen dan indeks S&P/ASX 200 Australia terangkat 0,80 persen.

Sementara pembukaan kembali China dari kontrol pandemi telah meningkatkan sentimen investor, dengan saham di negara itu dan Hong Kong memulai tahun ini dengan reli kuat, beberapa investor telah mengambil keuntungan karena keraguan atas keberlanjutan rebound pasar.

Saham China dibuka 0,1 persen lebih tinggi, sementara indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,6 persen pada awal sesi.

Semalam, saham AS berakhir lebih tinggi karena investor menghela nafas lega setelah Ketua Fed Jerome Powell menahan diri dalam pidatonya untuk mengomentari kebijakan suku bunga, tetapi mengatakan independensi Fed sangat penting untuk memerangi inflasi.

"Dengan beberapa harapan bahwa Powell kemungkinan akan mendorong kembali pelonggaran kondisi keuangan, pasar ekuitas merayakan kurangnya panduan yang jelas tentang arah kebijakan," kata ahli strategi Saxo.

Perhatian investor akan tertuju pada indeks harga konsumen (IHK) AS, yang dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (12/1). Data diharapkan menunjukkan inflasi tahunan utama Desember di 6,5 persen, dibandingkan 7,1 persen pada November.

Data Kamis (12/1) akan sangat penting dalam menentukan apa yang kemungkinan akan dilakukan Fed dengan suku bunga dalam pertemuan berikutnya di awal bulan depan.

Bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Desember setelah empat kenaikan berturut-turut sebesar 75 basis poin pada 2022, tetapi telah menegaskan kembali bahwa akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama untuk menjinakkan inflasi.

Investor bertaruh bahwa laporan inflasi yang akan datang dapat menunjukkan perlambatan lebih lanjut, berpotensi memberikan ruang bagi Fed untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga, kata Stephen Wu, ekonom di Commonwealth Bank of Australia.

Ahli strategi Saxo mengatakan meskipun Powell relatif diam tentang prospek kebijakan, ada pembicara Fed dan non-Fed lainnya pada Selasa (10/1) yang terus terdengar hawkish dan meningkatkan kewaspadaan terhadap inflasi.

Gubernur Federal Reserve Michelle Bowman mengatakan pada Selasa (10/1) bahwa bank sentral harus menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk memerangi inflasi yang tinggi dan kemungkinan akan menyebabkan kondisi pasar kerja yang lebih lemah.

Chief Executive Officer JPMorgan Chase & Co Jamie Dimon mengatakan ketidakpastian ekonomi yang meningkat dapat mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga menjadi 5,0 persen.

Di pasar valuta asing, dolar Australia naik 0,3 persen setelah data menunjukkan laju inflasi tahunan meningkat menjadi 7,3 persen pada November. Dolar Selandia Baru naik 0,2 persen.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,058 persen menjadi 103,31, melayang mendekati level terendah tujuh bulan.

Yen Jepang melemah 0,05 persen menjadi 132,33 per dolar, sementara sterling terakhir diperdagangkan pada 1,2146 dolar, turun 0,07 persen.

Hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun turun 1,3 basis poin menjadi 3,606 persen, sedangkan hasil pada obligasi obligasi 30-tahun turun 1,5 basis poin menjadi 3,739 persen. Imbal hasil obligasi AS dua tahun, yang biasanya bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga, turun 1,7 basis poin menjadi 4,241 persen.

Minyak mentah AS turun 0,71 persen menjadi diperdagangkan di 74,59 dolar AS per barel dan Brent turun 0,67 persen menjadi diperdagangkan di 79,56 dolar AS per barel.

Baca juga: Saham Asia menguat dipicu harapan bunga AS dan pembukaan kembali China