Saham Asia melemah, sementara euro merosot akibat krisis energi

Saham-saham Asia tergelincir pada awal perdagangan Senin, sementara euro merosot setelah Rusia menutup pipa gas utama ke Eropa, membuat beberapa pemerintah di sana mengumumkan langkah-langkah darurat untuk mengurangi rasa sakit akibat melonjaknya harga energi.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,1 persen dan indeks Nikkei Jepang turun 0,3 persen. Indeks Hang Seng Kong Kong menyusut 0,7 persen, saham unggulan China CSI300 berkurang 0,5 persen, indeks ASX 200 Australia datar dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,2 persen.

Wall Street bernasib lebih baik karena kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,3 persen dan kontrak berjangka Nasdaq terdongkrak 0,2 persen, meskipun kontrak berjangka EUROSTOXX 50 diperkirakan akan dibuka lebih rendah.

Euro terpangkas 0,4 persen menjadi diperdagangkan di 0,9908 dolar dan tampaknya akan menguji level terendah 20-tahun baru-baru ini di 0,90005 dolar karena pasar memperkirakan lebih banyak risiko resesi Eropa.

Jerman mengumumkan rencana untuk menghabiskan 65 miliar euro (64,7 miliar dolar AS) untuk melindungi pelanggan dan bisnis dari kenaikan biaya-biaya, sementara Finlandia dan Swedia menawarkan jaminan likuiditas untuk menjaga perusahaan listrik tetap buka.

Harga minyak melonjak bersama dengan seluruh kompleks energi karena hari libur di pasar AS membuat kondisi perdagangan tipis. Berita tentang lebih banyak penguncian virus corona di China hanya menambah suasana gelisah.

Krisis energi merupakan komplikasi tambahan bagi Bank Sentral Eropa (ECB) ketika bertemu minggu ini untuk mempertimbangkan berapa banyak buat menaikkan suku bunga.

"Eropa dihadapkan dengan prospek energi yang mengerikan, dengan banyak anekdot perusahaan mengurangi produksi," kata Tapas Strickland, kepala ekonomi pasar di NAB.

"ECB pasti akan memutuskan untuk menaikkan suku minggu ini," tambahnya, "Pasar hampir sepenuhnya menetapkan perkiraan kenaikan 75 basis poin setelah banyak pejabat ECB mengatakan mereka condong ke arah itu, meskipun masih ada kemungkinan perdebatan sekitar 50 vs 75."

Baca juga: Saham Asia merosot jelang laporan data pekerjaan AS

Bank sentral di Kanada dan Australia juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga minggu ini, sementara Ketua Federal Reserve Jerome Powell dan beberapa pembuat kebijakan lainnya akan muncul dan kemungkinan akan terdengar hawkish tentang inflasi.

Sementara laporan pekerjaan AS Agustus menunjukkan beberapa tanda yang disambut baik di pasar tenaga kerja, investor masih condong ke arah kenaikan 75 basis poin dari The Fed bulan ini.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun turun hampir 12 basis poin pada Jumat (2/9/2022) dan berjangka diperdagangkan datar pada Senin di tengah penghindaran risiko umum.

Pergeseran ke tempat yang lebih aman kembali menguntungkan dolar AS, yang mencapai tertinggi dua dekade lainnya terhadap sekeranjang mata uang utama di 110,040.

Dolar menguat di 140,50 yen, sedikit di bawah puncak 24 tahun Jumat (2/9/2022) di 140,80.

Sterling berjuang di 1,1481 dolar, setelah menyelam sedalam 1,1458 dolar dan level terakhir terlihat pada Maret 2020 pada awal pandemi.

"Kami sekarang memperkirakan kurs euro/dolar dan sterling/dolar masing-masing mencapai 0,90 dolar dan 1,05 dolar tahun depan karena perlambatan ekonomi dan guncangan perdagangan yang melanda kawasan itu," kata Jonas Goltermann, ekonom senior di Capital Economics.

Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss mengatakan pada Minggu (4/9/2022) bahwa dia akan segera mengambil tindakan dalam minggu pertama kekuasaannya untuk mengatasi kenaikan tagihan energi dan meningkatkan pasokan energi jika dia, seperti yang diperkirakan, ditunjuk sebagai perdana menteri pada Senin.

Dolar yang kuat membuat emas tetap datar di 1.709 dolar per ounce.

Harga minyak didukung oleh ekspektasi harga gas akan melonjak di Eropa di kemudian hari.

"Pada akhirnya, Jerman perlu memangkas konsumsi gas alam sebesar 15 persen agar fasilitas penyimpanan gas tidak kosong," kata analis di ANZ. "Penjatahan gas terlihat sangat mungkin, karena bahkan pada 95 persen penuh, penyimpanan hanya akan bertahan 2,5 bulan."

OPEC+ akan bertemu pada Senin dan kemungkinan akan mempertahankan kuota produksi minyak tidak berubah untuk Oktober, meskipun beberapa sumber tidak akan mengesampingkan pengurangan produksi kecil untuk mendukung harga yang telah turun karena kekhawatiran perlambatan ekonomi.

Brent naik 1,54 dolar AS menjadi diperdagangkan di 94,56 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 1,38 dolar AS menjadi diperdagangkan di 88,25 dolar AS per barel.

Baca juga: Pasar saham Asia bervariasi jelang laporan data pekerjaan AS

Baca juga: Saham Asia merosot memasuki September, sementara dolar AS melonjak